Apa itu Cantik?

Sharing is caring!

Di laman Qureta, saya membaca sebuah tulisan karya Arjuna Putra Aldino yang judulnya begini, “Gendut itu Cantik”. Dari judulnya saja tentu kita semua sudah dapat menebak isinya. Wacana perlawanan terhadap “Kurus itu Cantik”. Di dalam tulisannya, penulis membahas mengenai lirik lagu Meghan Trainor yang berjudul All About That Bass.

Lagunya cukup populer dan tentu saja kita sama-sama tahu liriknya-–jika pada saat Anda membaca ini, Anda belum tahu liriknya, saya percaya Anda bisa buka Google. Lagu tersebut ditutup dengan kalimat, “Every inch of you is perfect from the bottom to the top” dan penulis menambahkan, “so, don’t worry about your size”.

Sebagai seorang pengagum karya-karya Fraser, Wollstonecraft, dan MacKinnon, sebagian besar orang akan menduga saya ada di pihak mas Arjuna, menyoal polemik standar cantik ini. Sayang sekali, inilah titik di mana saya memilih untuk menyampaikan keberatan saya. Setelah bertubi-tubi membaca tulisan senada.

Cantik sebagai Penanda Kosong

“Cantik” ini memang sebuah empty signifier. Saya tidak percaya ada sebuah ontologi murni melekat padanya, terutama karena ia bukanlah sebuah matter–-tidak dapat diinderakan. Ia justru adalah bentukan dari hasil penginderaan atas matter; seperti tubuh berlemak, payudara sebesar kepalan tangan, bibir berwarna merah mudah seperti bunga bougainvillea, mata berwarna biru langit, atau kulit putih seperti orang-orang Kaukasian.

Kitalah yang memaparkan nilai “cantik” itu terhadap gejala-gejala fenotipe manusia. Sebelum bergerak lebih jauh, kita akan sepakat pada asumsi dasar bahwa “cantik” merupakan suatu ukuran yang dipakai untuk menilai penampakan fisik perempuan.

Asumsi dasar ini juga saya adopsi dari tulisan mas Arjuna. Sesuai dengan judulnya, “Gendut itu Cantik”, di mana “gendut” adalah penampakan fisik, maka kita dapat bersepakat bahwa “cantik” merujuk pada peniliaian atas penampakan fisik.

Di awal saya menyebut “cantik” sebagai sebuah empty signifier atau penanda kosong. Laclau yang mengenalkan saya pada istilah tersebut. Penanda kosong ini merujuk pada hal-hal yang sifatnya ideas bukan matter, di mana ia tidak dapat diinderakan, sehingga akan muncul banyak pemaknaan terhadap keberadaannya yang berupa signified atau pertanda–semacam ciri-ciri atau indikator. Kita ambil contoh saja “Tuhan”.

Teman saya yang beragama Kristen bilang Tuhan itu “berambut gondrong, berkulit putih, bernama Yesus”. Ketiga ciri-ciri tersebut adalah apa yang kita sebut sebagai pertanda. Teman saya yang beragama Islam bilang Tuhan itu “sebuah zat, tidak dapat dilihat, tidak beranak dan diperanakkan”. Nah, tampak bahwa pertanda dari kedua teman saya itu berbeda, bukan? Begitulah yang terjadi pada kata “cantik”.

Mas Arjuna mungkin bilangnya cantik itu “gendut”, petingginya Victoria’s Secret mungkin bilangnya cantik itu “kurus”. Perebutan makna ini, menurut Laclau, selalu memunculkan satu yang hegemoni, itulah yang disebut oleh mas Arjuna sebagai logosentrisme.

Kurus sebagai Pilihan

Sebuah pertanda dikatakan hegemoni ketika ia mendominasi pemaknaan terhadap penanda kosong secara universal. Tentu saja kita dapat dengan mudah melihat fakta bahwa industri kecantikan didominasi oleh “kurus” sebagai pertanda “cantik”. Terlihat jelas bahwa mas Arjuna dan pendukungnya mencoba membuat wacana perlawanan dengan mengenalkan “gendut itu (juga) cantik”.

Di dalam wacana perlawanannya, mas Arjuna membawa asumsi dasar bahwa semua perempuan yang berusaha menjadi “kurus” adalah perempuan korban konstruksi arus utama dan katanya “melakukan perawatan diri dengan satu tujuan, yaitu untuk memikat laki-laki”. Bagi saya, ini adalah penghinaan terhadap pilihan perempuan dan tidak lain merupakan bentuk kolonialisme yang sama busuknya dengan apa yang dibicarakan oleh mas Arjuna dalam tulisannya.

Mas Arjuna menempatkan perempuan yang memilih menjadi “kurus” sebagai perempuan terjajah dengan cara yang sama seperti beberapa feminis anti-Islam yang menempatkan perempuan berjilbab sebagai perempuan terjajah. Mas Arjuna menafikkan adanya will dari perempuan sebagai individu yang otonom.

Hal itu tentu saja menunjukkan gejala kolonialisme; mengabaikan otonomi individu. Apalagi di dalam artikelnya, dituliskan bahwa “walaupun ia memilih gaya hidup sebagai perempuan modern yang berpendidikan, berkarier, dan bergaya hidup perempuan masa kini, namun ia tak mampu melepaskan diri dari jerat “kolonialisasi” atas tubuh mereka”.

Mas Arjuna secara seenaknya menempatkan “berpendidikan dan berkarier” berkontradiksi dengan “kurus”. Bahwa jika saya berpendidikan, berkarier, dan saya masih kurus, saya tidak masuk dalam pola pikir perempuan modern yang anti wacana kecantikan arus utama.

Melestarikan Cantik sebagai Penanda Kosong

Mas Arjuna tampaknya berdiri bersama dengan para promotor “everyone is beautiful” yang hemat saya, sangat naif. Secara manusiawi, kita secara alamiah memiliki preferensi, entah itu hasil konstruksi atau adonan genetik. Saya kenal banyak laki-laki dan sebagian dari mereka tidak bisa dipaksa untuk mengatakan bahwa perempuan yang berlemak itu cantik atau perempuan yang kurus seperti model itu cantik.

Sebagian dari mereka memuja yang chubby dan penuh lemak, sebagian lagi memuja yang sebaliknya. Maka, wacana “semua orang cantik” ini akan dapat berlaku di tingkat individual, tetapi tidak secara kolektif. Begitu juga dengan wacana “gendut itu cantik” atau “kurus itu cantik”.

Sebagai sesama pertanda yang mencoba memaknai penanda kosong, saya rasa ada baiknya semuanya tetap dilestarikan. Saya mendukung semangat memunculkan wacana-wacana baru, termasuk “hitam itu cantik”, “berwarna itu cantik”, ataupun “gendut itu cantik”, tanpa semangat menghilangkan wacana lawannya.

Jadi, sekalipun saya datang dari fron pembela perempuan berpendidikan dan berkarier yang kurus, saya tidak akan mengatakan bahwa perempuan gendut adalah perempuan terjajah yang termakan propaganda Amerika dan Yahudi. I’m a pro-choice by nature.

Bagi saya, gendut itu tidak cantik dan juga tidak sehat. Tetapi, gendut itu pilihan. Gerakan keadilan gender sejatinya memperjuangkan akses terhadap pilihan-pilihan hidup yang setara antara perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki dapat merasa bebas untuk menjadi kurus ataupun gendut, perempuan juga demikian.

Sebagaimana Dove memiliki kebebasan untuk mengampanyekan “putih itu cantik” dan Dark is Beautiful memiliki kebebasan untuk mengampanyekan “berwarna itu cantik”, demikianlah promotor “cantik itu gendut” bebas untuk membuat panggung baru di industri kecantikan dan bertempur melawan Victoria’s Secret Fashion Show yang diisi oleh perempuan-perempuan kurus.

Demi menjaga persaingan ini berjalan seadil-adilnya, pasar harus selalu dikondisikan sebebas-bebasnya. All hail Adam Smith!

******

Telah terbit di Qureta: http://www.qureta.com/post/saya-kurus-dan-saya-tidak-terjajah pada 15 Agustus 2016.

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *