FAQ #1 – Why I’m Being a Liberal?

Sharing is caring!

Kenapa saya menjadi Liberal?

(English version provided here: https://youtu.be/hoeTVncOuoY)

Pertanyaan yang menarik. Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan personal statement yang mana mungkin sudah dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai buku yang sudah saya baca, namun sudah saya adopsi dan modifikasi sesuai dengan pengalaman hidup yang membentuk saya.

Perlu diketahui bahwa memilih menganut ideologi tertentu sangat bergantung pada bagaimana kamu memandang hidup ini. Bagaimana sebaiknya hidup ini berjalan? Apa tujuanmu dalam hidup? Bagaimana peradaban ideal yang kamu impikan? Dan seterusnya. Hal-hal ini membuat satu ideologi tidak dapat secara langsung dibandingkan dengan ideologi lainnya kecuali mereka memiliki aksioma (iman pada standar ideal) yang sama.

Contoh: Tujuan akhir dari Liberalisme adalah kebebasan individu, sementara tujuan akhir dari Islamisme adalah Surga. Keduanya tidak bisa diperbandingkan, mana yang lebih baik, karena goal akhir yang berbeda. Untuk memahami ini, maka perlu saya tegaskan syahadat iman Liberalisme adalah the right is prior to the goods. Dapat dilihat bahwa moralitas tertinggi bagi seorang Liberal adalah HAK INDIVIDU. Setidaknya, itulah Liberalisme yang saya kenal dan saya imani.

Kenapa hak individu ini penting bagi saya?

Karena saya percaya pada hakikat manusia untuk hidup merdeka. Manusia pantas mendapatkan otonomi penuh atas tubuhnya karena dia adalah subjek tertinggi untuk tubuhnya, termasuk pikiran di dalamnya. Meskipun individu muncul sebagai implikasi atas kehendak dua individu lain yang membenturkan ovum dan sperma mereka dalam suatu waktu yang acak, saya tetap memandang kedua individu induk tidak dapat dianggap sebagai subjek yang lebih otoritatif dari individu itu sendiri dalam kaitannya dengan otonomi tubuh.

Kenapa individu saya anggap pantas menjadi otoritas tertinggi atas tubuhnya?

Karena saya percaya pada pentingnya kemandirian dalam mengeliminasi masalah dalam dunia ini di mana dalam pandangan saya secara sederhana dapat dilihat sebagai “sesuatu yang tidak diinginkan” (unwanted things). Hidup yang ideal adalah ketika hidup memberikan kita apa yang kita inginkan.

Agar lebih banyak individu dapat meraih apa yang mereka inginkan, mereka perlu dimampukan mengurus dirinya sendiri dan tidak menjadi parasit pada manusia lain. Untuk mencapai kondisi ini, individu perlu pertama-tama diberikan otoritas untuk mengelola dirinya dan mencapai apa yang baik baginya.

Bagaimana kalau yang diinginkan individu adalah kematian?

Bagi saya, itu tidak masalah. Karena, yang terpenting adalah bagaimana individu tidak menjadi parasit, sehingga risiko atas putusannya menghasilkan eksternalitas yang seminimal mungkin terhadap individu lain. Di sinilah bedanya Liberalisme dengan agama samawi yang mengedepankan hidup. Kamu wajib hidup bukan berhak hidup dan yang berhak atas hidupmu adalah makhluk yang belum jelas keberadaannya alias the super being.

Liberalisme ingin membuka kesempatan yang sebesar-besarnya untuk kamu dapat mencapai apa yang kamu inginkan, sejauh hal itu berada dalam cakupan otonomi kamu. Di sinilah batasan keinginanmu yang dapat dicapai lewat pendekatan liberal; yakni jangkauan otonomi diri yang dibatasi oleh hak milik. Apabila suatu keadaan yang ingin kamu capai berada di luar batas propertimu dan merupakan eksternalitas yang mengintervensi properti individu lain, maka itu salah dan merupakan musuh yang harus dilawan dalam peradaban Liberal.

Tampak bahwa pilihan adalah apa yang menjadi utama dalam Liberalisme. Pilihan ini harus diberikan secara individual dan seperti yang sebelumnya sudah saya sebutkan, sebisa mungkin diminimalisasi pengaruhnya dari dan terhadap pilihan individu lain.

Kenapa saya memandang ruang untuk memilih adalah hal yang paling penting untuk diberikan pada individu?

Di sinilah aksioma saya. Saya percaya Homo sapiens telah menempuh evolusi yang begitu panjang untuk memiliki kemampuan bertahan dan intervensi dari pihak lain terhadap proses memilih dalam menentukan pilihan yang terbaik bagi individu hanya akan membuahkan pilihan yang lebih buruk. Adapun intervensi yang boleh dilakukan oleh individu lain adalah semata-mata sebagai upaya penyempurnaan informasi.

Ketimbang memberitahu saya bahwa makan wortel lebih baik dari makan pisang, kamu baiknya menjelaskan apa kandungan nutrisi di dalam keduanya, apa dampak negatif dan positifnya, dan seterusnya untuk kemudian saya sendiri yang memutuskan mana dari kedua pilihan tersebut yang lebih baik bagi saya. Adapun kesempurnaan informasi ini juga merupakan apa yang menjadi visi ideal dari pasar bebas yang merupakan wujud praktik Liberalisme dalam perekonomian.

Bagaimana pengalaman hidup membawa saya pada Liberalisme?

Saya besar dalam keluarga miskin di mana ibu saya membesarkan saya tanpa sosok suami di sampingnya. Ia, seorang individu, berjerih payah membesarkan tiga orang anak di tengah kota Jakarta tanpa latar belakang pendidikan yang cukup memadai untuk membuatnya mendapat pekerjaan yang layak.

Kesulitan hidup membuat tubuh saya beradaptasi untuk bertahan bahkan hanya dengan nasi dan kecap. Keadaan itu juga membantu saya lebih fokus belajar untuk mencapai posisi tawar terbaik ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Semakin tinggi nilai akademik yang saya capai, semakin banyak pilihan yang muncul dan semakin besar peluang saya untuk mendapatkan barang (sekolah) dengan harga dan kualitas terbaik (ekuilibrium).

Tanpa kompetisi itu, saya tidak akan memiliki daya juang seperti apa yang saya dapatkan sekarang. Meskipun saya tidak tau apa yang terjadi apabila saya tidak diberikan kebebasan (oleh ibu saya) untuk memilih apa yang baik bagi saya, namun sejauh ini saya merasa berada dalam kondisi terbaik saya yang utamanya karena saya berkapasitas untuk memilih dan berkapasitas menghitung risiko atas pilihan saya sendiri.

Ketika pilihan saya dipilihkan oleh orang lain, maka penanggung risiko atas pilihan itu menjadi tidak jelas; saya? Atau orang lain? Dan kadang hal ini tidak bisa dipilih. Misalnya, kamu mau kuliah hukum, tapi ayahmu memaksa kamu kuliah kedokteran. Risiko capeknya kuliah kedokteran, susah dan pahitnya bekerja sebagai dokter, kerugian ekonomi yang misalnya muncul akibat pendapatan dokter lebih rendah dari notaris, dan lain-lainnya ditanggung oleh kamu.

Buat saya, hal itu adalah hal yang sangat tidak adil. Idealnya, agar saya dapat menanggung risiko atas sebuah pilihan, saya harus memegang kontrol terbesar terhadap pilihan tersebut. Hasil penempaan ibu saya untuk membentuk saya menjadi individu mandiri tidak sia-sia. Saya menanggung kebutuhan hidup saya sendiri sejak kelas 2 SMA.

Dengan demikian, saya tidak menjadi parasit pada ibu saya dan apabila ibu saya ingin membantu menafkahi, itu bukan karena keterpaksaan namun merupakan pilihan berdasar kehendak bebasnya. Di sinilah bukti bahwa spirit Liberalisme membantu individu punya peluang yang lebih besar untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Liberalisme membentuk individu rasional yang tidak menyusahkan orang lain namun tetap berempati untuk membantu orang lain sejauh dibutuhkan. Liberalisme membentuk individu yang dapat mengukur untung-ruginya dengan baik dan berkontribusi meningkatkan kualitas pasar.

Individu sebagai konsumen akan membuat pasar menghasilkan barang terbaik hanya jika individu tersebut memiliki kapasitas memilih yang baik. Individu yang tidak dibiasakan memilih dan sangat tidak berkemampuan dalam memilih akan menghasilkan barang-barang dengan kualitas sampah dan harga yang mahal.

Kebiasaan untuk memilih ini juga akan membentuk individu yang lebih cerdas. Proses memilih membawa individu pada proses pencarian informasi terhadap pilihan-pilihan yang ada. Dengan demikian, individu sudah belajar dengan sendirinya dan secara mandiri menyempurnakan informasi yang ada padanya. Kalaupun ia tidak mampu secara mandiri melakukannya, ia akan mendorong pasar menciptakan jasa yang membantunya mendapatkan informasi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari terciptanya Google, Wikipedia, maupun sumber informasi lainnya.

Bagi saya, Liberalisme mendorong terciptanya manusia yang cerdas, selektif, mandiri, dan kreatif (karena terbiasa mencari solusi atas masalahnya sendiri). Inilah generasi manusia yang dalam pandangan saya merupakan yang ideal untuk mendiami bumi.

Penghargaan yang tinggi pada otonomi individu juga membuat Liberalisme dapat meminimalisasi konflik horizontal yang biasa dipicu oleh individu yang tidak mampu menerima perbedaan dan hobi memaksa individu lain menjadi sama dengannya.

Kira-kira demikianlah garis besar alasan saya memilih Liberalisme sebagai ideologi yang cocok dengan diri saya dan pandangan saya terhadap kehidupan.

Sharing is caring!

2 thoughts on “FAQ #1 – Why I’m Being a Liberal?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *