Kebijakan Luar Biasa: Tiang Jemuran di Stasiun KRL

Sharing is caring!

Belakangan terdapat sejumlah topik yang hangat bahkan panas diperbincangkan. Sebut saja, misalnya, Ignasius Jonan yang tiba-tiba naik menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Arcandra Tahar sebagai wakilnya, Ahok yang dituding menista al-Qur’an, dan demo ormas Islam yang menginjak-injak dan merusak tanaman kota. Sekarang saya mengajak Anda untuk menghangatkan masalah tiang jemuran di stasiun kereta rel listrik (KRL).

Masalah ini tidak dapat secara alami naik ke permukaan, karena sebagian besar dari masyarakat kita adalah orang kaya yang tidak terkena dampak masalah transportasi publik. Orang kaya sudah punya mobil dan motor pribadi, tidak perlu naik KRL, tidak perlu berdiri sampai keram dari Stasiun Depok Baru sampai Sudirman, atau sesak nafas karena gerbong dipadati manusia melebihi kapasitasnya.

Orang kaya bisa asyik berdebat tentang masalah-masalah yang rumit sekelas tafsir al-Maidah 51 atau konspirasi Jonan dan Arcandra dengan Jokowi, sementara orang miskin memiliki masalah yang sederhana saja, sesederhana tidak ada tempat duduk di stasiun kereta.

Tiang Jemuran di Stasiun KRL

Selama setahun terakhir, saya dan jutaan orang miskin lainnya mendapati PT. KCJ (KAI Commuter Jabodetabek—anak perusahaan PT. KAI) sedang melakukan renovasi besar-besaran di stasiun KRL. Kini, loket-loket pembelian Tiket Harian Berjaminan (THB) mulai diganti dengan mesin-mesin canggih. Ciamik betul.

Kami bisa memencet-mencet sendiri di layar sentuh untuk memilih stasiun tujuan dan jumlah tiket yang dipesan. Lalu, tinggal memasukkan uang dan tiket pun sudah di tangan. Selain kecanggihan, PT. KCJ juga melakukan reformasi kebersihan. Toilet umum di beberapa stasiun sudah menjadi lebih bersih dan manusiawi. Tempat menunggu kereta juga bersih dari sampah dan pedagang kaki lima (PKL).

Perubahan lain yang tidak kalah revolusioner adalah kursi-kursi tempat duduk yang diganti dengan tiang jemuran handuk berbahan stainless-steel. Perlahan tapi pasti, dari mulai Stasiun UI, Pasar Minggu, Manggarai, hingga Cakung, semua kursi tunggu menghilang digantikan dengan tiang jemuran.

Beruntung saya masih cukup muda dan sehat, tidak ada asam urat dan tidak mudah encok. Saya melihat ke sekeliling saya, di kiri dan kanan, ada banyak kakek dan nenek yang sudah cukup tua harus pula menyandarkan tulang pinggangnya yang renta ke tiang jemuran itu. Saya menghabiskan beberapa bulan terakhir mencoba berpikir dan menalar maksud dari kebijakan ini.

Menalar Pembuat Kebijakan

“Oh, mungkin untuk memangkas biaya!” pikir saya. Kemudian, saya ukur panjang tiang jemuran tersebut, saya hitung jumlah potongan stainless-steel yang dipakai, hasilnya non sense. Dengan bahan dan ukuran yang sama persis dengan tiang jemuran itu, kami sudah bisa mendapatkan kursi untuk diduduki, bukan disandari.

Lebih jauh lagi, penggantian kursi dengan tiang jemuran sialan ini justru menambah biaya, bukan? Tadinya, kursi-kursi sudah ada di sana. Lalu, semuanya dibongkar, dan PT. KCJ mengeluarkan sejumlah dana untuk membeli tiang jemuran tersebut. Jadi, saya simpulkan kebijakan ini bukan soal memangkas biaya.

“Oh, mungkin untuk menambah space untuk menampung lebih banyak orang!” pikir saya. Dasar ini logis sekali. PT. KCJ harus berusaha menampung sebanyak-banyaknya orang di stasiun, begitu juga di dalam kereta. Kebijakan pengurangan kursi di dalam KRL juga tampaknya dibuat dengan dasar ini.

Luas space yang dipakai oleh seorang penumpang duduk setara dengan yang dipakai oleh dua orang penumpang berdiri. Oleh karenanya, dengan pengurangan kursi tersebut, KRL diharapkan dapat menampung lebih banyak orang. Tetapi, kasus tiang jemuran ini sama sekali berbeda dengan kasus tersebut. Mengapa?

Dengan luas penampang yang sama dengan tiang jemuran ini, kami sudah bisa mendapatkan kursi untuk diduduki, bukan disandari. Jadi, saya simpulkan kebijakan ini juga bukan soal menambah space.

Ternyata, Supaya Tidak Nongkrong di Stasiun

Beberapa hari lalu, saya akhirnya menemukan jawaban langsung dari pejabat PT. KAI terkait dasar diberlakukannya kebijakan tiang jemuran ini. Di dalam sebuah video yang diunggah oleh opini.id di laman Facebook-nya, terpampang pernyataan resmi dari Manajer Komunikasi Perusahaan PT. KCJ Eva Chairunissa. Begini bunyinya, “Perubahan ini dilakukan karena telah terjadi pertumbuhan penumpang. Karena saat ini mobilitas sangat cepat, jadi enggak perlu duduk lama.”

Pernyataan mbak Eva membuat saya teringat masa-masa di mana saya sedang menjadi orang miskin di New York atau di Boston. Namanya orang miskin, mau di kota mana pun di dunia ya sama saja, tetap naik transportasi publik. Di dua kota tersebut, saya rutin naik subway (persis KRL tapi bergeraknya di bawah tanah) untuk berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Satu hal yang saya yakini adalah saya tidak perlu menunggu lama karena kereta selalu datang tepat waktu. Jangankan kereta, bus yang setiap satu blok berhenti pun tidak pernah meleset dari jadwal. Kata teman-teman saya yang pernah ke Inggris dan Jepang, sih, di sana juga begitu.

Akan tetapi, di stasiun subway di New York, Boston, bahkan Washington sekalipun tidak ada tiang jemuran, lho! Begitu juga dengan stasiun subway di Inggris dan Jepang. Kalau mbak Eva berani mengklaim mobilitas di Jabodetabek—dengan kereta yang selalu ngaret dan tertahan bahkan bisa sampai 20 menit di jalur masuk Stasiun Manggarai—itu sangat cepat, maka saya bisa mengatakan bahwa mobilitas di kota-kota di atas itu sangat sangat-sangat cepat. Tetapi, tetap saja otak pejabat sana belum serevolusioner pejabat sini untuk menciptakan ide mengganti kursi peron dengan tiang jemuran.

Jujur saja, kalau kami gak miskin-miskin amat juga kami sudah membuang waktu untuk santai nongkrong di stasiun, duduk-duduk sambil ngopi, kalau perlu sesekali juga ikutan demo ormas atau demo mahasiswa biar masuk TV. Tapi, apa mau dikata? Wong kami ini ya buruh, ya pedagang pasar, ya kuli bangunan, ketinggalan semenit saja raib sudah rezeki sebelanga.

Kenyataan ini membuat kami pun tidak tertarik untuk nongkrong di stasiun. Non sense betul kalau beban kegagalan PT. KCJ membereskan jadwal kedatangan kereta yang karut marut itu harus digantungkan pada pinggang nenek dan kakek yang encok karena kelamaan nyender di tiang jemuran. Kami nongkrong bukan karena kami yang mau nongkrong, tetapi keretanya yang terlambat.

Saran saya kepada yang terhormat pejabat PT. KCJ, kembalikan saja kursi itu. Kalau tidak mau orang nongkrong di stasiun, ya bereskan saja dulu kereta nyangkut di Manggarai. Setelah urusan itu beres, baru kita ngobrol lagi soal mobilitas cepat.

 

Telah terbit di Geotimes: http://geotimes.co.id/inovasi-luar-biasa-kai-tiang-jemuran-di-stasiun/ pada 21 Oktober 2016

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *