Apa itu Feminisme? Dan Apakah Diperlukan?

Sharing is caring!

Pada Hari Kartini, 21 April 2017 lalu, saya mendapat undangan dari Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FT Universitas Indonesia untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi dengan tajuk “Feminisme, Perlukah?”

1492756763710

Saya merasa sangat antusias ketika menerima undangan ini, karena uluran tangan dari akademisi rumpun alam untuk mengenal diskursus teori sosial tentu layak disambut hangat dengan tangan terbuka.

Bahasan yang saya bawa dalam diskusi ini sejak awal sudah saya canangkan untuk tidak berumit ria di elaborasi teoritis, melainkan langsung ke bagian kesimpulan yang setidaknya secara umum disepakati (mengingat dalam studi sosial nyaris tidak ada yang luput dari perdebatan) dan dikaitkan dengan cerita sehari-hari.

Di dalam artikel ini, saya akan mengulas apa yang telah saya perbincangkan bersama peserta diskusi tersebut agar pesan-pesan utamanya dapat diterima oleh Anda sekalian yang mungkin berhalangan hadir maupun yang sudah hadir namun mau merefleksikan kembali.

Penting untuk diketahui bahwa saya tidak akan mencantumkan referensi teoritis secara khusus di setiap pokok bahasan, tetapi saya akan memberikan referensi di akhir tulisan berupa rujukan teks-teks akademik yang menjadi bahan bacaan saya dalam mengenal Feminisme.

17-04-25-23-15-37-001_deco

Tentu saja, diskusi saya buka dengan membahas apa itu Feminisme?

“Apa yang ada di kepala Anda ketika mendengar kata Feminisme?” tanya saya.

Jawaban pun berhamburan dari berbagai penjuru ruangan.

“Kesetaraan gender”; “Persamaan laki-laki dan perempuan”; “Pemberdayaan perempuan”; “Kebebasan bagi perempuan”; dan seterusnya.

Senang sekali, peserta aktif berpartisipasi menyampaikan pendapat. Semua jawabannya juga relevan. Saya merangkumnya dengan mengambil pengertian yang paling sederhana, yakni: sebuah ideologi yang percaya pada kesetaraan gender.

slide 1 feminisme

Kesetaraan di sini terutama terkait dengan akses pada pilihan hidup yang sama bagi semua gender.

Mengapa memakai kata femin-isme bukan maskulin-isme? Saya jelaskan bahwa Feminisme lahir sebagai respon terhadap peradaban yang percaya bahwa laki-laki KODRATNYA selalu lebih superior dari perempuan dalam segala hal, sehingga ia diberikan hak dan tanggung jawab yang istimewa, jauh di atas perempuan.

Peradaban melakukan ekstensi atas kodrat dari awalnya sebatas perbedaan kepemilikan penis dan vagina menjadi status sosial tuan dan budak, manusia kuat dan lemah, warga yang mengatur (ruling civil) dan yang diatur (ruled civil), gembala umat (the shepherds) dan jemaat pengikut (the sheeps), dan seterusnya.

Feminisme pada dasarnya mengoreksi ekstensi atas kodrat berupa sebuah konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua (the second sex) hanya karena ia memiliki vagina dan bukan penis.

Karena konstruksi sosial ini dikultuskan selama ribuan tahun, perjuangan Feminisme tentu tidak hanya sebatas merevisi aturan-aturan sosial (norma dan hukum), namun juga merekonstruksi pemaknaan atas gender (peran gender, relasi gender, posisi sosial gender, dan lain sebagainya) termasuk mendobrak paradigma lama yang tidak adil gender.

Saya rasa, hal ini yang secara umum disepakati oleh seluruh pejuang Feminisme baik di tataran teori maupun praktik. Tapi, bagian yang penting untuk diketahui justru bukan pada bagian yang secara umum disepakati, melainkan bagian yang menjadi perdebatan.

slide 2 feminisme

Mungkin banyak dari kita yang kerap kali menggeneralisasi Feminisme sehingga segala agenda berbau gender akan Anda berikan satu label: Gerakan Feminis. Lalu, ketika yang satu bertentangan dengan yang lain, Anda mulai kebingungan: lho yang mana nih yang bener? Feminis kok malah saling ribut sendiri? Yang Feminis beneran yang mana ya?

Nah, inilah beda utama ilmu alam dengan studi sosial. Kalau dalam ilmu alam, saya katakan “Oksigen”, apa yang ada di kepala Anda, saya, dan semua orang di muka bumi ini sama. Ya, Oksigen yang itu, dengan rumus kimia O2 dan dihirup oleh manusia saat bernapas. 

Lain cerita ketika saya menyebut “kesetaraan gender”. Apa yang ada di kepala Anda, saya, apalagi dengan semua orang di muka bumi, hampir pasti berbeda, walaupun belum tentu bertolak belakang.

Sementara isu utama dalam Feminisme adalah kesetaraan gender itu sendiri; sebuah makhluk dengan kemungkinan pemaknaan tak terhingga. Oleh karena itu, munculnya beragam wajah Feminisme menjadi suatu hal yang niscaya.

Saya pribadi, dari hasil pembacaan saya terhadap perbedaan di dalam tubuh Feminisme, membagi Feminisme berdasar tiga variabel: (1) Intervensi negara, (2) Persamaan vs Perbedaan, dan (3) Isu.

Saya sadar betul kita tidak dapat dengan mudah menentukan Feminis yang begini adalah jenis Feminis X. Kenapa? Ya jelas karena di dalam tubuh jenis Feminis X itupun masih ada perdebatan lagi mengenai apa itu Feminis X dan bagaimana wujud pengejawantahan yang paling murni.

Maka itu, saya tidak tertarik menjabarkan apa yang dimaksud dengan Feminis X, Y, Z, dan seterusnya. Akan lebih informatif dan bermanfaat apabila saya menjabarkan perbedaan-perbedaan itu sendiri.

Mengenai intervensi negara, Feminisme dapat terbagi ke dalam kubu yang percaya pada intervensi negara yang besar dalam menegakkan kesetaraan gender dan kubu oposisinya; yakni yang percaya bahwa intervensi negara dalam menegakkan kesetaraan gender harus berada dalam kadar minimal.

Hal ini terkait langsung dengan klasifikasi yang kedua, yakni persamaan vs perbedaan. Terdapat Feminisme yang lebih menitikberatkan persamaan antara laki-laki dan perempuan, namun ada juga yang lebih menitikberatkan perbedaannya.

Dampaknya jelas pada perlakuan. Feminisme yang menitikberatkan persamaan akan mendukung intervensi minimal dari negara karena tidak diperlukannya perlakuan khusus bagi gender marjinal, dalam konteks ini perempuan.

Sementara Feminisme yang menitikberatkan perbedaan akan menuntut peran negara yang lebih besar untuk menyediakan perlakuan khusus bagi perempuan, salah satu contohnya kuota gender (baik dalam politik, pendidikan, maupun pekerjaan).

Selain kuota, ada pula kebijakan yang sifatnya penyediaan kebutuhan yang berbeda, seperti gerbong perempuanruang menyusui di ruang publik, dan lain sebagainya. Intinya, perspektif Feminis yang menitikberatkan perbedaan akan membutuhkan intervensi negara yang lebih besar.

Selain akibat perbedaan perspektif mengenai apa yang harus disamakan dan dibedakan atas perempuan dan laki-laki, perbedaan perspektif terhadap akses pada pilihan hidup yang sama juga memengaruhi tingkat intervensi negara.

slide akhir feminisme

Untuk memahami ini, saya memakai terma yang diperkenalkan oleh Isaiah Berlin, yakni kebebasan positif dan kebebasan negatif. Dalam proses memperjuangkan akses pada pilihan hidup yang sama bagi perempuan dan laki-laki, kita harus pertama-tama menentukan apa itu pilihan hidup dan sejauh mana pilihan hidup itu harus dijamin otoritas (negara)?

Feminis yang lebih menitikberatkan kebebasan negatif cenderung mendukung intervensi negara yang lebih minimal, karena ia hanya fokus mengeliminasi hambatan luar; berupa regulasi dan kebijakan yang melarang perempuan memilih sebuah pilihan (misal, dilarang mengemudi, dilarang ikut Pemilu, dilarang sekolah, dan seterusnya).

Selama hambatan luar tersebut sudah dihilangkan, maka tujuan memberikan akses tadi dianggap sudah tercapai. Sisanya tinggal dilakukan dengan mekanisme kompetisi bebas dan adil (free and fair competition). Di mana perempuan dan laki-laki sudah sama-sama diperbolehkan untuk turut serta dalam kompetisi tersebut (memperebutkan kekuasaan, jabatan, gelar, uang, dan lain sebagainya).

Sedangkan Feminis yang mempertimbangkan kebebasan positif dengan serius cenderung mendukung intervensi negara yang lebih maksimal, karena ia fokus pula mengeliminasi hambatan dalam; berupa keterbatasan akibat marjinalisasi sejak awalnya.

Contoh: Meskipun perempuan terbebas dari larangan untuk berpolitik, namun ia tidak bebas untuk berpolitik dikarenakan adanya stigma di tengah masyarakat yang menyatakan bahwa perempuan tidak layak berpolitik.

Demi tercapainya kebebasan positif ini (bebas untuk), negara perlu campur tangan dengan, misalnya, memberikan kuota agar setidaknya perempuan terlebih dahulu mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan kebebasannya untuk berpolitik sementara perlawanan di tataran budaya untuk mendobrak stigma terus dilakukan.

Yang terakhir, perbedaan isu atau fokus perjuangan. Hal ini umumnya dipakai dalam ranah aktivisme tanpa menutup kemungkinan eksistensinya di dunia teori atau akademik. Jadi, Feminis direkatkan pada isunya; feminis lingkungan, feminis literasi, feminis budaya, dan lain-lain.

Saya tidak dalam kapasitas menjabarkan semua perbedaan yang ada, baik yang bertolak belakang maupun tidak, di dalam tubuh Feminsme secara detail dan menyeluruh satu-persatu. Namun secara garis besar, kira-kira inilah titik-titik perbedaannya.

slide 3 feminisme

Perbedaan di dalam memaknai kesetaraan dan akses pada pilihan hidup yang sama memungkinkan wujud aktivisme yang beragam pula. Dan saya mau tegaskan bahwa tidak ada satu orangpun di dunia ini yang cukup otoritatif untuk mengatakan ini adalah feminis yang sejati atau Feminisme yang sebenarnya dan yang lain salah atau palsu.

Idealnya, ketika diperbincangkan sebagai sebuah ide di ranah keilmuan, beragam jenis Feminisme tidak mengenal konsep kafirun dan munafiqun. Mereka hanya dapat saling mengkritisi secara ilmiah dengan argumentasi masing-masing.

Meskipun demikian, di dalam praktiknya, Feminisme tidak terlepas dari aksi takfiri alias kafir-mengkafirkan, yang dalam konteks ini berarti “aksi saling tuduh itu bukan Feminisme” (Higgins, 2004).

Namun pada akhirnya, bagaimanapun juga kita berargumentasi, kesetaraan gender sebagai sebuah prinsip moral tidak akan pernah bisa didekati dengan perspektif benar-salah melainkan baik-buruk. Dan menyoal hal ini, tentu semua kembali pada keyakinan masing-masing individu pada tatanan ideal itu sendiri seperti apa. Lebih mendasar lagi, apa itu baik?

Sesi Tanya-Jawab

  • Berkaca dari gerakan Feminisme dari tahun ke tahun yang awalnya hanya menuntut hak pilih dan dipilih dalam Pemilu (universal suffrage), terus berkembang sampai hak telanjang di jalan, tampak tuntutan Feminisme ini semakin hari semakin abstrak. Apakah bila dibiarkan terus-menerus ia malah menjadi equity destruction?

Jawab:

Perjuangannya tidak pernah abstrak. Ia tetap berpegang teguh pada masalah awal: akses pada pilihan hidup yang sama. Artinya, kalau laki-laki boleh telanjang di jalan, ya perempuan juga boleh. Jadi, masalah isu apa yang diangkat itu hanya urusan konteks dan momentum aja. Namun core perjuangannya tetap sama. Lalu orang ribut soal: perempuan kan bisa melahirkan, sementara laki-laki enggak, masa dipaksain sama? Kalo udah begini rasanya menyedihkan banget ya.. Padahal sederhana saja, boleh dengan bisa itu dua hal yang berbeda. Saya bilang boleh, sampe Anda botak gondrong lagi kalau memang secara hukum fisika dan kondisi biologis Anda tidak memungkinkan ya Anda tidak akan melakukannya.

Maka itu, yang dipermasalahkan adalah: Apa yang laki-laki boleh dan perempuan tidak boleh? Kalo masih ada perbedaan ya harus diubah, harus disamakan. Permasalah berikutnya: Apa yang keduanya sudah boleh namun mayoritas perempuan tidak bisa? Apakah ketidakbisaannya itu karena hukum fisika atau kondisi biologis yang tidak memungkinkan? Atau karena sistem, regulasi, struktur sosial, yang dikondisikan sedemikian rupa agar perempuan tidak bisa? Ini dasarnya dan tidak ada yang abstrak dari perjuangan ini, serta tentu saja dari kacamata Feminisme tidak akan menuju equity destruction.

  • Feminisme mencoba menyelesaikan masalah sosial, tapi saya masih belum mengerti, masalah sosial apa yang mendasari munculnya Feminisme?

Jawab:

Peradaban dibangun di atas perspektif laki-laki. Ia dibuat oleh laki-laki, dijaga oleh laki-laki, dilestarikan oleh laki-laki, diubah oleh laki-laki, namun mengikat tidak hanya laki-laki, melainkan juga perempuan. Ini dasarnya.

Jadi, kalo Feminis bergerak menentang tradisi tertentu, misalnya sunat perempuan atau perjodohan bagi anak perempuan, dan Anda jawab: ini local wisdom, ini budaya kami, kami harus lestarikan ini.

Maka, pertanyaan pertama yang harus Anda pikirkan adalah: siapa yang membuat budaya itu? Siapa yang mencetuskan local wisdom tersebut? Apakah perempuan dilibatkan? Apakah mungkin perempuan dilibatkan dalam membuat tradisi di mana perempuan hamil harus tidur di dapur? Atau perempuan yang diperkosa harus dilempari batu sampai mati? Apakah perempuan terlibat dalam pembuatan tradisi tersebut?

Masalah sosial ini yang melatarbelakangi kemunculan Feminisme. Ia memperjuangkan akses bagi perempuan untuk sampai pada posisi yang setara dengan laki-laki sebagai manusia, anggota keluarga, warga sipil, jemaat agama, dan bagian dari komunitas adat. Perempuan harus dilibatkan dalam pembuatan aturan, pembangunan prinsip moral, konstruk kebenaran dan pengetahuan, yang pada akhirnya jelas-jelas mengikat dan memengaruhi hidupnya sebagaimana berlaku atas hidup laki-laki.

  • Dalam sebuah organisasi, saya (laki-laki) menjadi ketua yang harus menunjuk beberapa orang untuk beberapa posisi atau jabatan. Manakah yang harus saya dahulukan; kesetaraan gender atau kapabilitas? Misal, saya tahu bahwa perempuan itu gampang baper dan emosinya suka gak stabil, akhirnya, saya lebih banyak memilih laki-laki ketimbang perempuan dan jumlahnya jadi gak berimbang.

Jawab:

Pertama-tama, Anda harus yakin betul yang Anda nilai adalah kapabilitas, bukan stereotipe. Anda lepaskan dulu individu dari identitas gender beserta stigma-stigma yang melekat padanya. Kalau kapabilitas di sini mensyaratkan orang dengan emosi yang stabil, ya Anda cari individu dengan emosi yang stabil, terlepas dari apakah ia perempuan atau laki-laki. Anda pastikan itu dengan sebuah mekanisme pengujian yang terbuka, adil, dan reliabel bukan berdasar persepsi Anda sendiri yang sudah penuh dengan stigma akibat konstruksi masyarakat pada umumnya.

Tapi, ketika pengujian kapabilitas sudah dilakukan dengan standar teknis yang objektif, maka saya akan merekomendasikan Anda agar memprioritaskan kapabilitas dibandingkan keseimbangan persentase gender. Namun, tentu saja hal ini hanya bisa diterapkan pada konteks jabatan atau kesempatan dengan ukuran kapabilitas yang jelas.

Contoh: Jabatan bendahara. Kapabilitas yang diperlukan jelas, yakni menguasai pembukuan dan pengelolaan keuangan. Lain halnya dengan Anggota DPR yang ukuran kapabilitasnya tidak bisa hanya soal teknis, tetapi dalam sistem demokrasi juga perlu mempertimbangkan aspek kemampuan menyerap aspirasi, aspek daya representasi (perwakilan), dan hal-hal non teknis lainnya.

Dalam konteks seperti ini, keperluan akan kuota perimbangan gender masih bisa didiskusikan lagi urgensinya (tidak bisa dengan mudah disimpulkan).

17-04-25-23-14-24-703_deco

Penutup

Apabila kembali pada judul diskusi ini, apakah Feminisme masih diperlukan? Tentu saja Anda bisa menjawab sesuai perspektif Anda masing-masing.

slide akhir bgt feminisme

Kalau dalam pandangan saya ya sangat bergantung pada konteks masyarakat tempat ideologi ini diperjuangkan. Kalo berkaca pada Indonesia, maka jawabannya jelas masih diperlukan. Salah satu isu yang paling mudah kita lihat adalah tes keperawanan di militer. Sisanya, kita bisa melihat dengan gamblang dalam berbagai adat dan tradisi, serta dalam koridor keagamaan, baik secara teologi maupun ritual-seremonial.

Di samping itu, bahkan di tengah masyarakat yang secara umum dianggap sudah adil genderpun Feminisme akan tetap dibutuhkan. Karena setiap ide, apapun itu, pasti akan terus menemui penantang-penantang turunan maupun penantang lama yang bangkit lagi. Nothing new under the sun.

Referensi

Berikut adalah rujukan primer yang saya pergunakan dalam membaca Feminisme.

  • Cudd, Ann. 2006. Analyzing Oppression. New York: Oxford University Press.
  • Fraser, Nancy. 1989. Unruly Practices: Power, Discourse, and Gender in Contemporary Social Theory. Minneapolis: University of Minnesota Press.
  • Fraser, Nancy. 1992. “Rethinking the Public Sphere: A Contribution to the Critique of Actually Existing Democracy” dalam Craig J. Calhoun, Habermas and The Public Sphere. Boston: MIT Press.
  • Higgins, Tracy. “Gender, Why Feminist Can’t (Shouldn’t Be) Liberals” dalam Fordham Law Review Volume 72 Issue 5 (2004): hlm.1629-1643. Fordham University School of Law.
  • MacKinnon, Catharine. 1989. Toward A Feminist Theory of The State. Cambridge: Harvard University Press.
  • Norris, Pippa. 1995. Political Recruitment: Gender, Race and Class in the British Parliament. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Phillips, Anne. 1991. Engendering Democracy. Oxford: Polity Press.
  • Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. New York: Oxford University Press.
  • Yuval-Davis, Nira. 2000. Gender and Nation, serial Politics and Culture. London: Sage Publication.

Sharing is caring!

One thought on “Apa itu Feminisme? Dan Apakah Diperlukan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *