Review #1 – The Atheist Muslim

Sharing is caring!

17-03-17-13-57-58-868_deco
Saya (tengah) bersama dr. Ryu Hasan (kanan) dan Nanang Sunandar (kiri)

Kamis, 16 Maret 2017 lalu, saya mengisi acara Bedah Buku “Sang Muslim Ateis: Perjalanan dari Religi ke Akal Budi” di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Buku ini merupakan terjemahan langsung dari buku berjudul The Muslim Atheist: A Journey from Religion to Reason karya Ali Amjad Rizvi, pria kelahiran Pakistan dan tumbuh besar di Arab.

51tER8SRYKL._SX327_BO1,204,203,200_
Buku The Atheist Muslim: A Journey from Religion to Reason

Di sini, saya akan menuliskan ulang garis besar isi ulasan yang saya sampaikan dalam acara bedah buku tersebut.

Tentang Ali

Mengenal sedikit tentang Ali menjadi penting, mengingat buku ini adalah sebuah memoar perjalanan imannya. Ali lahir di Pakistan, namun menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Arab Saudi, sebelum akhirnya pindah ke Amerika saat menginjak usia 24 tahun.

Dibesarkan dalam keluarga Syiah dengan orang tua yang berpendidikan tinggi, adalah hal yang wajar bagi Ali untuk mengembangkan pemikiran kritisnya sejak dini. Ali menempuh pendidikan di bidang Fisika dan terlatih sebagai dokter spesialis Patologi Onkologis.

Saya dapat mendekatkan diri pada pengalaman religi Ali dalam konteks sama-sama hidup sebagai minoritas. Ia hidup sebagai Syiah di tanah Sunni, sementara saya hidup sebagai Katolik di tanah Muslim (yang kiblatnya cenderung Arab, dominasi Sunni).

Sebagai minoritas, Ali dan keluarga kerap kali harus sembunyi-sembunyi dan nyaris berbisik apabila hendak melakukan ibadah, salah satu yang ia ceritakan dalam bukunya adalah ritual Taziyah yang dilakukan selama Muharram (bulan pertama dalam kalender Islam) untuk memperingati kematian Husein, putera Ali, dan keluarganya pada tahun 680 M.

rnR6ZPK_
Sosok Ali Amjad Rizvi

Di dalam bulan tersebut, selama 10 hari menuju Assyura (hari di mana Husein dipenggal), umat Syiah mengenakan pakaian hitam dan mengikuti majalis (pertemuan keagamaan di malam hari).

Katolik juga memiliki ritual semacam ini, yakni bulan Maria (Mei dan Oktober), di mana selama sebulan penuh umat melakukan Rosario (sebuah doa devosi kepada Bunda Maria), serta puasa dan pantang selama 40 hari menuju Paskah (Hari Kebangkitan Kristus).

Ibadah Katolik, sama seperti Syiah, juga memiliki nyanyian. Di beberapa rumah, kami harus memelankan suara, nyaris berbisik, agar tidak mengganggu tetangga. Pernah suatu kali, ibadah kami dihentikan paksa oleh tetangga, karena nyanyian kami terdengar ke rumah sebelah.

Hidup sebagai bagian dari agama minoritas membuat umat lebih dekat dan solid. Ini salah satu poin penting yang dapat saya refleksikan dari kisah Ali. Dalam situasi kedekatan sosial yang nyaris tak berjarak, bukankah mudah bagi Anda untuk membayangkan betapa berat bagi Ali saat hendak mengkritik ajaran agamanya?

Perjalanan Iman Ali

Bahasan utama dalam buku ini adalah perjalanan iman Ali yang dimulai dari kejadian sehari-hari yang membuatnya keheranan dengan sifat-sifat Tuhan. Pada saat ia berusia 5 tahun, Sana, sepupu Ali yang saat itu berusia 3 tahun, mengidap kanker.

Ali pada saat itu tidak mengerti apa yang terjadi. Ia mengisahkan, suatu hari Sana begitu parah, bibi dan ibunya sibuk membacakan ayat-ayat Quran sambil menangis. Sana kesulitan bernapas dan mengerang kesakitan.

Ali bertanya, “apa yang sedang mereka doakan?

Ayahnya menjawab, “mereka sedang memohon pada Allah untuk menghentikan sakit Sana dan tidak membiarkannya pergi.”

Sampai akhirnya, Sana wafat. Ali marah. Kata ayahnya, Sana sudah di Surga bersama Allah dan bahagia selamanya. Tapi, suasana dalam ruangan sama sekali tidak menggambarkan Sana yang bahagia. Semua orang menangis atau terdiam dalam duka.

Ali tidak mengerti, mengapa Allah yang ingin membawa Sana kepada-Nya harus terlebih dahulu menyiksanya dengan penderitaan yang demikian hebat? Bagaimanapun, Sana hanyalah seorang gadis berusia 3 tahun!

Seiring berjalannya waktu, Ali yang sudah lebih dewasa menjadi lebih matang untuk memulai perjalanannya menyusuri apa yang selama ini ia pegang secara taken for granted: agama.

perjalanan Ali
Kronologi penyusuran Ali.

Ali mulai dengan membaca ulang Quran dengan serius dan tidak melewatkan satu katapun, kemudian mengumpulkan ayat-ayat yang ia anggap mengganggu atau disturbing verses, selanjutnya mengkritisi ayat tersebut dengan melakukan berbagai perbandingan termasuk perbandingan pendekatan, terjemahan, dan tafsir, terakhir menyanggah argumen pembelaan dengan logika dan sains.

Argumen pembelaan yang saya maksud di sini adalah argumen-argumen yang tetap menempatkan ayat Quran seutuhnya benar, sejauh pembacaan Ali, yang datang baik dari akademisi maupun ulama.

Ada momen yang menarik dalam masa batu loncatan kedua, yaitu saat Ali mulai menemukan ayat-ayat yang menurutnya tidak pantas dianggap benar dan diikuti. Lalu, ia mulai menyampaikannya pada orang yang lebih tua; ayahnya, ibunya, bibinya, pamannya, pokoknya siapapun yang Muslim dan lebih tua darinya.

“Ketika saya perlihatkan kepada mereka, mereka tercengang seperti saya. Mereka nampak kaget dan mendesak saya untuk menunjukkan di mana tempat saya menemukan ayat tersebut,” jelas Ali di dalam bukunya.

Saat saya membaca bagian ini, saya tertawa terbahak-bahak karena saya pernah melakukannya. Saya berpikir, bagaimana mungkin orang-orang ini mengimani sesuatu yang mereka tidak tahu? Mereka tidak betul-betul mengetahui isi dari kitab yang mereka anggap maha benar.

Saya sendiri bingung menilainya, apakah itu lucu atau justru menyedihkan.

Sanggahan yang diterima Ali dapat disimpulkan dalam logika berikut:

Jika ayatnya benar, maka terjemahannya salah.

Jika terjemahannya benar, maka tafsirnya salah.

Jika tafsirnya benar, maka konteksnya salah.

Apapun yang membuat sebuah ayat terdengar salah adalah salah, karena ayatlah yang selalu benar dan tidak boleh salah.

Ali kemudian menjabarkan argumen-argumen yang berkembang untuk membela disturbing verses yang ia temukan. Di sini, ia mengelaborasi perdebatan yang ada hingga akhirnya membuat kesimpulannya dengan sebagian besar didasarkan pada sains dan common sense.

Kritik Teks yang Sah

Dari sekian banyak disturbing verses yang disampaikan Ali, saya setuju bahwa ada dua jenis ayat bermasalah yang tidak bisa diselamatkan lagi kecuali dilakukan sebuah reinterpretasi ekstrem, yaitu (1) Kekerasan dan (2) Ketidaksetaraan Gender.

Menyoal ayat-ayat kekerasan, saya hendak mengutip Mun’im Sirry di sini, sebagaimana yang ia tulis dalam sebuah artikel di Geotimes, “problem kekerasan dalam teks-teks keagamaan itu sendiri menjadi “gajah dalam ruangan” yang acapkali dihindari oleh sarjana-sarjana modern.”

Sedemikian besar ukurannya dan sebegitu tegas eksistensinya, orang malah memilih berjalan menyusur tepi-tepi ruangan dan menghindari gajah itu!

Ali mengakomodasi adanya ayat-ayat non-konfrontatif maupun defensif dalam Quran. Namun demikian, ia menjabarkan ayat yang secara terang-terangan agresif.

Dalam konteks ini, saya sepakat dengan Ali, bahwa kekerasan memang dibenarkan dalam kitab suci dan konteks hanya menempatkan kekerasan pada waktu dan tempat idealnya, bukan menihilkannya.

Picture1
Dalil kekerasan yang dipakai ISIS untuk melegitimasi aksi-aksinya.

Dalam tradisi Kristiani, Tuhan sendiri menciptakan neraka yang penuh dengan kertak gigi. Tuhan yang katanya “adalah kasih” secara jelas mempraktikkan kekerasan di Neraka-Nya.

Berikutnya adalah menyoal ayat timpang gender. Rasanya ini gajah yang tidak kalah besar dengan kekerasan. Apabila kita menilik proses penciptaan saja, perempuan diciptakan dari dan untuk laki-laki. Dalam Quran 4:34, ada tertulis, “kaum laki-laki adalah qawwamun atas perempuan.”

Di tempat lainnya disebutkan, “Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali budak-budak perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka, sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa:24)

Perempuan bisa menjadi budak yang meskipun sudah bersuami tetap boleh dinikahi. Di sisi lain, perempuan yang tidak boleh dinikahi adalah yang bersuami, bukan yang tidak mau dinikahi. Di dalam kitab samawi, memang bisa dikatakan tidak ada konsep consent. Seks yang salah bukan karena tanpa consent, tapi karena (1) pre-marital (di luar nikah) atau (2) extra-marital (di dalam pernikahan, lalu melakukan seks dengan pihak lain).

Bagaimana kita melihat ini sebagai bentuk kesetaraan? Tentu saja tidak bisa. Kecuali kita melakukan reinterpretasi yang betul-betul progresif, misalnya dengan mengatakan bahwa ia bisa ditafsir sebaliknya, yaitu perempuan bisa juga menjadi pemimpin bagi laki-laki, tergantung kesepakatan (karena mengadopsi konsep modern: consent).

Lalu soal budak, di jaman tidak ada lagi perbudakan, maka bisa saja ayatnya kita anggap hangus. Tapi dalam realita, ayat itu kini dipakai oleh ISIS untuk mengambil perempuan hasil jarahannya sebagai budak seks. Ya, mereka anggap sah karena dalam konteks perang. Tidak peduli apakah itu perang yang mereka initiate atau bukan. Intinya sedang perang, jadi boleh mengambil perempuan sebagai budak.

Picture2
Ayat dalam Bibel yang mengatakan bahwa bukan laki-laki yang diciptakan bagi perempuan, tetapi sebaliknya.

Sementara di Bibel Efesus 5:22-23, ada tertulis, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.”

Di tempat lainnya disebutkan, “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Kecuali kita melakukan reinterpretasi radikal, secara gamblang kita dapat katakan ayat ini tidak adil gender, terlebih tidak ramah perempuan. Biasanya perintah istri untuk tunduk akan dijawab dengan ayat dalam 1 Petrus itu, “tetapi suami kan juga diminta menghormati istri”. Saya pikir, tidak ada seorangpun yang cukup konyol untuk tidak mau membedakan “tunduk” dan “menghormati”.

Nah, demikianlah ayat-ayat yang melegitimasi kekerasan dan ketidaksetaraan gender berserakan di mana-mana dalam kitab samawi seperti gajah dalam ruangan. Sekalinya ada yang melakukan reinterpretasi ekstrem seperti Musdah Mulia dan pemikir progresif lainnya seperti yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal, mereka dianggap sesat.

Maka, pilihannya either mengambil risiko reinterpretasi ekstrem atau menerima kenyataan bahwa memang kedua hal itu terlegitimasi dan bahwa gender justice ala paradigma modern seperti Feminisme tidak kompatibel dengan kitab suci agama-agama samawi. Dan karena keduanya adalah ajaran moral, maka tidak ada yang lebih benar atau lebih salah, bisa dipilih sesuai selera Anda, jadi berkilah (denial) itu sama sekali tidak perlu.

Diskursus yang Penting

Saya mengambil dua diskursus yang dapat menjadi lesson-learned dari buku ini, yaitu (1) To know what you believe dan (2) To treat Islam as an idea.

Yang pertama, pembaca diajak untuk turut melakukan penyusuran ulang atas apa yang kita imani. Ali mencontohkan dengan bagaimana ia membaca ulang Quran dengan sungguh-sungguh dan menelaah ayat per ayat, untuk memastikan ia betul-betul kenal dengan apa yang ia imani.

Seperti orang tua dan kerabat Ali yang terkejut ketika ia tanyai mengenai ayat-ayat yang mengganggu, mungkin kita semua juga akan bereaksi sama ketika melakukan pembacaan ulang dengan sungguh atas apa yang kita imani, entah itu kitab suci, maupun rujukan teologis lain dari agama yang kita anut.

Sebagaimana ketika Al-Maidah 51 mencuat ke permukaan, lalu semua orang mendadak heboh. Ayat yang sudah ada sejak 1.300 tahun lalu, tiba-tiba menjadi trending topic di tahun 2017 dan orang baru menyadari adanya perbedaan terjemahan dan tentunya, perbedaan tafsir yang sedemikian ekstrem kutubnya. Lalu, semua ulama turun gunung mencari celah untuk memenangkan pertempuran narasi ini.

demo-ahok-2
Aksi membela Al-Maidah 51, sebuah ayat yang mungkin baru mereka dengar kemarin sore.

Teman saya, sudah 30 tahun menjadi seorang Muslim yang taat, shalat 5 waktu, puasa tidak pernah bolong, terkejut setengah mati mendengar ayat itu. Katanya, “saya tahu ada amanah untuk memilih pemimpin, termasuk atasan di tempat kerja, dari yang seagama, supaya berkah. Saya kira itu nasihat ustadz aja…”

Nah, inilah yang saya maksud dengan to know what you believeKetidaktahuan Anda adalah malapetaka bagi dunia. Agama Anda menyarankan Anda menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru bumi. Anda sudah sibuk koar-koar di sana-sini, padahal Anda tidak pernah betul-betul mengenal ajarannya? We must get rid of people like you.

Kemudian, ketika Anda diberi tahu oleh ustadz media sosial, Anda terkejut dan mendadak sok jadi orang paling religius sedunia, Anda sibuk mengirimkan dalil tersebut ke semua grup WhatsApp Anda. Hanya karena Anda baru mengetahui satu atau dua dalil yang sudah ada sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Maka itu, mengenal secara mendalam apa yang kita imani adalah hal yang fundamental dari memilih untuk beriman. Membaca ulang, merenungkan, meresapi, memahami, menalar, mengkritisi, terus begitu hingga Anda dapat beriman dengan rendah hati (menaruh ruang pada keterbatasan akal Anda).

Mengenal iman Anda dengan sungguh akan membuat Anda jauh dari kecenderungan memaksa dan merasa paling benar. The more you know, the more you know you don’t know. Ini pesan penting pertama yang bisa saya angkat dari buku karangan Ali.

Yang kedua, pembaca diajak untuk mengambil sudut pandang lain dalam mendekati agama, yakni bukan sebagai sesuatu yang sacred dan tercerabut dari ruang narasi manusia, melainkan sebagai ide yang justru dapat secara bebas dipertukarkan, dikritik, ditolak, didukung, dan diterima di ruang wacana.

Ali berulang kali mengatakan, “ketika saya mengkritik Islam, saya sedang mendekati Islam sebagai ide, dan saya tidak ingin dipandang sedang mengutuk Muslim, orang-orang yang dekat dengan saya dan telah membesarkan saya dengan kasih sayang yang tulus.”

Ali menyebut ini islamophobia-phobia. Karena maraknya tudingan islamophobia dilemparkan pada orang yang dianggap membenci Islam, maka nyaris tidak ada ruang bagi yang hendak mengkritik Islam untuk berkarya dan bebas dari tudingan tersebut.

d642b0_3c544735aaf748e8b2cb3c8533110cfe-mv2
Aksi protes yang dilakukan oleh Muslimah di Eropa untuk melawan Islamophobia.

Memperlakukan Islam sebagai ide adalah setara dengan memperlakukan agama lain sebagai ide, maupun Marxisme dan Liberalisme sebagai ide. Maksudnya, ia tidak kebal terhadap kritik yang amat keras sekalipun, dan itu bukanlah sebuah penghinaan pada penganutnya, sebagaimana Martin Suryajaya tidak akan merasa dilecehkan kalau Anda mengkritik Communist Manifesto atau Das Kapital.

Namun, saya juga tahu hal ini tidak mudah dilakukan, terutama karena biasanya agama sudah menjadi bagian dari identitas penganutnya, sehingga kritik terhadap agama dirasa seperti mengganggu well-being penganutnya. Mungkin, perasaannya sama seperti perempuan diperkosa atau laki-laki diselingkuhi. Rasanya, diri Anda sebagai manusia yang dirusak.

Meskipun demikian, bukanlah mustahil untuk mengubah paradigma kita bersama. Agar kita juga dapat membangun dialog yang sehat dan konstruktif terhadap apa yang kita pegang sebagai tuntunan hidup. Terutama karena agama, sebagaimana ide lainnya, tidak lepas dari pengaruhnya terhadap ruang publik (pembentukan hukum, dinamika politik, pembelahan sosial, dan seterusnya).

Oleh karena itu, tentu saja ia harus bisa diperbincangkan di ruang wacana tanpa ancaman yang mengintai para kritikusnya.

Penutup

Saya memiliki dua kritik terhadap buku ini, yaitu (1) Dikotomi religi vs rasionalitas dan (2) Kurangnya diskursus akademik.

Saya akan mulai dengan yang kedua dulu. Mempertimbangkan buku ini sebagai sebuah memoar pribadi tentu dapat membuat kita memaklumi kurangnya diskursus akademik. Tetapi, Ali menawarkan banyak tesis yang apabila tidak disokong dengan elaborasi ilmiah yang padat akan cenderung oversimplifikasi.

Jika Anda ingin membaca kritik agama yang lebih konstruktif dan akademis, maka saya menyarankan Anda membaca buku-buku karya Mun’im Sirry. Nevertheless, sebagai sebuah memoar, ini adalah buku yang bernas dan setidaknya dapat menjadi pemantik proses berpikir yang menarik menuju diskursus mendalam tentang agama dan iman yang selalu problematis dan dilematis.

Kritik utama saya adalah menyoal dikotomi antara religi dan rasionalitas. Saya tidak menyetujui hal ini dan dr. Ryu Hasan (di dalam bedah buku) menyatakan sepakat dengan saya. Nyaris mustahil bagi kita untuk menemukan demarkasi diantara keduanya. dr. Ryu menyebut ini “ketegangan antara religi dan altruis”.

Maksudnya, kapan sebuah kebaikan atau kejahatan kita lakukan atas dasar sisi altruis kita atau karena aspek religi itu tidak dapat ditentukan dengan pasti. Dalam konteks yang lebih umum, apakah Anda dapat mengatakan bahwa menyukai warna biru itu rasional? Dan menyukai warna merah itu tidak rasional? Manakah yang lebih rasional, menyukai Justin Bieber atau The Beatles?

No no, you can’t tell.

Maka, saya hendak mengatakan bahwa beragama tidak berarti tidak rasional. Kita bisa dengan rasionalitas masing-masing memilih untuk beragama atau tidak. We’re creatures of million reasons. Mudah bagi kita untuk mem-back up pilihan kita dengan sejuta alasan.

Terakhir, saya hendak memberikan pesan pribadi saya sebagai refleksi atas buku ini:

“Iman adalah pencarian yang tidak dapat dipastikan mana ujung awal dan akhirnya. Anda bisa menyusuri satu-persatu batu loncatan Ali dan tetap tidak sampai pada kesimpulan yang sama dengan Ali. Tidak ada dua orangpun di dunia ini yang bisa menjamin ujung jalan pencarian mereka betul-betul sama…

Mengutip Ali, maka biarkanlah semuanya bersemi. Muslim sekuler, Muslim liberal, Muslim progresif, bahkan Muslim yang meragu.

Setiap individu berhak secara bebas melakukan eksplorasi atas iman; sebuah petualangan mencari tanpa akhir.”

QUIZ

IMG_20170407_115753_01
5 buah buku untuk 5 pemenang menantimuuuu 🙂

Jadi, saya hendak membagikan 5 buah buku Sang Muslim Ateis: Perjalanan dari Religi ke Akal Budi (versi terjemahan dari The Atheist Muslim: A Journey from Religion to Reason) secara GRATIS.

Gimana caranya?

(1) Follow blog ini (www.cittairlanie.wordpress.com)

(2) Tulis di kolom komentar 1 buah pertanyaan paling kritis seputar agama dan iman, boleh juga kamu angkat dari artikel ulasan ini, sertakan alamat email yang aktif!

Durasi kuis adalah 1 minggu sejak artikel ini diterbitkan, yaitu terhitung sejak 7 April sampai dengan 14 April 2017 (pukul 23.59). Pemenang akan diumumkan melalui email pada hari Sabtu, 15 April 2017.

Good luck!

Sharing is caring!

155 thoughts on “Review #1 – The Atheist Muslim”

  1. setiap agama menyatakan cinta kasih sebagai sandarannya tetapi banyak cinta kasih yang akhirnya kandas karena berbeda pandangan tentang tuhan! ini campur tangan tuhan apa penganutnya? saya pikir penganutnya terlalu takut untuk kehilangan teman satu produknya. agama dipandang sebagai penanda (baju) bukan sebuah ide

    1. Terimakasih edukasinya kak cania.Saya hanya ingin menjawab ‘apa bedanya takdir dan nasib’ menurut saya takdir adalah sesuatu yang sudah pasti/paten terjadi seperti kematian,kelahiran,dll bukan kita yang memutuskan semua itu.tapi tuhan.Sedangkan nasib adalah freewill kita.atau bisa kita sebut sebab-akibat dr apa yg kita lakukan.banyak pendekatan sih muncul kesimpulan seperti itu.memakai pendekatan bahasa,sejarah,psikologi dll.

  2. Tuhan adalah segalanya. Semua sudah diatur dan sudah dalam rencanaNya.
    Manusia adalah ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaanNya, manusia mengikuti aturan dan rencanaNya.

    Iman? Ya, manusia harus beriman kepada Tuhan.
    Agama? Hanya stratifikasi yg dibuat oleh manusia.

    Pada akhirnya berkaitan dengan takdir. Saya percaya Tuhan dan percaya bahwa semuanya telah diatur dan direncanakan oleh Tuhan. Apapun posisi kita, baik buruk, benar salah, pilih A pilih B, ikut A ikut B, jika itu adalah rencana Tuhan, silahkan dijalani dan dinikmati saja.
    Jika kita percaya kuasa (termasuk didalamnya takdir) Tuhan dan percaya semua telah diatur dan direncanakan Tuhan, jadi apa permasalahan yg kita ributkan selama ini?

    @orjigdenar@gmail.com

  3. Hai Cania, salam kenal yaa…
    Aku senang sekali kamu mau sedikit mengulas buku Ali ini. Memurutku tulisanmu ini dpt merangsang “diskusi sehat” tentang isu2 agama di Indonesia yg memang selama ini masih dianggap tabu. Aku jg tertarik tentang tulisanmu ttg ketimpangan gender yg tertuang dlm kitab suci. Menurutku banyak sekali diskriminasi thd perempuan yg dilakukan dgn dalih menjalankan ajaran kitab suci. Miriss 😐
    Tak ada pertanyaan seputar agama kpdmu, karna aku lebih memilih menikmati perjalanan spiritualku sendiri ✌
    Thanks for this awesome review, stay young and stay foolish.

    My email: susilo.erik@gmail.com

  4. untuk para saudara/i muslim yg meragu, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan utk menjauhi Islam. saya dulu pernah melakukan kesalahan yg sama, yaitu membaca Quran sendiri lalu sudah merasa paling tahu.
    tapi saya sadar. saya butuh masukan orang yg lebih berilmu daripada saya, baik agama maupun science.
    saran saya, tanyalah orang2 yg memiliki kapasitas dua hal tersebut sekaligus.
    saya merekomendasikan pak @hramad dan mas Andi Latief @attaqrib utk science. atau yg memiliki khasanah ilmu Islam dan logika yg luas, mas @azis_af atau ustadz Nidhol Masyhud.
    Islam itu agama utk orang-orang yg berpikir. 🙂

  5. Pertanyaan:
    1. Apa yang membuat agama bisa bertahan sampai sekarang?
    2. Apakah agama dan sains adalah dua entitas yang kontroversial? Yang satu berdasar pada evidence dengan peer review yang ketat; satunya lagi berdasar pada ‘percaya saja bahwa ini dari Tuhan’. Apakah mutlak kontroversial?
    3. Apa yang menyebabkan kitab suci yang dibaca sama tapi perilaku berbeda? Misal Quran yang dibaca Gus Dur dan Osama bin Laden.
    4. Setujukah jika ada pendapat bahwa agama adalah pemecah belah utama di abad ini?
    5. Adakah sistem negara ideal menurut kaum atheis?
    6. Seandainya tidak ada agama, bagaimanakah keadaan dunia saat ini?
    7. Kenapa agama cenderung mengklaim yang baik-baik, seperti kedamaian, toleransi, dll. Sementara itu meleapas diri hal-hal seperti kekerasan, terorisme, ketimpangan gender, dll ?
    8. Bagaimana pendapat Anda tentang perlakuan terhadap Atheis di Indonesia yang tidak bisa mendeklarasikan ketidakbertuhanannya layaknya orang beragama mengeksperisikan kesalehannya?

    achmad.miftahudin@gmail.com

  6. Jika setiap umat manusia memiliki kebebasan dalam memilih sesuatu, karena manusia adalah makhluk rasional yang bisa dengan bebas memilih dan menentukan sesuatu dengan rasionalitasnya, bagaimana suatu rasionalitas bisa dikatakan rasional tanpa menyangkut pautkannya dengan keimanan, ataupun menyangkut pautkannya dengan lingkungannya yang sudah ia rasakan sejak baru lahir (lagi-lagi ia sudah di arahkan kepada “sebuah kesimpulan” tanpa memilihnya)?

  7. Saya pernah menjadi muslim, dan (mungkin) saat ini masih menjadi muslim. Jujur saja, menurut saya jauh lebih mudah dan aman untuk mengidentifikasikan diri sebagai seorang muslim di lingkungan sosial Indonesia. Apalagi, teman-teman saya kebanyakan muslim. Melalui insiden yang membuka mata saya lebih luas untuk menelusuri agama yang sudah diinjeksi ke dalam pikiran saya sejak lahir, membaca “kitab suci” Alquran tanpa benar-benar paham apa makna yang ada di dalamnya, saya mulai meragui apa yang saya anut selama 13 tahun hidup saya. Rasanya, semua waktu yang saya habiskan untuk menghafal alquran sebagai waktu yang terbuang sia-sia dan sejujurnya saya menyesal.

    Setelah selama kurang lebih 1 tahun saya menjadi apateis, saya mulai membuka diri untuk memulai “dengan benar” dalam mempelajari agama, tidak hanya manggut-manggut dengan segala yang dikatakan oleh ustad, guru, orangtua, maupun acara TV semacam “Khazanah” yang membuat semua muslim berdecak kagum dan melafalkan “subhanallah” tanpa sedikitpun berusaha untuk bersikap kritis. Mulai memasuki masa SMA di suatu madrasah negeri, saya mulai tertarik untuk membaca kitab-kita tafsir, buku-buku karangan cendekiawan-cendekiawan muslim (konvensional maupun progresif), dan bahkan buku perbandingan agama karya Karen Amstrong. Tentunya, “petualangan” saya menelusuri agama tidak hanya terbatas pada agama Islam atau Abrahamik saja, karena menurut saya sudah seharusnya saya paham terlebih dahulu apa yang pernah saya anut selama 13 tahun. Agama-agama dharmik seperti Hindu dan Buddha juga menarik perhatian saya, bahkan saya sempat ingin menerapkan gaya hidup ala Buddha Zen.

    Pada masa SMA, semua siswa dianjurkan (baca: diwajibkan) untuk membaca Alquran. Saya paham ini konsekuensi yang harus saya tanggung karena memilih bersekolah di madrasah (lagi). Tetapi, berbeda dengan teman yang lain, ketika yang lain membaca alquran dengan sungguh-sungguh dan mengeraskan suara, atau memurajaah hafalah, saya justru menelusuri arti ayat demi ayat sampai asbabun nuzul dari setiap ayat. Teman-teman dan bahkan guru memprotes saya “baca alquran itu bukan cuman artinya, tapi dilafalkan!” Ingin rasanya saya membalas, “maaf saja, saya sebenarnya mudah bosan membaca sesuatu yang sama berulang-ulang, Apalagi kitab ini sudah diajarkan kepada saya sejak sekolah dasar.” Lagipula, untuk apa kita membaca sesuatu yang kita tidak mengerti (keseluruhan) maknanya?

    Melalui ini saya mulai sadar, mengapa tuhan Islam (Allah) menurunkan Alquran dalam bahasa Arab? Padahal bahasa Arab bukanlah akar dari semua bahasa di dunia ini. Seharusnya, untuk tuhan sekelas agama yang “universal”, Ia mewahyukan kasih dan petuahnya dalam bahasa yang mudah dipahami oleh segenap umat manusia. Lupakanlah tafsir dan sagala macamnya yang seringkali dijadikan alat untuk menunggang politik dan kekuasaan, baik dari kalangan puritan maupun progresif. Untuk memahami Alquran saya harus mendalami ilmu sharaf, nahwu, fiqh dan segala tetek bengeknya, bukankan itu tidak adil bagi orang-orang non-Arab dan awam agama? Mereka hanya bisa “dicucuk hidungnya” oleh para “ahli agama”, tanpa tahu apakah memang diantarkan kepada kehidupan yang kafah atau justru ke dalam jurang kegelapan yang, tanpa mereka sadari, menghilangkan “potensi hidup” mereka?

    1. Soal bahasa, tentu saja hal itu aneh. Tapi bagi yang mengimani, itu dianggap keunggulan, katanya, terbukti otentisitasnya. Padahal gak juga, kalo hanya dengan bahasa yang sama berarti buku itu otentik, jelas ini pelecehan ilmu pengetahuan. Sudah jelas hingga tahun 1924 masih ditemukan belasan versi Quran, oleh karena itu pemerintah Mesir melakukan kodifikasi ulang (ini yang cetakannya kita pegang sekarang). Dan demi otentisitas omong kosong itu, mereka mengurbankan pemahaman orang atas apa ayang diimaninya. Akhirnya, seperti kata Anda, “mereka hanya bisa ‘dicucuk hidungnya’ oleh para ‘ahli agama’ tanpa tau kebenarannya”.

  8. Saya pernah menjadi muslim, dan (mungkin) saat ini masih menjadi muslim. Jujur saja, menurut saya jauh lebih mudah dan aman untuk mengidentifikasikan diri sebagai seorang muslim di lingkungan sosial Indonesia. Apalagi, teman-teman saya kebanyakan muslim. Melalui insiden yang membuka mata saya lebih luas untuk menelusuri agama yang sudah diinjeksi ke dalam pikiran saya sejak lahir, membaca “kitab suci” Alquran tanpa benar-benar paham apa makna yang ada di dalamnya, saya mulai meragui apa yang saya anut selama 13 tahun hidup saya. Rasanya, semua waktu yang saya habiskan untuk menghafal alquran sebagai waktu yang terbuang sia-sia dan sejujurnya saya menyesal.

    Setelah selama kurang lebih 1 tahun saya menjadi apateis, saya mulai membuka diri untuk memulai “dengan benar” dalam mempelajari agama, tidak hanya manggut-manggut dengan segala yang dikatakan oleh ustad, guru, orangtua, maupun acara TV semacam “Khazanah” yang membuat semua muslim berdecak kagum dan melafalkan “subhanallah” tanpa sedikitpun berusaha untuk bersikap kritis. Mulai memasuki masa SMA di suatu madrasah negeri, saya mulai tertarik untuk membaca kitab-kita tafsir, buku-buku karangan cendekiawan-cendekiawan muslim (konvensional maupun progresif), dan bahkan buku perbandingan agama karya Karen Amstrong. Tentunya, “petualangan” saya menelusuri agama tidak hanya terbatas pada agama Islam atau Abrahamik saja, karena menurut saya sudah seharusnya saya paham terlebih dahulu apa yang pernah saya anut selama 13 tahun. Agama-agama dharmik seperti Hindu dan Buddha juga menarik perhatian saya, bahkan saya sempat ingin menerapkan gaya hidup ala Buddha Zen.

    Pada masa SMA, semua siswa dianjurkan (baca: diwajibkan) untuk membaca Alquran. Saya paham ini konsekuensi yang harus saya tanggung karena memilih bersekolah di madrasah (lagi). Tetapi, berbeda dengan teman yang lain, ketika yang lain membaca alquran dengan sungguh-sungguh dan mengeraskan suara, atau memurajaah hafalah, saya justru menelusuri arti ayat demi ayat sampai asbabun nuzul dari setiap ayat. Teman-teman dan bahkan guru memprotes saya “baca alquran itu bukan cuman artinya, tapi dilafalkan!” Ingin rasanya saya membalas, “maaf saja, saya sebenarnya mudah bosan membaca sesuatu yang sama berulang-ulang, Apalagi kitab ini sudah diajarkan kepada saya sejak sekolah dasar.” Lagipula, untuk apa kita membaca sesuatu yang kita tidak mengerti (keseluruhan) maknanya?

    Melalui ini saya mulai sadar, mengapa tuhan Islam (Allah) menurunkan Alquran dalam bahasa Arab? Padahal bahasa Arab bukanlah akar dari semua bahasa di dunia ini. Seharusnya, untuk tuhan sekelas agama yang “universal”, Ia mewahyukan kasih dan petuahnya dalam bahasa yang mudah dipahami oleh segenap umat manusia. Lupakanlah tafsir dan sagala macamnya yang seringkali dijadikan alat untuk menunggang politik dan kekuasaan, baik dari kalangan puritan maupun progresif. Untuk memahami Alquran saya harus mendalami ilmu sharaf, nahwu, fiqh dan segala tetek bengeknya, bukankan itu tidak adil bagi orang-orang non-Arab dan awam agama? Mereka hanya bisa “dicucuk hidungnya” oleh para “ahli agama”, tanpa tahu apakah memang diantarkan kepada kehidupan yang kafah atau justru ke dalam jurang kegelapan yang, tanpa mereka sadari, menghilangkan “potensi hidup” mereka?

  9. Diskursus, disensus, ruang publik, di ending tulisan ini aku merasakan arus fikir habermas yg begitu jelas, membentuk dialogika yg konstruktif dan mengupayakan dua belah pihak yg berseteru bedamai dengan nalar publik yg umum. Dalil kitab suci adalah doktrin, dia ditancapkan melalui institusi keluarga hingga negara. Islam dan nasrani punya kontradiksinya sendiri, terutama menyoal agama dan politik. Syiasah dalam islam dan politika dalam yunani tentunya tidak akan saling mengenali demokrasi atau pun kajian politik islam. Mereka terlembagakn dalam institusi yg saling mendamaikan, kampus. Damai dalam literatur, namun si pemeluk tetap berpegang teguh pada naluri imannya, entahkah dia sebagai pemeluk agama yg rasional, liberal, sosialis, ataupun si peragu. Seolah mencoba menyatukan problematika agama dan sains, islam dan nasrani ternyata punya sisi yg sama. Hanya saja mungkin dalam pendidikan islam ada yg di kenal dengan level iman terendah atau taqlid buta, 17:36. Bahkan aku nulis komen ini dari taklid buta ku, meragu atas alasan dan tujuan apa aku menulis komen ini. Aku ga menemukan upaya ali mengulik kitab nasrani seperti mbak ngulik alquran dan mengangkat almaidah 51 yg mungkin baru mereka dengar kemaren sore. Di posisi ku menangkap ali yg syiah dan jd minoritas di lingkungan suni, agaknya mirip dengan kisah pergolakan pemikiran islam ahmad wahib yg lahir dari keluarga NU dan selama kuliah hidup bersama keluarga nasrani, wahib tak mengusik doktrin nasrani di keluarga itu, bahkan dia yg semakin berfikir kritis mengenai keimanannya sebagai islam, sanggupkah tuhan ku menjadikan org2 baik ini menjadi kayu bakar di neraka? Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim, demikian wahid mendekonstruksi imannya untuk lebih iman pada tuhan nya dan tidak pernah memberikan kesempatan pd dirinya untuk melakukan penggugatan atas doktrin agama maupun ideologi apapun selama habluminannasnya baik. Jadi pertanyaan ku; apakah rasionalisme yg menjadi alasan utama sehingga agama dan sains mampu menemukan konsensusnya di era postmodern ini? – santosoricki@gmail.com

    1. Ali mengulik kitab nasrani, makanya saya menguliknya juga. Dalam kedua isu, ketidaksetaraan gender dan kekerasan, saya munculkan dari Quran dan Bible. Karena memang Ali mengulasnya. Saya tidak mungkin keluar dari koridor pembahasan yang ada di buku Ali.

  10. Hanya ingin memberikan saran.

    Saudara saudara yang ragu akan keagamaan nya, khususnya Islam. baiknya mendalami Al-Quran kembali atau paling tidak melihat referensi dari ulama ulama terdahulu tentang apa itu Islam dan bagaimana perjalanan nya karena sesungguhnya mereka ulama terdahulu yang sangat memiliki kapasitas dalam menafsirkan Al-Quran yang memiliki banyak kalimat bahasa yang rumit. Apabila saudara sudah ada dalam tahap percaya ada nya Rabb, Allah Azza wa Jalla maka baiknya kembali kepada Al-Quran dan Hadist. Jazakallah Khair 🙂

  11. Persoalan iman berarti persoalan kepercayaan. Manusia dan keyakinan (kepercayaan) adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dan kepercayaan hanya ada pada manusia, sekalipun itu seorang ateis, ia mempunyai kepercayaan bahwa Tuhan tidak ada. Pertanyaan saya, mengapa manusia membutuhkan kepercayaan, dan darimana sumber kepercayaan itu?

  12. andai semua muslim di dunia ini adalah muslim yang moderat, apakah mereka akan setuju jika ada wacana menghapus / merevisi ayat ayat al qur’an yang tidak sesuai dengan keadaan zaman sekarang demi menjaga perdamaian?

  13. Pertanyaan :
    1. Jika agama mengajarkan kedamaian, mengapa harus dituliskan kekerasan dalam kitab NYA?
    2. Opinikan bahwa anda menjawab “untuk keseimbangan, karena jika tidak ada kekerasan maka tidak ada kedamaian”, mengapa Tuhan tidak langsung saja menghilangkan “keseimbangan” yang ada, bukankah dia Maha Kuasa?

  14. mengapa agama sekarang sering menjadi tembok besar antara kasih sayang manusia? padahal dahulu adam dan hawa saling mencintai bukan karena agama. apakah kita harus hapus agama agar bisa saling mencinta?

  15. Apakah beragama (termasuk mengimani konsep tuhan di dalamnya) adalah sebuah pilihan yang rasional? Bukankah meyakini sesuatu yang tidak/belum terbukti secara obyektif adalah sesuatu yang irasional? Atau adakah kondisi / alasan tertentu sehingga beragama dan mengimani sesosok tuhan personal adalah hal yang rasional? Terimakasih

  16. Reading the comments make me more confuse about god and religion 🙁

    Jika tuhan memang ada, dan kita diciptakan untuk menyembahnya, Kenapa kita harus bekerja keras untuk mencukupi diri di dunia untuk berlama lama sengsara dan jauh dari keberadaannya? Bukankah kematian adalah hal yang terindah? Karena kita akan segera kembali kepadanya, namun kenapa orang orang selalu menangisi hal tsb? Kematian hanyalah sebuah fase yang bahkan kita tau akan terjadi :/

    Apakah karena kesalahan dari adam dan hawa seluruh spesies manusia harus ikut jauh dari tuhan???

    Dan juga bagaimana jika konsep tuhan baik yg kita percaya sekarang sebenarnya salah?? Bagaimana jika dia hanya memanfaatkan kita untuk suatu hal yg tidak kita ketahui, perumpaannya kita hanyalah budak tolol milik tuhan? Yah, karena kita tolol berusaha sekeras apapun kita tak akan pernah tau maksudnya tersembunyinya…..

    I’m so glad if you can enlighten me 🙂

    My email : hologramlost@gmail.com

    1. Iya, kalo merasa tolol itu bagus. Jadi selalu merasa tidak tau atau belum tau. Masalahnya, orang-orang beriman yang menyusahkan manusia lain itu yang tidak merasa tolol, selalu merasa tau tentang imannya. Kalo ditanya pun tetap ngelak karena merasa paling tau dan paling benar sendiri. Kalo menurut saya ya tempatkan saja Tuhan sebagai Tuhan, tidak usah merasa bisa memahami Tuhan secara objektif dan absolut. Orang dalam banyak hal kita hanya bisa menerka-nerka.. Apakah kita bisa memverifikasi langsung ke Tuhan? Kan tidak.

  17. Saya setuju dengan pendapat menjadi beriman bukan berarti menjadikan kita tidak rasional. Karena bisa saja seseorang beragama untuk sarana ketenangan jiwa, dan ketika berhubungan dengan hal diluar konteks tersebut maka akal pikiran lah yg dipakai lebih dominan.
    Tidak sedikit peraturan agama yg sulit diterima, namun juga sangat sulit untuk dikritisi. Ujung2nya seperti yg sudah disampaikan, bukan ayatnya yg salah tapi penafsirannya dst dst dst. Padahal sudah disampaikan bukti data2 yg membantah peraturan tersebut, tp tetap selalu bisa berlindung dgn pemahaman logika kebenaran mutlak.
    Maka sebelum berdiskusi sebaiknya disepakati dulu, mau menggunakan ilmu duniawi atau ilmu surgawi, biar sinkron.

    Pertanyaannya, mungkin sangat tidak nyambung dengan ocehan di atas 😂
    Kalau ka’bah hancur, apakah umat islam akan lenyap?

  18. untuk pertanyaan kritis mengenai iman dan agama, berikut dari saya:
    * Jika manusia makhluk logikal dan emosional, yg hidup di alam rasional, apakah bertanggung jawab harus mengenal Tuhan yg notabene memiliki sifat Ilogikal dan Irasional?

    kemasrashad@gmail*com

  19. @Cania
    Saya balas posting terakhir kamu di sini.
    1. Setuju.
    2. Oke, saya cuma mau bilang artikel kamu daripada didominasi ulasan buku Ali Rizvi, lebih banyak mengulas ttg pendapat kamu ttg Quran. jadi judulnya misleading dan isi artikelnya malah melebar.
    3. sekali lagi saya tegaskan saya tidak memaksa. karena isi artikelnya melebar dan bukan lagi me-review buku, maka saya bersikap defensif dr postingan saya yg pertama karena isi artikel ini tidak berimbang tanpa pendapat dari insider sendiri.

    intinya kalau cuma ttg review buku Ali Rizvi. saya tidak begitu mempermasalahkannya. soal kamu atau Ali Rizvi beriman atau tidak, tidak perlu kamu tegaskan lagi karena itu bukan concern saya. semoga jelas ya.

    1. Lho bagian yang saya tambahkan dari apa yang dibahas Ali hanya konteks (seperti Al-Maidah 51). Sisanya memang apa yang dibahas Ali dalam bukunya, coba sebut mana dari ulasan saya yang tidak ada dalam buku Ali? Satu-satunya bagian ya kritik. Masa penulis menulis kritik untuk dirinya sendiri? Hahaha. Kalo bicara insider ya saya juga bagian dari komunitas orang beriman, tapi apakah itu membuat saya insider? Tidak kan? Orang akan cenderung membagi insider vs outsider menjadi positif vs negatif. Padahal, ada kalanya tidak seperti itu, dan gak ada masalah.. Setiap orang bisa membuat ulasannya sendiri. Seperti yang Anda lakukan di kolom komentar ini, Anda memberikan pandangan Anda yang berseberangan dengan saya, ya gak apa-apa.

  20. Dalam Islam itu ada perjalan Nabi Muhammad ke langit ke 7 yang memakan waktu hanya semalam, atau dinyatakan bahwa akhirat itu perbandingan waktunya 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia (cmiiw). Berdasar sama hal itu, apakah Tuhan adalah alien yang memiliki teknologi yang sangat-sangat tinggi sehingga Muhammad tidak hancur lebur saat dibawa dengan kecepatan sangat tinggi itu, atau karena alam akhirat tempat Tuhan dan malaikat2 bersemayam berbeda dimensi dengan kita?

    Atau kita hanya hidup di simulasi komputer, yang diciptakan oleh alien juga sih hehe

    Surel: ghifara05@gmail.com

  21. sebagai muslim, saya setuju mengenai kritik yg ditujukan kepada umat Islam tapi sendirinya tidak mendalami apa yg menjadi dasar yg mereka yakini.
    berikut kritik saya tujukan kepada penulis artikel.
    untuk kesetaraan gender, adil yg paling baik itu sama rata atau sesuai proporsinya masing2? anda mengkritik kitab2 Samawi karena ketidaksetaraan gender atau mungkin anda lupa, pria dan wanita memiliki keunggulannya masing-masing? perbedaan yg besar antara fisik wanita dan pria? apa anda mengharapkan di saat kitab2 Samawi diturunkan, yg notabene di zaman kerajaan yg mengalami perang dengan menggunakan pedang bukan hanya dgn menekan pistol, wanita memimpin pria di medan perang?
    untuk memahami Quran (atau kitab Samawi lain) itu tidak bisa hanya sepotong-sepotong lalu mengambil asumsi sendiri (lebih baik ditanyakan kepada orang2 yg berilmu). apalagi jika yg dibaca hanya terjemahan. dalam Quran ada yg dimaksudkan nash dan mansukh (Qs. Al Baqarah:106), yaitu di mana suatu ayat fungsinya dikurangi karena keadaan saat ayat tersebut diturunkan tidak relevan dan dapat digantikan dgn ayat yg lain sesuai keadaan. untuk ayat2 kekerasan juga begitu, bisa dicari relevansinya pada Qs. Al Baqarah:190-193.

    anda berharap dapat membangun dialog yang sehat dan konstruktif tapi lihat paragraf anda berikut ini.
    “Nah, inilah yang saya maksud dengan to know what you believe. Ketidaktahuan Anda adalah malapetaka bagi dunia. Agama Anda menyarankan Anda menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru bumi. Anda sudah sibuk koar-koar di sana-sini, padahal Anda tidak pernah betul-betul mengenal ajarannya? We must get rid of people like you.”
    apa saya jg boleh berpendapat, orang-orang seperti anda yg mengkritik tanpa mengetahui secara mendalam apa yg dikritik juga baiknya disingkirkan?

    anggap saya fundies atau bersikap defensif, tapi begitu banyak fallacy pada artikel ini.

    1. 1. Buktikan pada saya bahwa kualitas kepemimpinan dipengaruhi gender, bahwa perempuan menjadi budak seks adalah bentuk kesetaraan gender.
      2. Iya, yang Anda lupa adalah bahwa saya sedang melakukan sebuah ulasan buku bukan membangun tesis saya sendiri. Jadi kalau Anda mau selengkapnya, maka Anda harus baca buku Ali, atau menunggu saya menuliskan buku saya sendiri yang menjelaskan secara lengkap, berikut konteks, dst. Ini saja sudah dianggap kepanjangan sebagai sebuah review.
      3. Tenang saja, saya kebetulan belum pernah melakukan pemaksaan di ruang publik menggunakan dalil-dalil, berbeda dengan pihak yang saya kritik di sini. Dan soal get rid itu hanya bercandaan saya ke mas Ulil, sorry ya inside joke kok, gak perlu terlalu baper 😁

    2. Oya, saya juga sudah menuliskan, bahwa pendekatan yang dipakai Ali dan saya adalah memposisikan Islam sebagai ide. Dampaknya? Dia bisa didekati dengan beragam model, tidak harus lewat mekanisme bertanya. Jujur saya belum pernah telfon Habermas ketika saya hendak mengkritik buku dia. Ya jadi kalo Anda mendekatinya dengan cara itu, ya silahkan. However, saya juga sudah kutip di sini salah seorang berilmu yang sudah saya tanyai: Mun’im Sirry. Sebagaimana saya kutip tulisannya, “kekerasan dalam kitab samawi seperti gajah dalam ruangan”. Dan jawaban berikutnya, biasanya, “orang berilmu yang itu sesat”. Intinya, kembali pada logika yang sudah didapati Ali dari berbagai macam jenis believers: Segala hal yang membuat ayat terdengar salah pastilah salah, karena ayat itu harus benar. Dan itu adalah iman, gak masalah bagi Anda utk mengimani itu. Hanya saja, saya dan Ali tidak.

      1. @Cania Citta Irlanie
        1. anda lupa sebelum Muhammad meneguhkan Islam, perbudakan sudah lama ada? anda pikir perbudakan bisa langsung dihapus secara instan? dalam Islam, perbudakan juga dihapus secara gradual. makna perbudakan dalam Islam jg tidak sama dengan perbudakan seperti di US sebelum abad 20 misalnya. selengkapnya bisa dibaca di laman berikut >> https://yaqeeninstitute.org/abdullah-hamid/the-problem-of-slavery/

        soal gender sebagai pemimpin, saya bicara mengenai konteks perang bukan demokrasi. saya pribadi tidak masalah memilih pemimpin perempuan dalam sistem demokrasi. tambahan, saya akan ikut pemilu pertama kali kalau Ibu SMI mencalonkan diri. 🙂
        konteks kitab Samawi itu dilakukan sesuai jaman. soal pria menjadi pemimpin itu lebih karena di masa perang dan karena belum ada sistem demokrasi.

        2. saya tidak lupa anda sedang mereview buku. justru anda yg lupa sedang mereview buku. anda hanya menggunakan narasi buku Ali Rizvi untuk menyampaikan kritik anda terhadap Islam dan para muslim fundies yg beragama tanpa memahami apa yg diyakini (ini saya setuju). anda hanya menggunakan buku ini hanya di pembuka paragraf, sebagian kecil isi, dan penutup.

        3. saya asumsikan “berbeda dengan pihak yang saya kritik di sini” adalah muslim. saya pribadi bukannya otokritik atau teriak Islamophobia kalau ada yg mengkritik. tapi kami, muslim, berharap yg mengkritik bisa melihat konteks ketika ayat muncul. bisa menanyakan kepada pihak muslim yg berilmu (pemuka agama). bukan hanya mencomot asal ayat per ayat lalu dipahami sendiri dan dimaknai sendiri. kalau begitu apa bedanya anda (atau Ali Rizvi) dengan semacam media provokasi seperti “Berita Sahih”?
        iya saya tahu mas Ulil pernah ngetweet begini tapi saya tidak mendeteksi nada dalam kalimat anda sebagai sarkas.

        anda atau Ali ingin mendekati Islam sebagai ide tentu tidak masalah. yg saya kritik, ketidak-berimbangan dan kesembronoan penjelasan penulis dalam artikel ini dalam me-review buku Ali Rizvi lalu menggunakannya untuk mengkritik ayat2 Quran (atau kitab Samawi) dengan menggunakan kacamata modern (masalah klasik non muslim).
        saya tegaskan artikel anda sudah offside dalam me-review buku Ali Rizvi.
        kenapa tidak membuat artikel khusus ttg Islam tanpa berlindung dgn narasi buku Ali Rizvi atau artikel pak Mun’im Sirry?

        1. 1. Ya kalo sesuai jaman sih saya setuju aja, sayangnya kita gak bisa memastikan mana yg harus disesuaikan jaman, mana yg tak lekang oleh waktu. Jadi kalo pure hanya dari literal meaning, yg mana pasti ada potensi yg mengambil tafsir demikian, tetap posisi pemaknaan tsb bisa diberlakukan dan sah. Karena tidak ada yg cukup otoritatif utk memastikan maksud tuhan.
          2. Lho saya belum membuat tesis saya sendiri, saya hanya menjelaskan posisi dukungan dan penolakan saya terhadap tesis Ali. Apa yg saya jabarkan adalah murni datang dari buku Ali, kecuali ketika saya mengkritik, di situ saya nyatakan pertidaksetujuan saya.
          3. Sila baca jawaban saya di nomor 2. Saya belum tertarik melakukan studi dalam bidang ini, jadi kalau mau baca tesis saya sila baca di bidang lain. Di sini saya hanya mencoba mengulas perspektif orang-orang yg saya rasa cukup otoritatif utk membicarakannya, termasuk Ali Rizvi dan Mun’im Sirry (review menyusul). Anda sudah baca bukunya Ali? Saya melihat ada banyak rujukan di sana, saya tidak mengerti kenapa Anda harus memaksa orang lain memakai pendekatan yg Anda sukai. Namanya ide, tentu saja bisa didekati dengan berbagai metode dan pendekatan. Kalau dalam studi sejarah keagamaan, misalnya, dikenal istilah outsider vs insider. Kalau Anda pakai perspektif insider yg memang berangkat dari positive sentiment ya monggo, orang lain pakai perspektif outsider juga boleh dong.

      2. Terimakasih telah memberikan penjelasan berikut yang saya rasa cukup mencerahkan. Saya ingin mengambil kutipan ibu kita kartini yang berbunyi “agama memang membuat kita menjauhi dosa. Tapi, berapa dosa yang sudah kita perbuat atas nama agama?” Dari kutipan tersebut saya akan bertanya, menurut anda berdasarkan pengalamam anda, apakah hal penting yang harus dilakukan untuk menyadarkan manusia khususnya manusia negara ini dalam memahami hakikat sebuah agama dan keimanan?

        E-mail: irsyadmuarif@gmail.com

  22. Selamat siang,
    Saya ingin bertanya. Beberapa tahun terakhir banyak penelitian yang membahas tentang fundamentalisme (1), percaya pada suatu kepercayaab dan dianggap sebuah kebenaran absolut. Mudahnya, bisa disebut iman. Sayangnya, fundamentalisme, spesifiknya pada pertanyaan ini fundamentalisme agama, berkaitan erat dengan prejudice (1), close-mindedness (1), intoleran (2), kesederhanaan berpikir (3), dan berbagai faktor lainnya.
    Altemeyer berpendapat, militansi merupakan inti dari fundamentalisme. Sedangkan Hood dkk. (4), berpendapat intratekstual fundamentalisme merupakan inti dari fundamentalisme.
    Pertanyaan saya, dari apa yang saya baca diatas, saya menangkap ada anjuran untuk berpikir kritis atas ajaran agama. Tentunya perubahan cara berpikir pemeluk agama akan merubah banyak hal. Merubah intoleran menjadi toleran, dalam kasus pilgub; prasangka (suudzan) menjadi khusnudzan, dalam kasus pribumi vs non-pribumi; dan faktor yang dianggap negatif lainnya. Meski belum tentu mengurangi militansi. Namun, jika merujuk pada Hood, dkk., yang mengatakan intratekstual fundamentalisme merupakan inti, kemudian melihat ajakan tersirat tulisan ini, saya merasa disonansi. Intratekstual dan kritis merupakan dua kutub. Jika anjuran kritis terhadap agama dilaksanakan, iman (aka fundamentalism) akan sulit karena adanya dilema dalam proses pengkritisan hal yang diimani. Pun juga akan terjadj bias dengan memilah fakta yang sesuai saja. Demikian, pertanyaan saya. Mohon tanggapannya, Ka.
    Terimakasih.

    Lihat juga:
    (1) Penelitian Altemeyer
    (2) Tesis Putra, Universitas Indonesia
    (3) Penelitian Hamdi Muluk
    (4) Buku Hood, dkk., berjudul The Psychology of Religion

  23. “Jika ayatnya benar, maka terjemahannya salah.

    Jika terjemahannya benar, maka tafsirnya salah.

    Jika tafsirnya benar, maka konteksnya salah.”

    Kutipan di atas menggambarkan bahwa kita pun sebenarnya punya kompas moral di luar agama. Kita bisa mengatakan “terjemahannya salah, tafsirnya salah, konteksnya salah” karena kita punya standar moral yang lepas dari kitab suci tersebut. Dengan standar moral itu kita cuplik ajaran-ajaran yang baik dari agama dan membuang yang buruk sisanya ke tempat sampah. Mengapa kita masih in denial bahwa kitab suci itu berisi ide manusia yang punya cacat dan tentu menyisakan banyak ruang untuk kritik?

    email: milopatihi@gmail.com

  24. Halo. Sebelumnya saya ingin tahu seberapa dalam kah penelitian yang dijabarkan oleh ali? Sekritis apapun ali dalam tulisannya. Adakah pendekatan sastra yang ia gunakan dalam memaknai Quran tersebut? Jika ada tolong beritahu saya sehingga saya bisa mengerti pandangan sang ali terhadap Quran yang saya rasa karya sastra tuhan terakhir dari kitab-kitab sebelumnya.

    1. Halo, Irsyad.. Ali tidak pakai pendekatan sastra. Umumnya, terkait ayat-ayat multitafsir, dia mengambil pandangan beberapa ulama. Sementara soal asbab al-nuzul, dia mengambil pandangan beberapa akademisi Islamic studies. Semuanya didekati dengan kaidah keilmuan umum (falsifiable, verifiable, reliable).

  25. bagaimana caranya menverifikasi kebenaran terkait klaim dari seseorang yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan sehingga pantas disebut Nabi?

    bagaimana tool untuk mengetahui bahwa sebuah wahyu itu adalah benar dari Tuhan? apakah ada semacam pedoman umum yang disepakati semua pihak terkait verfikasi klaim bahwa wahyu itu adalah benar2 wahyu dari yang mahakuasa bukan sekedar gangguan psikologi semacam skizofrenia?

    apakah diperlukan semacam penampakan? mukjizat atau hal hal lain di luar rasionalitas untuk membuktikan bahwa klaim seseorang mendapat wahyu tersebut adalah benar dari yang maha kuasa

  26. I enjoy your review thoroughly. Not everyday I came across an upfront brilliant mind, a student from infamous uni, nevertheless! Hope to win the book cause your review is mind trigger and I get thirsty for more. I had followed your blog btw. Am gonna put the question on the last, since I got to let go of the chaos inside my mind, after reading some of the comments. Would be very happy to win the book!

    First of all, I am moslem by birth, by people around me, and I do accept my situation. I held nothing against other religion because I grew up in chatolic-private school until Junior High and I do understand about their perspectives. I also held nothing against atheist since one of my close friend in college is one.

    Sometimes I found myself being trapped with people around me, the type of girls who subtly but continously pushed you to be like that; to be a person who shouldnt questioned anything regarding to Islam. But well, I grew up to be liberalist anyway. I hate it when people force their belief to me, as if they’re the only ones who knew everything better than other.

    I like my religion, I am still doing everyday pray, fasting and all. But at some rate some people using the religion to justified things, that even contradicting the humanity, are sickening.
    I get it that religion used to differentiated right from wrong; but what is religion when it used as to righteous the opression of other who belief different thing than us? What is religion when it used to oppress the minority? What is religion when it used against humanity?

    I dont see religion as the source of right or wrong anymore when peple use it to justified punishment for other who act differently.

    Religion supposedly walk with humanity, for humanity.
    Not being used against it.

    I dont believe in act of killing for the name of religion or any form of opression. Be it law for LGBT, gay marriage, infidelity, or whatever. Human are made alone, to bear their own life alone. Why in the hell should they use the name of certain religion to righteous the act that only based on their own personal interprestation is beyond my understanding.

    I dont say I dont believe in God. But I dont believe in people.

    When I watched Angels and Demons, one of the vatican priest said exactly the right thing in my mind ; “Jangan salahkan Tuhannya. Salahkan manusianya. Karena (intepretasi dalam) agama itu bisa bercela.” – “Don’t blame the Almighty. Blame the people. Because (intrepetation in the) religion is not perfect.”

    I trust it that there is greater force than everything in this world; where miracles happens and there is punishment for bad things.

    But I dont believe that guy;
    I dont believe that guy who act like he knew all the right thing and whoever thought otherwise is a sinner.
    I dont believe that girl who thought lower of them who doesnt do what she did or going outside with the same attire.
    I dont believe that guy who said others belief was wrong and they are condemned to hell.

    What I believe is your religion is solely yours to be responsible of. It’s not your mother, your father, or whoever out there bussiness. They got no right to gave a piece of damn about how one practicing their beliefs, as long as it doesn’t clash with humanity.

    Who cares about gay morale when you deliberately killing them? Who has more morale here, then? Did it make you a better person for doing the harm to others then?
    Who cares about morale of leader when he can bring the best of people’s welfare? Are you even morale enough to judge someone is less than you?

    I believe in God, but I dont believe religion as the reason for hurting someone.

    1. Why, your opinion, most people couldnt understand that? Why people only understand that there is wall between religion and humanity, that they sometimes don’t go well together?

    2. Will it be better if there’s no religion but one humanity codes and ethics for all people in this world, as in a rule of “first, do no harm, whatever the fuck your reason is”?

    3. We all know one of the weakness of a religion is the tendency of chaunivism, to think their belief is the only true one and other are just sinner. Do you think being atheist has weakness as well?

    Thank you for the opportunity!

  27. Salah satu hal yang masih mengganjal untuk saya, apa sebenarnya makna kekerasan, kebencian, dan bentuk-bentuk kejahatan dalam segala proses di dunia? Kalau mengambil sudut pandang berkutub, bila kejahatan memang diposisikan sebagai antitesis agama, apakah kejahatan benar-benar tidak memiliki peran dalam memperbanyak kebaikan?

    Email: hugohardianto98@gmail.com

  28. Dalam hukum pidana, kita akan dipidana untuk mempertanggungjawabkan tindak pidana yang telah kita perbuat, untuk hal itu maka kita di penjara.
    Lalu dalam hal neraka, mengapa ketika kita dapat masuk neraka?
    Jawabannya pastu karna dosa yg kita perbuat dalam hidup ini. Tapi sebelumnya, apakah kita pernah secara sadar dan tanpa paksaan memilih untuk hidup?
    Dalam hukum pidana, barangsiapa yg dapat dipidana adalah orang yg secara sadar melakukan tindak pidana, oleh karena itu ia harus MEMPERTANGGUNGJAWABKAN perbuatannya.
    Jadi, bagaimana kita tahu bahwa sebelumnya kita pernah memilih untuk hidup dengan kenyataan bahwa hidup adalah ketidakadilan menyeluruh (yg secara akal sehat mungkin ketika kita ditawari untuk hidup atau tetap dialam sana kita akan memilih untuk menetap disana) dan pada akhirnya secara tiba-tiba ketika kita mati, kita dipaksa mempertanggungjawabkan hal yg bukan merupaka pilihan kita?

  29. Selamat malam,
    Saya ingin bertanya mengenai doktrin ‘Predestinasi Ganda’ dalam agama Kristiani menurut sudut pandang John Calvin:

    Predestinasi merupakan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini telah dirancang dan ditentukan Allah, termasuk nasib dan takdir setiap manusia. John Calvin sebagai seorang reformator Protestan (dan ajaran-ajarannya berkembang menjadi Gereja Calvinisme) mengungkapkan istilah “Predestinasi Ganda (Predestinasi Keselamatan dan Predestinasi Reprobasi)” dimana ada sekompok manusia yang mendapat keselamatan dan ada sekolompok manusia yang sudah ditentukan nasibnya oleh Allah untuk hukuman abadi dan kebinasaan akibat dosa asal.

    Pertanyaannya:
    1. Bagaimana sebagai seorang Kristen Calvinisme dapat meyakini dan mengimani ajaran ‘Predestinasi Ganda” dimana Allah, sejak semulanya, sudah memilih dan menakdirkan ada manusia yang mendapat keselamatanNya dan masuk surga, di sisi lain ada manusia yang ditakdirkan untuk mendapat hukuman abadi dan kebinasaan akibat dosa asal? kalaupun doktrin itu benar adanya, bagaimana mungkin Allah yang belas kasih itu membiarkan umatNya mendapat penghukuman abadi dan kebinasaan akibat dosa asal?
    St. Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Evangelium Vitae art. 61 menulis “juga di situ, ketika ia masih dalam rahim ibu, manusia menjadi sasaran pribadi penyelenggaraan kebapaan Allah yang penuh kasih.”
    Jika disangkutpautkan dengan doktrin Predestinasi Ganda, dimanakah letak Kebapaan Allah yang penuh kasih? bukankah tindakan Allah dalam doktrin Predestinasi Ganda lebih menggambarkan (secara kataphatik) Allah sebagai hakim yang ‘mengerikan’ dibandingkan Allah yang adalah Bapa yang penuh kasih?

    Terima kasih

    Jacko Ryan (17 Tahun), SMA Kolese Gonzaga, DKI Jakarta.
    email: jackoryan28@yahoo.com

  30. apa tujuan tuhan menciptakan ini itu dan membuat skenario ini itu? iseng iseng aja karena terlalu omnipotent lalu gabut?.
    Kenapa baru pada tgl 31 Desember dalam kalender kosmik tokoh utama -makhluk tuhan paling sempurna- manusia, dimunculkan dalam skenario?. Apakah apa yang terjadi since the very beginning adalah untuk mempersiapkan eksistensi manusia?. Kenapa butuh persiapan?. Kenapa, kenapa, dan kenapa. Tidak usah repot-repot dijawab “Karena Tuhan ada di luar jangkauan akal manusia”.

    email: fisalfrohman@gmail.com

  31. Selamat malam,
    Saya ingin bertanya,
    Jika tuhan maha tahu segalanya, mengapa pula manusia harus berdoa, rajin beribadah, hanya untuk mengejar surga. Bukankah sebelum lahir, manusia tersebut sudah ditakdirkan akan begini, akan begitu, bahkan mungkin sudah ditetapkan akan masuk surga atau neraka. Belum lagi, manusia dikasih kehendak bebas oleh tuhan. Ini semakin absurd bagi saya…

  32. Al-qur’an itu tuntunan hidup secara tekstual, dan dalam penerapannya sangat kontekstual. Penafsiran ayat al-qur’an erat hubungannya dengan budaya dan sastra maupun tatabahasa arab dizamannya dan dimana ayat-ayat tersebut diturunkan dan dalam kondisi seperti apa. Hal itu sangat berpengaruh terhadap bagaimana cara kita memahami suatu ayat dan menyesuaikannya dengan konteks zaman saat ini… Lalu mengapa orang-orang kerap menggunakan ayat al-qur’an sebagai pembenaran atas apa yg tidak mereka pahami seutuhnya…? Dimana yang salah ?

  33. buku ini dibuat untuk menimbulkan perbedaan dan paradikma baru, lagi pula landasan buku ini hanya pada fakta dr opini seseorang. kita bisa melihat dimanakah jumlah penduduk atheist yg paling banyak… apakah perilaku yang mereka perbuat sudah mencapai yang semestinya. sy meng apresiasi buku ini.. tp landasannya sangat cetek.. tidak dipikir secara long term untuk masyarakat

    1. Anda sudah baca bukunya?

      1. Negara paling tidak religius adalah yg paling damai http://www.patheos.com/blogs/epiphenom/2009/06/atheist-nations-are-more-peaceful.html
      2. Negara dengan pendidikan terbaik di dunia (Finland) adalah negara dengan mayoritas ateis (60%) http://www.impactlab.net/2006/03/26/the-50-countries-with-the-highest-percentage-of-atheists/
      3. Negara dengan teknologi termaju kedua di dunia (Jepang) adalah negara dengan mayoritas ateis (65%) https://www.thetoptens.com/high-tech-countries/
      4. Negara paling bahagia di dunia (Denmark) adalah negara dengan mayoritas ateis (80%) https://www.forbes.com/pictures/geeg45edkjh/1-denmark/

      Dan masih banyak data-data lainnya, dapat ditemukan dengan mudah di mana-mana. Jadi, dampak apa yang Anda maksudkan “long term effect” dari buku ini? 🙂

      1. I want to tell you many things, but maybe later. I found a different case. saran aja, kalo bisa beri sy skrip analogi universal, jgn hanya atheist saja. agar pesan anda bisa sampai ke sy, dan begitu sebaliknya..

  34. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam sukses untuk kita semua!

    Pertama, Saya sangat kagum membaca ulasan Saudari mengenai buku Ali Amjad Rizvi tadi. Tulisan yang komprehensif, terstruktur, pula mudah dipahami membuat ulasan ini layak diacungi empat jempol sekaligus. Kebetulan Saya terlahir di keluarga muslim yang moderat dengan kadar keislaman yang tidak terlalu kental. Keadaan ini membuat Saya memiliki keleluasaan tersendiri untuk merenungkan dan memikirkan Islam secara lebih bebas (seringkali nyeleneh/berbeda dari kawan-kawan Saya di Rohis) untuk mencapai keyakinan yang rasional terhadap Allah Swt.

    Sebenarnya, pertanyaan Saya sangatlah sederhana. Kita semua tahu bahwa Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, diturunkan kepada Muhammad S.A.W. di Jazirah Arab. Di era tersebut, teknologi informasi maupun transportasi belumlah semapan yang kita lihat kini. Mari kita asumsikan seluruh ayat Qur’an telah turun pada Tahun X. Pada saat yang sama, masyarakat Jepang masih menyembah Amaterasu (Dewi Matahari). Dengan jarak, hambatan geografis, dan keterbatasan teknologi yang merintangi Arab dengan Jepang, maka syiar Islam tidak mungkin mencapai Jepang pada saat itu juga. Apabila ajaran Islam baru sampai di Jepang pada Tahun X+1, apakah orang-orang Jepang yang wafat sebelum tahun tersebut harus mengalami siksaan di neraka karena mereka tidak mengimani Islam? Padahal mereka tidak memeluk Islam bukan karena pilihan, melainkan akibat ketidaktahuan.

    Demikian pertanyaan yang Saya sampaikan. Tanggapan dan opini Saudari Cania akan terus Saya nantikan. Tidak lupa Saya sudah menyebarkan tautan ulasan ini ke sejumlah sahabat untuk turut terlibat dalam diskusi ini. Semoga tulisan-tulisan Saudari dapat mengayakan pemikiran para pemirsanya. Sekian dan terima kasih!

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Gandhi Mardiansyah | SMA Negeri 78 Jakarta | Tangerang, ID

    Alamat posel: gandhimar99@gmail.com

    1. wah… mas luar biasa, dulu waktu SMA kelas 1 sy sering bertanya2 tentang tuhan atau allah. sempat jd atheist sy rasa.. kebetulan sy SMA ditempatkan di pesantren, lebih tepatnya menganut international islamic boarding school, sempet frustasi disuruh baca ini hapal ini itu, belum lagi tuntutan di pelajaran, gk tau apa tujuannya. Nah tiba2 kami dapat guru baru.. dia bisa dibilang syaikh, dia lulusan kairo. mungkin orang kira syaikh tua,jenggotan,segala macem lah.. cuman enggak, dia kaula muda banget.. ngerti apa aja, dia termasuk ngajarin sy tentang birsa saham. oke next, di tingkat 2 sy mencapai pada tingkat pencarian tuhan/ kehidupan yg sebenarnya. sy bertanya pertanyaan seperti anda. namun kasus sy itu tentang syiah, dia hanya tau itu agama yg ada dan paling benar… terus dia bilang dengan simple.. ” mereka bakal masuk syurga… kecuali, mereka tau adanya agama islam namun tidak mencari tau dan mendalaminya” nah itu… jd intinya sih islam itu buat orang yg mau berfikir dan melihat dengan petunjuk yg diberikan.

      1. Salam kenal Mas Irsyad. Wah, Mas beruntung sempat mengenyam pendidikan SMA di sekolah berbasis ajaran Islam. Setidaknya, Mas punya banyak guru yang bisa menjawab semua rasa pensaran tentang dunia teologi. Sedangkan Saya, hanya merasakan pendidikan nuansa Islam semasa SD, pun tidak terlalu kental. Terus terang Saya juga punya banyak sekali pertanyaan tentang hal-hal mendasar keagamaan dan ketuhanan seperti Mas. Selain itu, Saya juga membuat sendiri sejumlah teori-teori ‘usil’ terkait ini. Alhamdulillah Saya belum pernah menjadi agnostik, lebih-lebih atheis seperti pengalaman Mas, hehehe. Senang bisa saling bertukar pengalaman!

        Omong-omong, Saya jadi teringat masa-masa SMP ketika Saya mempersepsikan Allah sama dengan energi setelah belajar hukum kekekalan energi. Agak lucu juga sih, tapi namanya juga teori usil.

    2. Pertanyaan yg sama jg melintas di benak saya . Kebetulan sy tinggal di Jepang sdh lbh dr 5 tahun.
      Yg sy yakini dr ajaran Islam surga neraka itu haknya Allah dan jika Islam dianggap hanya ajaran Nabi muhammad, maka tdk mgkn Quran mnyatakan nabi2&rasul lain sblm zamannya muhammad SAW dan terlalu sempurna jika seoranf muhammad yg mengarang kIsah2nya.

      Sy jg penasaran dgn keimanan org2 jpg yg mbuat mereka disiplin dan taat aturan shg maju pesat negaranya. Kemudian sy mpelajari sekilas ttg shinto, yg mjd akar filosofis org jpg yg mgkn ajarannya sdh dlupakan tp ritualnya msh tsisa hingga saat ini.
      Dr yg sy baca ajarannya, sy menemukan benang merah dgn ajaran tauhid terutama jika sdh masuk ke dalam aspek metafisiknya, dalam islam biasa dibahas dalam kajian tasawuf. Sy jg msh belajar, tp apa yg temukan sndiri mbuat titik terang yg semoga terus mencerahkan. Seringkali kita terjebak dr referensi2 yg salah shg bias thdp pmahaman. Dr yg sy baca, sy myakini bhwa matahari itu hanya simbol dr DzatNya yg mencerahkan jiwa2 yg bersih, jiwa sblmnya tertidur. Tp tentu pbahasan sy ini masih dangkal, sy msh terus ingin belajar.
      Sisi lainnnya, Yg sy pelajari dr jepang jg, meski mereka maju dr sisi teknologi, tp generasi mudanya rentan dan rapuh dr segi mental. Dan ada jg sebagian dr mereka, terutama yg tua, walaupun mereka tidak menyatakan identitas agama tertentu tp mereka sgt relijius/percaya akan kekuatan yg Maha Besar. Rumah2 ibadah shinto dan kuil di jpg sgt kuat perannya dalam pnyelenggaraan ritual2 dan masuk ke dalam kalender nasional. Sy pikir inilah yg masih menyeimbangkan kehidupan duniawi dan spiritual org2 jepang hingga saat ini.

    3. Terima kasih sudah membaca dan membagikan ulasan saya 🙂 Kamu besar dari keluarga yang sama dengan Ali jadi bisa saya bayangkan kamu bisa lebih bebas berpikir. Pertanyaannya mungkin sudah dijawab oleh mas Irsyad ya. Kalo saya akan menjawab wallahu’alam bissawab saja 🙂

  35. 1. Ketika seharusnya agama adalah sebagai suatu dasar, penjaga dan tuntunan bagi kita untuk menghindari hal-hal yang tidak baik atau bahkan untuk melakukan kegaitan yang menyakiti atau menyengsarakan diri sendiri maupun orang lain. Namun sekarang pada kenyataanya agama malah dijadikan landasan dan legalitas untuk melakukan sebuah tindakan kriminal, siapakah yang salah disini? Manusia yang beragama? agama? ataupun penalaran kita terhadap agama yang memang sudah tidak relevan dengan kehidpuan zaman sekarang? lalu apabila suau hari nanti agama menjadikan suatu dasar penyebab perpecahan dan peperangan di dunia ini, apakah agama harus dihilangkan dari muka bumi ini? apakah dengan tidak hadirnya eksistensi agama didunia ini akan membuat dunia menjadi lebih baik, atau malah kembali ke zaman jahiliyah?

    2. Apakah benar apabila suatu agama masuk menjadi dasar hukum dan sistem pemerintahan di satu negara, itulah saat kehancuran suatu negara? Karena pada dasarnya hukum adalah produk sekuler dan tidak bisa dicampuradukkan dengan agama. Hukum yang dicampurkan dengan agama akan menyebabkan hilangnya ketajaman dari mata pedang dari hukum itu sendiri, seperti contohnya ketika para ulama yang melakukan tindakan kriminal atau pelanggaran hukum seharusnya mereka dijerat hukum, namun hukum ini tidak bisa menjerat mereka atas dasar mereka adalah ulama agama yang dituakan dan dianggap tidak pernah salah. Bagaimana menurut anda?

    wditarizky@gmail.com

  36. Mengapa Tuhan harus mengutus manusia yang berlabel nabi sebagai perantara terhadap umat lainnya di dunia ini? Apakah Ia tidak bisa membuat satu mukjizat saja agar seseorang mempercayaiNya? Karena selain pada satu sisi Tuhan telah mendiskriminasi ciptaannya yang sejenis (manusia). Disisi lain Tuhan memperlihatkan ketidakmampuanNya berdiri sendiri sebagai Sang Maha Segalanya.

    Email: fikriasmara16@gmail.com

    1. Carilah keadilan yg sejati mnurut anda, deskripsikan scr jelas dan rinci shg dpt diterima oleh seluruh manusia.
      Adakah yg lebih adil dr keadilan Allah yang sedang menguji ciptaanNya utk berpikir dgn karunia akalnya dan Ia akan memilih org2 yg menemukan Dia dr segala ciptaanNya. Kegalauan2 itupun terjadi pd para Nabi dan Rasul sblm dibimbing olehNya. Kisah pencarian Tuhan oleh Ibrahim AS adl sejarah bsr bagi agama2 langit yg sejatinya satu agama dan salah satu jalan setapak menuju Allah.
      Jika ada jalan yg lebih baik dan yang memuaskan hati dan membahagiakan anda dr jalan yg ditempuh Ibrahim AS dan nabi2 lainnya, mohon dishare disini.

  37. Ada 3 pertanyaan gw wktu msh smu thdp ke kristenan yg jg mungkin td titik awal gw mendalami kristen sbgt agama yg d perkenalkan org tua.

    1. Jk konsep tritunggal yg mengatakan allah (bapa),yesus (anak), dan roh kudus adalah 1 pribadi,lalu kenapa ketiga sosok itu bs bertemu dlm satu moment yg sama? (Saat yesus d salib dan dia berkata pd allah,eloi eloi sabathani?)jg pd saat itu turun roh kudus.atau knp yesus msh jg hrs berdoa kpd bpa d taman getsmani ketika mau d tangkap tentara romawi?

    2. Jika yesus adalah tuhan yg rela diturunkan ke bumi untuk menjadi penebus dosa2 manusia,dan berperan sbg manusia “daging” yg memiliki rasa marah (saat bait allah d gunakan utuk berdagang),yg memiliki rasa haus dan lapar (krn yesus jg makan dan minum),lalu knp tidak d ceritakan soal kebutuhan sexualnya?

    3. Jika allah sbg pencipta bumi dgn sgl kehidupan jg dgn smua penguhuninya,lalu ketika iblis (setan) d tugaskan untuk menggoda umat manusia agar jauh dr tuhan,lalu knp setan pada akhr jaman d tempatkan d neraka? Bkan kah setan/iblis telah berhasil menjalankan peran ny?

    1. 1. Jawaban versi iman Kristen: Sejauh langit dari bumi jauhnya rancangan-Ku dari rancanganmu. Jadi, kita tidak akan bisa mengerti kenapa Yesus ngobrol dengan dirinya sendiri 🙂
      Versi iman Islam: Nah Yesus memang bukan Tuhan tapi nabi 🙂

      2. PERTANYAAN BAGUS! Versi saya: Karena agama Yesus memposisikan seks sebagai sesuatu yang kotor. Bahkan ibunya Yesus sendiri diposisikan perawan kan? Kristen lebih terobsesi pada selibater, berbeda dengan Islam yang justru embrace itu sebagai bagian dari kemanusiaan.

      3. Karena itu bagian dari perannya juga! HAHAHAHAHAHAHAHA

  38. Haii kak citta saya hendak bertanya. Mengapa ajaran dalam agama tidak selamanya selaras dengan ilmu pengetahuan? Bukannya ajaran dalam agama juga menuntun manusia untuk hidup dengan jalan yang benar. Contohnya pada kasus penemuan teori asal usul manusia (dalam hal ini Charles Darwin mengemukakan bahwa manusia pertama ber evolusi dari kera tetapi dalam kitab suci agama islam dikatakan bahwa manusia pertama adalah nabi adam dan hawa) lalu apakah Tuhan benar-benar membiarkan suatu umat mengalami penderitaan yang berkepanjangan dimana umat tersebut tak banyak melakukan tindakan dosa. Seperti di Suriah. Jika memang Tuhan menyayangi umatnya, mengapa Tuhan tak segera memberikan pertolonganNya? Mengapa Tuhan selalu membiarkan kejahatan menang terlebih dahulu? Apakah kita sebagai sisi kebaikan hanya membiarkan dengan pasrah kejahatan memenangkan pertempuran terlebih dahulu? Bahkan hingga mengorbankan insan-insan yang tak bersalah. Terima kasih dan mohon jawabannya yaa kak 🙂

  39. Mengapa di zaman sekarang islam seperti rumit sekali, sukar dilaksanakan, banyak kontra dan rasanya harus diluruskan? Kenapa sulit sekali menjalankan islam secara benar? Apa karena islam adalah agama yg “sangat sempurna”?

  40. Di dalam Islam iblis disebutkan bahwa dia tercipta dari api, lalu dia tidak mau bersujud kepada Adam karena dia sombong.
    Mengapa Iblis dan keturunannya dikutuk oleh Tuhan karena hanya melakukan 1 kesalahan/dosa? Padahal dia sudah beribadah beribu2 tahun.

    anindyaputri62@yahoo.com

  41. Haloo kak citta saya mau tanya mengapa ilmu pengetahuan tak selamanya selaras dengan agama? Sementara banyak penemuan manusia yang tidak sesuai dengan cerita-cerita di dalam kitab suci berbagaI agama (misal teori asal-usul manusia purba berasal dari kera yang kontradiksi dengan kisah nabi adam dan hawa turun dari surga). Sehingga banyak orang yang menganggap kitab suci berisi dongeng semata yang tidak selamanya bisa dibuktikan secara nalar oleh akal manusia. Lalu seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter eropa pada zaman dahulu yang membedah mayat dari orang-orang yang dihukum mati, guru agama Islam saya pernah mengatakan bahwa mayat masih bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika dibedah. Di sisi lain pembedahan terhadap organ tubuh manusia juga bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia di masa yang mendatang karena dokter dapat menjadi tahu berbagai permasalahan organ manusia dan menolong jutaan jiwa dari berbagai penyakit. Intinya, jika larangan dalam suatu agama dapat membantu kehidupan banyak umat, apakah larangan tersebut menjadi tidak sah lagi? Sama kah hal nya dengan surah Al maidah ayat 51 ? Terima kasih

    1. Pertanyaan yg menarik. Mnurut hemat saya, ketika sudah bs hidup di planet lain berarti sdh didukung oleh para ahli, data dan teknologi satelit, astronomi yang mumpuni.
      Jika dr hsl perhitungan astronomi memungkinkan ka’bah di bumi sbg kiblat yg satu, yg menyeragamkan arah shalat, maka itu yg diambil. Tp jika tdk memungkinkan, maka para ahli astronomi dan para ulama dapat menyepakati letak kiblat baru di planet itu yg mampu menyeragamkan arah kiblat. Tp tentu titik kiblat baru ini tidak dapat menggantikan kabah yg memiliki keutamaan dlm ibadah haji dan historis dlm sejarah umat manusia. Jd, kl ibadah haji ttp hrs ke bumi dan kembali kabah sbg kiblat. Wallahualam.

  42. Beberapa diantara orang-orang non muslim tidak pernah memilih agama, mereka dari lahir hanya ikut dgn orangtua shg menjadi non muslim . Artinya menjadi orang kafir bukanlah pilihan dan kehendak mereka, melainkan takdir dari Allah yg telah menciptakan mereka untuk dilahirkan dari turunan kafir. Singkatnya, Allah yang menentukan takdir orang tersebut, kemudian Allah pula yang menghukum. Apakah seperti itu? Jadi untuk apa Allah menghukum mereka sementara Allah yg dari awal sudah berkehendak agar mereka kafir?

    1. Menurut saya tidak ada satupun tuhan yg berkehendak kita menjadi kafir. Tapi kita sendiri yg memilih untuk menjadi kafir. Kita yg membuat pilihan walaupun pada awalnya pilihan yg memilih kita.

    2. Dalam ajaran islam, semua manusia terlahir fitrah/suci/berserah pd Tuhan yg esa, tanpa kecuali. Pd umumnya keluarga lah yg mjadikannya mmiliki identitas agama tertentu.
      Seiring berjalannya pendewasaan,sbg insan yg berakal dan berpikir, akan mengalami pencarian jati dirinya. Dr mana aku? Mngapa aku hidup? Utk apa aku hidup? Mngapa ada mati dsb.
      Pd proses inilah kita diberikan free-will dr Tuhan utk mencari dan menentukan pilihan keyakinan yang mampu mjwb akan eksistensi dirinya, bukan agama identitas belaka.
      Dalam ajaran islam, org yg lebih mengenal dirinya maka akan lbh mengenal Tuhannya. Jd proses ini fundamental bagi setiap manusia, tmsk yg mengaku sudah islam. Krn org yg berserah kpd Allah Tuhan yg Esa tdk tercermin pd identitas belaka tp ia terbangun pd hati yg terdalam shg terwujud dlm bntuk keimanan yg kokoh, spt idealnya para nabi, rasul dan wali Tuhan. Merekalah cermin2 sbg bukti buah keimanan, shg mampu berdialog dgn Tuhan, dibimbing hatinya oleh Tuhan, penuh cinta kpd sesama manusia.
      Maka hidup sejatinya adl mencari diri dan setiap org akan btg jwb akan proses yg dbebaskan Tuhan ini. Surga neraka bkn dtentukan identitas agama,tp keberserahan diri kepada Tuhan yg Esa.
      Alquran dan Muhammad Saw adalah panduan dan teladan yg mmudahkan kita mengenal Tuhan. Begitu jg injil yg msh asli dan Yesus/Isa AS, dan kitab2 serta ajaran nabi2 yg tsrbar ke seluruh penjuru, semuanya bermuara pada ajaran yg sama, Islam, yaitu berserah pada Tuhan yg Esa.

      1. Anda bicara soal injil yang masih asli, bagaimana dengan Quran? Apakah yang Anda pegang sekarang adalah Quran yang masih asli? Apakah masih sama dengan Quran di jaman scriptio defectiva? Nyatanya tidak. Apakah sama dengan mushaf Usman? Nyatanya yang menyebar sekarang cetakan Kairo 1924. Tolong belajar untuk tidak merendahkan iman orang lain dan merasa paling benar sendiri. Terima kasih.

      2. Pernyataan sy manakah yg mnunjukan bahwa saya merendahkan iman orang lain?
        Anda menyuruh saya belajar tp anda sendiri yg merendahkan ‘org yg beriman’ dan menyatakan terang2an bahwa otentisitas quran itu ‘omong kosong’. Why??

        Sy hanya mngungkapkan fakta ttg keaslian injil, dan mjd sandaran cara islam meluruskan pemahaman, bukan memaksakan loh ya, krn Islam melarang maksa2. Jika anda meyakini injil saat ini dan tidak meyakini quran ya gpp. Kl ga yakin 22nya jg monggo, yg penting jelas posisi anda dmn.

        Mengenai perubahan quran, jika yg dimaksud quran dlm bntuk buku/kitab, pjelasan singkatnya, mmg ada perubahan dr cara penulisan dan penyusunan mushaf, letak surat, penggalan/jumlah ayat. Tp dari segi isi, tidak ada perubahan sama sekali. Banyak yang hafal quran scr turun temurun dr zamannya muhammad dan saat pengumpulan mjd kitab/buku dr para penghafal quran ini menggunakan metodologi yg dpt diuji scr ilmiah.

        JIka referensi anda ttg keaslian quran ini hanya dr perspektif orientalis, luthfi assyaukanie saja sy bs pahami. Jika anda tertarik lbh jauh bs dilihat metodologi yg dgunakan orang2 beriman, agar lbh adil. Maaf, sy hanya ikt2an mnggunakan terminologi anda (org beriman.red) ;p

    3. Kafir adalah nasib.
      Tapi, lahir dari orang tua kafir adalah takdir.
      Kalo Anda bertanya, mengapa Allah tidak mencegah orang lahir dari orang tua kafir?
      Maka jawabannya, karena Allah ingin mengujinya.
      Kalo Anda bertanya lagi, mengapa Allah menguji secara tidak berimbang?
      Maka jawabannya, karena Allah punya takdir yang terbaik untuk setiap orang.

      Begitu seterusnya sampe Yesus turun lagi.

  43. Mengenai tafsir ISIS, hanya ada 2 kemungkinan:
    1. Tafsir ISIS benar, maka Quran mengandung ajaran yang sangat jahat dan keji.
    2. Tafsir ISIS salah, maka Quran jauh dari sempurna karena dapat membuat penafsirannya menjadi sangat jahat dan keji.
    Menurut Anda mana yang benar?

    Email: a03857@gmail.com

    1. 3.tafsir isis salah,maka quran 180 derajat tidak mengajarkan kejahatan.
      Kenapa kok bisa tafsir salah?dikarenakan dalam menafsir,dibutuhkan sebuah metode.setau saya ISIS menggunakan cara pikir tekstual.shg kesimpulan yg didapatkanpun salah.
      Metode yang benar ada metode ilmiah.shg kesimpulan tsb akan benar.dengan mengetahui konteks,bahasa,latar belakang,dll dalam turunnya ayat

      1. @anonym
        Nih Anda sudah disambut hangat oleh orang beriman. Katanya tidak boleh tekstual, tapi entah kenapa masih ada saja yang memakai Al-Maidah 51 secara tekstual, begitu juga dengan kewajiban berjilbab. Dan yang mengajarkannya tidak dipandang sesat seperti ISIS.

  44. Mengenai tafsir ISIS, hanya ada 2 kemungkinan:
    1. Tafsir ISIS benar, maka Quran berisi ajaran yang sangat jahat dan keji.
    2. Tafsir ISIS salah, maka Quran jauh dari sempurna karena bisa membuat penafsirannya menjadi sangat jahat dan keji.
    Mana yg menurut Anda benar?

    Email: a03857@gmail.com

  45. Terima kasih untuk ulasannya mbak Citta. Saya sebagai salah satu penerima hadiah agama sejak lahir, merasa belum cukup “beruntung” seperti orang tua ketika mencari dan menentukan katolik sebagai landasan mereka, berbeda dari tradisi kakek-nenek. Mbak Citta sudah menjelaskan bahwa tidak ada dua orang pun di dunia yang memiliki kesamaan pemahaman akhir tentang dunia, sama seperti tiap individu di keluarga kami.
    Lalu sebagai suatu tradisi, bagaimana menurut mbak Citta tentang proses mencari-cari alasan untuk menguatkan kepercayaan dengan sikap ‘pasrah’ pada keterbatasan memahami Tuhan dari berbagai perspektif (agama sebagai ide)?
    Terima kasih untuk artikel selanjutnya, semoga dapat mengelaborasi dari semua pertanyaan.

  46. Buku ini mengesankan bahwa Muslim tidak melulu identik dengan Islam; Muslim bukan identitas umat Islam, melainkan Muslim sebagai identitas budaya. Pertanyaan saya, apakah makna Muslim yang demikian (sebagai identitas budaya) dimaknai oleh Ali A. Rizvi karena ada pergeseran konteks yang ia amati atau tidak? Ataukah makna harfiahnya memang sudah seperti itu? Kalau dasarnya adalah yang pertama, maka menjadi keliru jika Ali ‘memaksakan’ makna seperti itu. Tetapi kalau Islam memang merupakan produk budaya, maka tepat jika Ali mengkampanyekan itu dalam karyanya. Ya, sebagai upaya penjernihan kembali makna Muslim. Meski demikian, apapun nanti penjelasannya tentang ini, kesan bahwa Muslim tidak melulu identik dengan Islam pada akhirnya gugur dengan sendirinya.

  47. Aku awali ini dengan diktum Sartre bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Bebas adalah awalan mahal dari kelahiran manusia ke dunia. Bebas termasuk menentukan kepercayaanku, bukan sekedar menentukan agamaku. Aku harus jujur bahwa kepercayaan tidaklah sempit seperti berpikir aku memiliki Tuhan yang disembah beserta tetek bengeknya. “Aku tidak percaya Tuhan” adalah bentuk kepercayaan juga!

    Yang menjadi pertanyaanku adalah, apakah definisi agama yaitu tidak kacau (berdasarkan Sansekerta) adalah bentuk real dari keinginan menghadirkan agama ke dunia? Apakah hadirnya agama adalah awalan dasar dari pengekangan paling primitif dunia?

    Aku bila tak beragama pun tahu bahwa membunuh itu tak pantas, karena adanya harkat martabat yang dipertaruhkan dari manusia sebagai mahluk superior di dunia!? Kurasa bebas adalah cerdas sebagai mahluk sosial dan tatanan hanyalah awal dari pembodohan! Aku hanyalah manusia yang tahu bahwa aku tidaklah tahu apa-apa…

    herrisf@yahoo.co.id

  48. Selamat pagi kak, salam kedamaian.

    Pada dasarnya, setiap manusia tidak dapat tidak memilih. Sebab, tidak memilih apapun itu sudah menjadi suatu pilihan. Setiap pilihan di dasari dengan adanya kebenaran, adanya kebenaran akan melahirkan keyakinan, dan keyakinan tersebut akan menjadi pedoman hidup.

    Adalah hal yg wajar apabila agama dianggap suatu kebenaran. Karena bila agama bukanlah kebenaran, tidaklah akan mungkin umat beragama mengimani atau meyakini sesuatu yang tidak memiliki kebenaran. Namun sejatinya, kebenaran itu bersifat tunggal dan bukanlah relatif. Bila ada kebenaran yg bersifat jamak dalam suatu wilayah, maka hal itulah yg akan menimbulkan perdebatan demi perdebatan untuk mencari kebenaran tunggal tersebut, yakni “kebenaran sejati”.

    Dan dapat di lihat, begitu banyaknya agama di muka bumi ini. Kendati demikian, itu menandakan bahwa kebenaran pada wilayah agama bersifat jamak, bukanlah tunggal. Maka agama dapat di katakan bahwa belum memiliki kebenaran sejati. Sebab, bila pada agama memiliki kebenaran sejati, tidaklah akan ada lagi perdebatan antar umat beragama yg sudah berlangsung dalam tiap peradaban dan yg pasti agama hanya satu di muka bumi ini (tunggal).

    Pertanyaannya : Apakah selama ini umat beragama bertahan hidup dengan mengimani sesuatu yg belum memiliki kebenaran sejati?

    email : mukrizaltanjung@gmail.com

  49. Selamat pagi kak, salam kedamaian.

    Pada dasarnya, setiap manusia tidak dapat tidak memilih. Sebab, tidak memilih apapun itu sudah menjadi suatu pilihan. Setiap pilihan di dasari dengan adanya kebenaran, adanya kebenaran akan melahirkan keyakinan, dan keyakinan tersebut akan menjadi pedoman hidup.

    Adalah hal yg wajar apabila agama dianggap suatu kebenaran. Karena bila agama bukanlah kebenaran, tidaklah akan mungkin umat beragama mengimani atau meyakini sesuatu yg tidak memiliki kebenaran. Namun sejatinya, kebenaran itu bersifat tunggal dan bukanlah relatif. Bila ada kebenaran yg bersifat jamak dalam suatu wilayah, maka hal itulah yg akan menimbulkan perdebatan demi perdebatan untuk mencari kebenaran tunggal tersebut, yakni “kebenaran sejati”.

    Dan dapat di lihat, begitu banyaknya agama di muka bumi ini. Kendati demikian, itu menandakan bahwa kebenaran pada wilayah agama bersifat jamak, bukanlah tunggal. Maka agama dapat di katakan bahwa belum memiliki kebenaran sejati. Sebab, bila pada agama memiliki kebenaran sejati, tidaklah akan ada lagi perdebatan antar umat beragama yg sudah berlangsung dalam tiap peradaban dan yg pasti agama hanya satu di muka bumi ini (tunggal).

    Pertanyaannya : Apakah selama ini umat beragama bertahan hidup dengan mengimani sesuatu yg belum memiliki kebenaran sejati?

    email : mukrizaltanjung@gmail.com

  50. “Biarkanlah semuanya bersemi…”

    saya juga setuju dgn hal ini.
    sy mendukung penuh terciptanya kedamaian, keharmonisan, dan kebebasan memilih dan menjalani, dlm hal ini, keimanan/keyakinan sso.

    namun yg namanya kepercayaan, akan sll ada (atau setidaknya itu yg sy tahu sejauh ini) perbedaan value penganutnya.

    seperti yg sudah dibahas di review ini, value sso mengenai hal2 yg berkaitan dengan nilai2 moral (kekerasan, keadilan) bisa berbeda.

    Apa yg menurutnya baik.
    Apa yg menurutnya buruk, adil, tidak adil.

    Bahkan teroris bs dianggap sebagai pahlawan bagi mereka yg se-value dan atau diuntungkan dgn tindakannya.

    So,

    What is the right thing to choose?

    Apakah yg baik itu adalah yg tdk merugikan org lain.

    Apakah yg baik itu yg dibebaskan berekspresi.

    Apakah yg baik itu yg tdk melukai, membunuh, menyebabkan kerugian bg org lain.

    Jd kembali ke kalimat yg dikutip di awal.

    “Biarkanlah semuanya bersemi…”

    Bagaimana jika dengan dibiarkannya setiap individu secara bebas mengeksplor keimanan/ kepercayaannya, dlm prosesnya, apa yg ia yakini benar/baik adalah yg membawa kerugian/ ketidakadilan bagi individu lainnya?

    Saya tahu akan selalu ada perbedaan…
    Tapi bagaimana jika perbedaan itu adalah sesuatu yg terkait hidup-mati, ketenangan, kenyamanan kehidupan individu dengan keyakinan yg lain?

    I hope i make sense with all this writing 😂

    normayulitaendo@gmail.com

  51. Terima kasih atas review-nya, saya salah satu pengikut Ali di Twitter, saya rasa dia adalah salah satu ex-muslim yang paling vocal setelah Ayaan Hirsi.

    Jika dilihat pada zaman ini, penyeberan agama Ibrahim sudah menyeluruh ke seluruh dunia. Baik penyebarannya dengan perdagangan diikuti dengan dakwah yang damai, hingga peperangan dari era awal Islam dan juga Spanish Inquisition yang dilakukan oleh Ferdinand II. Setelah ratusan tahun penaklukan itu terjadi, lalu ditambah lagi dengan kolonialisme di daerah yang pernah “ditaklukkan” oleh kedua agama besar itu, negara-negara tersebut masih terus memegang teguh sisa-sisa ajaran yang dulu datang tanpa pernah diundang. Kebanyakan negara-negara religius yang percaya semua hal terjadi dikarenakan “act of god” masuk dalam kategori dunia ketiga. Pendidikan yang buruk, KKN yang merajalela, hingga jaminan kesehatan yang sangat memprihatinkan. Padahal, dalam agama selalu diajarkan hal yang baik. Sedangkan negara-negara yang sudah meninggalkan Tuhan justru jauh lebih maju, contohnya seperti negara-negara Skandinavia yang memiliki pendidikan terbaik, jaminan kesehatan gratis. Bagaimana hal ini bias terjadi?

    email; hanyaracauan@gmail.com

  52. Halo Cania, tulisan mengenai ulasan buku ini sangat menarik karena membuat pembacanya berefleksi tentang keimanannya pada agamanya masing-masing!

    Pertanyaan saya:

    Jika seorang gnostik teis sedang menghadapi masalah teramat berat yang membebani psikologisnya cenderung ”membagi” atau ”menyerahkan” bebannya kepada tuhan yang ia percayai, entah itu melalui doa, ibadah, ritual, atau saat teduh, sehingga ia merasa (tersugesti atau mensugestikan diri) bahwa beban masalahnya tidak terlalu berat.

    Bagaimana dengan seorang agnostik ateis atau gnostik ateis ketika mereka sedang menghadapi masalah yang teramat berat? Jika seorang ateis cenderung mengandalkan pemikiran sendiri, bukankah pikiran manusia punya batas jika terus dibebani memikirkan permasalahan berat yang sedang dihadapi? Apakah mungkin menjadi seorang agnostik ateis atau gnostik ateis bukanlah pilihan yang tepat di negara dunia ketiga seperti Indonesia (karena banyaknya persoalan ekonomi & politik yg berimbas pada individu) dan cenderung menjalani hidup tidak bahagia karena rentan depresi akibat pikirannya yang terlalu dibebani tentang permasalahan yang sedang dihadapinya?

    Mungkin itu saja pertanyaan saya. Semoga semakin sukses buat Cania. Ditunggu karya-karya berikutnya. Terima kasih 🙂

    yongky.yulius@gmail.com

    1. Halooo. Aku akan dengan sangat senang hati menjawab ini.

      Jujur saja, bahkan bagi seorang gnostik teis pun, mereka tidak pernah benar-benar membagi bebannya bukan? Apakah ketika UN, Allah mengerjakan 20 nomor dan kita mengerjakan sisanya? Tentu tidak.

      Apakah ketika kita berhutang, Allah membayar 50% dan kita membayarkan sisanya?

      Apakah ketika kita tidak mampu membeli rumah, Allah turun membangunkan rumah untuk kita?

      Atau saat kita sakit kanker, apakah Allah kemudian segera menyembuhkan kita? Tentu saja tidak. Kita harus ke dokter dan melakukan pengobatan.

      jadi, baik teis maupun ateis sama saja: Menanggung bebannya sendiri. Kalo bagi teis, ada Allah yang membantunya, bagi ateis, ada manusia lain yang membantunya. Pada kenyataannya, kita sama-sama dibantu manusia lain. Perbedaannya hanya yang teis menganggap manusia lain itu perpanjangan tangan Allah, yang ateis menganggap manusia lain itu sebagai agensi atas dirinya sendiri.

  53. Saya melihat pertanyaan saya ini dari perspektif Islam.

    Jika, Surga hanya hak eksklusif bagi seorang muslim bagaimana dengan nasib manusia yang hidup di era tidak adanya arus informas i mengenai islam (contoh suku Inca yang hidup di wilayah Peru pada tahun 1438-1572). Pada jangka waktu tahun tersebut agama Islam sudah menyebar luas, namun belum terdengar bagi masyarakat Inca.

    Pertanyaan saya, apakah adil menentukan hak Surga sebagai eksklusifisme bagi umat muslim ? Lantas, bagaimana dengan nasib mereka yang sepanjang hidupnya tidak pernah mendengar adanya agama Islam, lantas dia semena mena dimasukkan ke neraka karena tidak pernah mengimani ajaran Islam sepanjang hidupnya ?

  54. Jujur, sampe sekarang gue masih ngerasa adanya ketimpangan gender dalam ajaran Islam, dan sekarang gue masih mempertanyakan hal2 ini dalam Islam:
    1. Kenapa harus laki-laki yang menjadi imam shalat ketika ada laki-laki dan perempuan?
    2. Kenapa laki-laki lebih banyak mendapat bagian harta warisan dibanding perempuan?
    3. Kenapa bagian tubuh yang harus ditutupi laki-laki lebih sedikit dari perempuan?
    4. Kenapa istri harus izin kepada suaminya untuk memberikan uang pribadinya ke orang lain, sedangkan suami tidak perlu izin?
    5. Kenapa laki-laki boleh poligami sedangkan perempuan tidak boleh poliandri?

    Dan sekarang gue sedang berusaha mencari jawabannya. Hehehe.

  55. Buku yang sangat menarin mbak ! Sya setuju bahwa ke imanan sseorang dalam beragama adalah sebuah perjalanan yg panjang, realitasnya di indonesia banyaknya preman yg pensiun menjadi ustad yg alim dan bgitupun sebaliknya bnyak seorang muslim religius menjadi preman… Seolah tuhan ingin menunjukan kazanah yang bner nyata kepada umatnya di dunia. Pertanyaannya kenapa allah tidak bisa kita anggapa saja udara karna bisa dirasakan tapi tidak bisa dilihat ? Analogi yg mudah bukan mbak, yang jelas ketika lagi manusia tidak bernafas maka dengan jelas allah sudah tidak mau lagi manusia itu ada di dunia dengan dibantu malaikat izrail dan jubril.

  56. Halo Kak Cania, ngebaca review ini bikin aku makin kepingin baca bukunya deh. Selalu menarik memang ngebaca tulisan2 kakak kalau udah ngebahas soal agama…

    Pertanyaanku, sampai kapankah agama akan menjadi hal yang relevan untuk kehidupan? Atau mungkin bisa juga, akankah tiba masa di mana beragama udah jadi nggak relevan lagi?

    Karena, aku nggak bisa bayangin sih kalo kita hidup di dunia seperti di (misalnya) film I Am Legend, Terminator, atau serial TV Black Mirror. Kayaknya, di era post-apokaliptik, agama nggak menjadi konsepsi yang relevan dengan apapun lagi deh. Begitupun di era2 di mana teknologi sudah jadi sedemikian berkuasanya. Peran tuhan jadi seolah sangat2 kecil sekali. Kalaupun masih mau beragama, sulit rasanya mempertahankan iman dengan kenyataan yang seperti ini.

    Begitu aja sih kak hehe. Moga2 menang ya Allah *ehh

    muhammadberlian17@gmail.com

  57. Bagi orang2 yang memiliki orientasi seksual “berbeda”, kasih dan cintanya pada pasangan sebenarnya tidak berbeda dengan yang “diharuskan” oleh agama dan masyarakat. Namun seringkali, atas nama agama mereka berusaha meluruskan cintanya terhadap orang yang dianggap benar. Meskipun mereka tetap tidak bisa menyembunyikan ketertarikan terhadap sesama jenis, bahkan dr diri mereka sendiri. Terlebih, tidak sedikit dari mereka yang memiliki orientasi seksual yang berbeda sejak masih duduk bangku SD/SMP, bahkan sebelum mereka tahu apa dan bagaimana itu berpacaran. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya memberikan perasaan itu? Tuhankah? Meski mereka berusaha berjalan lurus, namun ketertarikan mereka hanya terpendam (tidak hilang), siapakah yang sebenarnya memelihara ketertarikan itu? Tuhankah?
    Tuhan mempermasalahkan umatNya yang tidak mengenal diriNya dan agamanya. Disamping itu, semua anak terlahir dari orang tua yang telah dikodratkan Tuhan, lingkungan yang telah ditakdirkan Tuhan. Jika kita melihat anak yang hidup di dalam kemiskinan serta lingkungan yang gemar mencuri, mencaci, menjual narkoba dsb, lalu dia hidup dengan “gaya hidup” yang dia warisi dr lingkungannya itu sampai mati. Anggaplah tidak sempat dia berkenalan dengan penghantar2 kebenaran menurut agamanya. Setelahnya, dia masuk neraka. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya patut disalahkan atas dosa-dosanya? Dia? Kita sebagai orang yang lebih tau namun tidak mengenalnya dan tidak dapat menggapai lingkungannya? Atau yang telah menciptakannya dan mengintervensi kehidupannya – Tuhan?

    Maaf Kak Citta, kepanjangan ^^v

    Email : adibaciptaningrum@gmail.com

  58. Bagi orang2 yang memiliki orientasi seksual “berbeda”, kasih dan cintanya pada pasangan sebenarnya tidak berbeda dengan yang “diharuskan” oleh agama dan masyarakat. Namun seringkali, atas nama agama mereka berusaha meluruskan cintanya terhadap orang yang dianggap benar. Meskipun mereka tetap tidak bisa menyembunyikan ketertarikan terhadap sesama jenis, bahkan dr diri mereka sendiri. Terlebih, tidak sedikit dari mereka yang memiliki orientasi seksual yang berbeda sejak masih duduk bangku SD/SMP, bahkan sebelum mereka tahu apa dan bagaimana itu berpacaran. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya memberikan perasaan itu? Tuhankah? Meski mereka berusaha berjalan lurus, namun ketertarikan mereka hanya terpendam (tidak hilang), siapakah yang sebenarnya memelihara ketertarikan itu? Tuhankah?
    Tuhan mempermasalahkan umatNya yang tidak mengenal diriNya dan agamanya. Disamping itu, semua anak terlahir dari orang tua yang telah dikodratkan Tuhan, lingkungan yang telah ditakdirkan Tuhan. Jika kita melihat anak yang hidup di dalam kemiskinan serta lingkungan yang gemar mencuri, mencaci, menjual narkoba dsb, lalu dia hidup dengan “gaya hidup” yang dia warisi dr lingkungannya itu sampai mati. Anggaplah tidak sempat dia berkenalan dengan penghantar2 kebenaran menurut agamanya. Setelahnya, dia masuk neraka. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya patut disalahkan atas dosa-dosanya? Dia? Kita sebagai orang yang lebih tau namun tidak mengenalnya dan tidak dapat menggapai lingkungannya? Atau yang telah menciptakannya dan mengintervensi kehidupannya – Tuhan?

    Maaf Kak Citta, kepanjangan ^^v

  59. Saya tidak tahu harus mulai dari mana komentar ini. Pertanyaan mengenai agama yang terus mengusik pikiran saya (yang mungkin terdengar konyol) adalah mengapa ada begitu banyak aliran kepercayaan di bumi ini? Setiap agama biasanya memiliki entitas yang disembah. Apakah itu berarti tuhan tidak tunggal? Mana tuhan yang sesungguhnya benar untuk disembah? Andaikan saya menyembah suatu tuhan, apakah dalam agama lain saya adalah umat yang tersesat? Apakah saya akan mendapatkan ganjaran karena tidak mengikuti ajaran mereka?

    Richard Dawkins dalam bukunya “The God Delusion” menulis bahwa agama dapat men-truf segala hal. Apakah sebegitu kuatnya pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendapatkan konsesi khusus pada segala hal? Seperti yang terjadi belakangan ini ketika salah satu imam besar kelompok agama dipanggil ke meja hijau, pengikutnya menganggap itu adalah tindakan pelecehan terhadap ulama. Mengapa hanya karena seseorang berstatus pemuka agama, seseorang tersebut seolah memiliki perlakuan khusus meskipun dalam ranah hukum? Bukankah setiap individu di negara ini memiliki derajat yang sama di mata hukum?

    Well, mungkin hanya itu sedikit pertanyaan saya tentang agama. Saya pun masih tidak tahu kecondongan iman saya ke mana meskipun di kolom agama pada KTP saya jelas tertera di sana.

    email
    alfinsanders99@gmail.com

  60. Bagi orang2 yang memiliki orientasi seksual “berbeda”, kasih dan cintanya pada pasangan sebenarnya tidak berbeda dengan yang “diharuskan” oleh agama dan masyarakat. Namun seringkali, atas nama agama mereka berusaha meluruskan cintanya terhadap orang yang dianggap benar. Meskipun mereka tetap tidak bisa menyembunyikan ketertarikan terhadap sesama jenis, bahkan dr diri mereka sendiri. Terlebih, tidak sedikit dari mereka yang memiliki orientasi seksual yang berbeda sejak masih duduk bangku SD/SMP, bahkan sebelum mereka tahu apa dan bagaimana itu berpacaran. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya memberikan perasaan itu? Tuhankah? Meski mereka berusaha berjalan lurus, namun ketertarikan mereka hanya terpendam (tidak hilang), siapakah yang sebenarnya memelihara ketertarikan itu? Tuhankah?
    Tuhan mempermasalahkan umatNya yang tidak mengenal diriNya dan agamanya. Disamping itu, semua anak terlahir dari orang tua yang telah dikodratkan Tuhan, lingkungan yang telah ditakdirkan Tuhan. Jika kita melihat anak yang hidup di dalam kemiskinan serta lingkungan yang gemar mencuri, mencaci, menjual narkoba dsb, lalu dia hidup dengan “gaya hidup” yang dia warisi dr lingkungannya itu sampai mati. Anggaplah tidak sempat dia berkenalan dengan penghantar2 kebenaran menurut agamanya. Setelahnya, dia masuk neraka. Pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya patut disalahkan atas dosa-dosanya? Dia? Kita sebagai orang yang lebih tau namun tidak mengenalnya dan tidak dapat menggapai lingkungannya? Atau yang telah menciptakannya dan mengintervensi kehidupannya – Tuhan?

    Maaf Kak Citta, kepanjangan ^^v

  61. Saya tidak tahu harus mulai dari mana komentar ini. Pertanyaan mengenai agama yang terus mengusik pikiran saya (yang mungkin terdengar konyol) adalah mengapa ada begitu banyak aliran kepercayaan di bumi ini? Setiap agama biasanya memiliki entitas yang disembah. Apakah itu berarti tuhan tidak tunggal? Mana tuhan yang sesungguhnya benar untuk disembah? Andaikan saya menyembah suatu tuhan, apakah dalam agama lain saya adalah umat yang tersesat? Apakah saya akan mendapatkan ganjaran karena tidak mengikuti ajaran mereka?

    Richard Dawkins dalam bukunya “The God Delusion” menulis bahwa agama dapat men-truf segala hal. Apakah sebegitu kuatnya pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendapatkan konsesi khusus pada segala hal? Seperti yang terjadi belakangan ini ketika salah satu imam besar kelompok agama dipanggil ke meja hijau, pengikutnya menganggap itu adalah tindakan pelecehan terhadap ulama. Mengapa hanya karena seseorang berstatus pemuka agama, seseorang tersebut seolah memiliki perlakuan khusus meskipun dalam ranah hukum? Bukankah setiap individu di negara ini memiliki derajat yang sama di mata hukum?

    Well, mungkin hanya itu sedikit pertanyaan saya tentang agama. Saya pun masih tidak tahu kecondongan iman saya ke mana meskipun di kolom agama pada KTP saya jelas tertera di sana.

    Alamat email:
    alfinsanders99@gmail.com

  62. Manakah yang lebih dahulu, waktu atau Tuhan?
    jika tuhan lebih dahulu ada, maka dia perlu waktu untuk menciptakan waktu, jangankan untuk mencipta, untuk sekedar menggerakan bagian tubuhnya 0,000001mili saja memerlukan waktu, jangankan menggerakan tubuh, partikelnya berubah pun juga memerlukan waktu, apalagi menciptakan diri sendiri dan waktu.
    atau keduanya “muncul” bersamaan dari ketidak adaan? manakah yang lebih berkuasa, apakah tuhan yang katanya multi dimensi bisa kembali sebelum dirinya tidak ada?, kalau bisa, maka itupun perlu waktu, dan tuhan tidak bisa lepas dari waktu.

  63. Isu SARA merupakan salah faktor yang sering menyebabkan berbagai macam konflik belakangan ini. Agama pun menjadi salah satu di antaranya. Lantas, mengapa sentimen akan agama menjadi sesuatu hal yang sangat sensitif sehingga sering menyababkan konflik? Bukankah semua agama menjadikan kitabnya masing-masing sebagai pedoman hidup untuk selalu berbuat kebaikan?

    Bahririzki@yahoo.com

  64. Pertama, saya mengapresiasi review yang sangat lengkap namun tetap menjadi misterius dan menarik untuk membaca bukunya langsung.

    Pertanyaan saya, apakah yang membuat begitu banyaknya “variasi” Tuhan/Dewa, agama dan kepercayaan itu sendiri sehingga menjadi sangat beragam namun menjadi pemicu konflik paling dasar diantara umat beragama?

    –Zikri Fadhilah (zikri8fadhilah@gmail.com)

  65. Terimakasih atas ulasan mba Cania yang sangat baik dan mencerahkan. Pertanyaan saya mungkin agak di luar konteks sebagaimana yang dipaparkan mba di atas, namun tetap menjadi bagian dari kritik teleologi selama ini. Menurut mba, ukuran yang seperti apa yang mestinya dipakai oleh agama untuk mendefinisikan teleologi keselamatannya kepada umat? Apakah sudah cukup dengan menghakpatenkan kebenarannya sebagai yang paling benar? Karena menurut saya konsep toleransi yang dimaknai dalam demokrasi substansial, tidak semata toleran kepada agama yang berbeda, tetapi bagaimana kita bisa menerima perbedaan terhadap kelompok atheis, minoritas seperti LGBT dll. Sayangnya, untuk soal toleransi beragama yang nyata-nyata punya Tuhan dan sumber keselamatan masing-masing saja, kita sebagai bangsa belum teruji, apalagi menerima mereka yang ateis atau kaum minoritas. Bagaimana menurut mba? Terimakasih

  66. Tanpa kita beragamapun kita sebenarnya mengetahui mana yang baik mana yang buruk. Merugikan orang itu tidak baik. Mencuri, memperkosa, membunuh, semua yang merugikan orang lain itu tidak baik. Tanpa ada imbalan surgapun kita juga semua tahu, menolong orang, memberi makan orang miskin, berbuat baik untuk sesama itu adalah hal baik. Berawal dari itu semua, pertanyaanya untuk apa beragama jika tanpa agamapun kita sebenarnya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk?

    blogfiki@gmail.com

  67. Saya mau bertanya, didalam agama islam dijelaskan bahwa seorang yang non islam disebut sebagai seorang kafir serta tidak dapat masuk surga, kalau memang begitu berarti ada didalam agama sendiri sudah mengajarkan sikap diskriminasi, kemudian apabila sejak kecil saya dilahirkan sebagai nonislam berarti saya tetap seorang kafir? Padahal sejak lahir saya tidak mengenal islam, apakah dengan begitu berarti agama mengajarkan adanya diskriminasi? Apakah tuhan mendiskriminasi ciptaannya?

  68. Saya memang belum terlalu mendalami agama saya, tapi sejak dulu saya selalu bertanya, kenapa tuhan menciptakan manusia? Tapi katanya itu adalah pertanyaan yang tidak pantas. Baagaimana saya mau meyakini kalau banyak hal yang tidak jelas. Saya selalu mencari tapi belum menemukan jawaban yang pas. Hingga akhirnya pertanyaan itu meluas sampai, jika takdir sudah ditentukan, untuk apa seseorang diciptakan jika pada akhirnya ia masuk neraka? Juga, sepertinya tuhan ingin sekali disembah hingga orang-orang yang tidak menyembahnya akan disiksa.
    Eh iya,saya beragama Islam.

    Masih banyak sih pertanyaan yang ada dibkepala saya. Tapi hal yang utama itu dulu saja hehe. Mohon maaf apabila ada hal yang tak pantas saya katakan.

    Email aktif : lithamarcella20@gmail.com

  69. kak aku mau tanya, dulu pernah ada berita kan kalo ada anak usia dini di perkosa trs di bunuh, nah sifat Tuhan itu kan banyak salah satunya Maha Penyayang, kenapa Tuhan itu ga lebih milih menyelamatkan anak itu daripada melihat dia mati ngenes gitu? padahal anak itu kan masih tergolong suci, belom ada dosanya.

    trs yang ganjel lg di pikiran nih kak, katanya Tuhan itu ga perlu di sembah, Tuhan sudah utuh dg dzatnya sendiri, tp dalam kitabNya kalo kita ga nyembah Tuhan, kita bakal kena adzab, itu maksudnya gimana? trs kan katanya lg kalo orang itu nanti masuk surga neraka itu sudah dipilih sama Tuhan, kita udh punya takdir yg udh di tetapkan sama Tuhan. nah katakan saja kalo saya beragama A, sy sangat taat agama sikap saya juga sangat baik, tp sy bukan orng pilihan Tuhan untuk masuk surgaNya, brati ibadah saya sia-sia? brati Tuhan cuma mainin saya?

    email aktif : marthatejo@yahoo.com

  70. Konon, iman mampu menjaga manusia dari perbuatan keji dan munkar. Iman bekerja dengan rasa takut pada larangan dan perintah yang tertuang dalam agama. Agama adalah tali pembatas yang digunakan orang beriman agar tak terjerembab ke dalam lembah keji itu. Intinya, iman dan agama menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan untuk manusia, di dunia dan di akhirat. Tapi, kenapa justru iman seringkali membuat manusia menjadi bengis dan gemar berbuat kerusakan? Kenapa agama justru menjagi label untuk memusuhi orang lain?
    Apakah manusia bisa beriman tanpa rasa takut? Beriman dengan dengan segenap rasa bahagia?

    Pertanyaan-pertanyaan sejenis itulah yang sering menghantui kepala saya.

    alamat surel saya: mercyrahmad@gmail.com

  71. Jujur, saya muslim dari sejak lahir, dan muslim karena pilihan. Sayapun, masih sama seperti kebanyakan orang yang masih belum paham dan mengerti betul kitab sendiri.
    Seperti yg kita tahu sendiri, di Indonesia banyak ‘jenis orang muslim’ yang tergolong dari organisasi yg diikutinya, contoh: Persis, NU, Muhammadiyah, dst. Yang saya penasaran, semua kelompok ini merupakan kelompok yang didasari sebuah agama, tapi apa yang menyebabkan masing – masing dari mereka memiliki cara dan peraturan yang berbeda? Sementara mereka sama – sama didasari oleh sebuah ajaran agama. Jika memang iya didasari dari ajaran agama, lalu mengapa terbentuk kelompok – kelompok yang berbeda? Apa karena pentafsiran, siapa yang menyebarkan, atau karena faktor lain? Terima kasih.

    Alamat email aktif: rfadhila22@gmail.com

  72. Saya pribadi memang sering menemukan kesimpang siuran dalam agama saya terutama ada banyak sekali penafsiran hanya untuk satu ayat saya, akhirnya jawaban2 yang saya cari saya jawab sendiri secara moral apakah tindakan nya baik atau tidak. Agama bagi saya memang sebagai tujuan hidup, untuk mencapai surga-Nya. Untuk mencapai surga-Nya ada ibadah2 yang harus di lakukan dan setiap ibadah itu selalu ada penafsiran lagi yang justru membuat bingung mana yang menuju surga, jadi mungkin kah sebenernya agama itu sudut pandang lain sebagai pedoman hidup dasar manusia melakukan hal yang baik dan tidak melakukan hal buruk di luar mendapat “hadiah” surga ?

  73. Berkah dalem. Ada satu pertanyaan yang selalu menggantung di pikiran saya, yaitu tentang akhirat. Apa yang akan terjadi saat akhir zaman nanti?
    Apakah kita akan selamanya hidup di surga atau neraka saat akhir zaman nanti? Bila itu terjadi apa kita tidak akan merasa bosan karena kehidupan yang menjadi monoton dan hidup yang tak berkesudahan saat di akhirat nanti?
    Seseorang pernah mengatakan pada saya yang pernah mengatakan kalau kita akan hidup selama 1000 tahun dalam surga dan nanti akan hidup kembali di dunia. Bila itu yang terjadi lalu kapan akan berakhirnya siklus tersebut? Bisa jadi saat ini adalah kehidupan di dunia yang sudah kesekian kalinya.
    Ada juga yang mengatakan bahwa kita akan hidup di surga lalu setelah kehidupan di surga maka semuanya akan berakhir. Tidak akan ada apa-apa lagi. Bila itu yang terjadi lalu apa yang akan selanjutnya terjadi? Jika semua telah lenyap apakah Tuhan juga akan lenyap? Jika semua lenyap maka hanya tersisa kekosongan, apa yang akan mengisi kekosongan tersebut?
    Terima kasih, maaf atas pertanyaan saya.

  74. Saya sempat membaca beberapa potongan-potongan para ahlfi filsuf tentang asal-usul kehidupan, dan bagaimana keteraturan kemasyarakatan dapat terbentuk melalui sebuah sistem yang entah itu dibuat sedemikian rupa oleh manusia itu sendiri atau yang terkenal dengan agama yang kita percaya datang dari Yang Maha Kuasa, mengenai pertanyaan saya, mungkin lebih sedikit bersifat pernyataan tapi tetap dalam bentuk pertanyaan yang cukup mengganggu saya sejauh saya mempercayai keberadaan Tuhan.
    Filsuf bernama Epicurus pernah mencetuskan sebuah ide dalam bentuk pertanyaan yang ia jawab pula sebagai berikut :
    – Apakah Tuhan berkeinginan untuk mencegah kejahatan, namun tak mampu? Maka Ia tidak Maha Kuasa
    – Apabila Tuhan mampu, namun tak berkeinginan? Maka Ia tidak Maha Penyayang
    – Apabila Tuhan mampu dan berkeinginan? Mengapa masih ada kejahatan di bumi ini?
    – Apabila Tuhan tidak mampu dan tidak ingin untuk mencegah kejahatan? Pantaskah Ia disebut sebagai Tuhan?
    E-mail : akmal_nanda@yahoo.com

  75. Katanya agama membuat damai, dimanakah letak kedamaian dalam agama jika sebuah agama mengajarkan untuk membunuh sesama manusia dan mengajarkan membenci satu sama lain?

  76. Apa yang membuat pertanyaan itu dinilai “kritis” bukannya pertanyaan kritis itu relatif buat setiap orang? Jadi apa yang membuat pertanyaan itu lebih “kritis” dari pertanyaan yang lain?

  77. Kak, apakah betul Agama itu rubrik antara Kesalehan dan Kekerasan? Sekalipun angka konflik keagamaan dalam bentuk aksi kekerasan lebih kecil, tetapi bukankah Agama adalah panduan spiritual dan moral para penganutnya agar berperilaku lebih baik, saleh dan dapat mengendalikan diri?

  78. Ada beberapa pertanyaan yang sampai saat ini masih membuat keraguan terhadap iman saya maupun terhadap tuhan itu sendiri. Saya seorang muslim yang tercetak jelas di KTP, tetapi saya belum mendalami keislaman saya seperti yang dilakukan oleh Ali. Bahkan sampai saat ini saya belum lancar baca kitab saya sendiri.

    Pertanyaanya: Apabila Tuhan itu Maha Mengetahui, dan sebelumnya juga mengetahui bahwa Tuhan akan menciptakan dunia ini dengan se-isinya dan juga menciptakan surga dan neraka, mengapa Ia tetap menciptakannya? Bahkan Ia sudah mengetahui bahwa neraka akan diperuntukan bagi-bagi orang yang tidak beriman kepadanya. Manusia diberi kehendak bebas, tetapi kenapa definisi surga dan neraka menjadi hal yang tidak bebas bagi mereka yang mempercayainya? Tuhan itu Maha Penyayang, apakah dengan diciptakannya neraka untuk memberikan rasa sayangnya kepada umatnya dengan kekerasan? Saya rasa tidak.

    Sebetulnya masih banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Tetapi mungkin kalimat pertanyaan diatas sudah cukup untuk sementara waktu.

    Oiya, saya juga sudah men-subscribe tulisan ini melalui account line, twitter dan facebook.

    Twitter: @hadnatrie
    Facebook: Hadna Trie W
    LINE: hadna08

    Semoga saya bisa mendapatkan bukunya.
    Terima kasih banyak,
    Salam.

  79. Apakah Tuhan itu ada?
    Apakah Takdir itu ada?
    Apakah Tuhan menciptakan Takdir?
    Jika Tuhan Menciptakan Takdir, Lantas Mengapa Manusia Dimintai Pertanggungjawaban atas perbuatannya?
    Kenapa Tuhan menciptakan iblis dan membencinya dan kenapa Tuhan membiarkan iblis berbuat seenaknya?

    Alamat email aktif : panas434@gmail.com

  80. Hallo mbak Citta, terimakasih atas ulasan bedah bukunya, poinnya sangat jelas sehingga saya dapat memahami secara umum apa yang dibawakan pada bedah buku ini

    Pertanyaan saya berkaitan dengan bidang ilmu yang saya jalani, yaitu matematika, bagaimanakah konteks dosa dapat dikalkulasikan sedangkan alat ukur dari pahala dan dosa dikaitkan dengan banyak hal, seperti bukit, biji buah, dan melakukan kebaikan ataupun keburukan yang serupa seperti puasa, solat, dan sebagainya? Dan bagaimana kita bisa sebutkan bahwa suatu perilaku dianggap dosa namun bermanfaat bagi masyarakat? Saya masih mencari alasan logis “kalau umat islam membangun tempat suci agama lain, dia dianggap pindah agama” sedangkan itu baik bagi umat agama lain untuk beribadah.

  81. Pertanyaannya lebih dari satu, tetapi (kuanggap) satu-kesatuan jadi mudah-mudahan tidak dianggap tidak sesuai aturan, hehe.

    Mengapa kitab suci, yang seharusnya merupakan go-to-source kebenaran, justru sampai melahirkan berbagai macam interpretasi berbeda? Jika kitab suci tersebut benar-benar berisi instruksi manual untuk kebenaran dan nilai-nilai moralitas, maka bukankah kitab suci tersebut seharusnya disusun dengan bahasa yang mudah dipahami–atau setidaknya tidak sampai harus ditelaah dan ditafsir sedemikian rupa demi memahami isinya–agar setiap umat dapat sampai pada jawaban dan kesimpulan yang sama? Apakah tuhan–bila dia ada–akan menghukum mereka yang salah memaknai isi kitab suci meskipun salahnya sendiri yang tidak menyampaikan wahyunya dengan bahasa yang jelas?

    posel: jean.gamara@gmail.com

  82. Mengapa orang-orang begitu heboh menolak tentang teori evolusi dari darwin. Padahal evolusi itu benar-benar terjadi bahkan bisa dipikir secara logis dan ada bukti-buki kuat dan ilmiah umtuk penjelasannya ?

  83. Seperti yang saya baca dalam buku “Bertuhan tanpa beragama” dari Bertrand Russell.
    Bagaimana orang Agnostik masih mempunyai moral, sedangkan mereka tidak ada panutan dalam bimbingan moral tersebut?
    Islam memiliki panutan moral yaitu Nabi Muhammad dan Al-Qur’an.
    Nasrani Injil dan Tuhan Yesus
    Buddha yaitu Sang Buddha sendiri

  84. Halo mba cania! Sebelumnya saya apresiasi riview ini, karena saya nilai sangat menyeluruh dan pemaparan mba Cania sangat mengena benang merah dari inti yang dibahas buku ini. Argumen yang dibangun juga bisa disesuaikan dengan realita yang ada. Pertanyaan saya tidak spesifik mengenai agama atau iman tapi menurut saya ini terkait antara keduanya. Menurut mba Cania apakah Tuhan membutuhkan legitimasi? Dalam artian apakah Tuhan akan menjadi Tuhan ketika ia tidak menciptakan makhluknya? Ketika tidak ada makhluknya, Tuhan bukan lah Tuhan. Lalu apakah Tuhan yang sesungguhnya dapat digambarkan oleh manusia seperi contohnya Allah, Yesus, Budha, Yahweh, dll? Terimakasih m..

  85. Menurut cania, mungkinkah seseorang beriman tanpa harus beragama? Seperti yang kita tahu soal beragama atau tidak adalah pilihan personal tiap individu. Namun, ada beberapa kasus di indonesia yang seolah memaksakan kehendak agama mayoritas kepada yang minoritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *