Review #2 – Curhat Perempuan ala Tsamara Amany

Sharing is caring!

“Siapa yang mau masuk Parpol (Partai Politik)?” tanya dosen saya dalam kelas Kekuatan-kekuatan Politik Indonesia.

Ada lebih dari 50 mahasiswa Ilmu Politik duduk di sana. Yang mengangkat tangannya hanya 5 🙂

“Wah sedikit sekali ya. Oke oke. Kalo yang mau jadi Kepala Daerah? Kan gak harus lewat Parpol tuh” dosen saya bertanya lagi.

Syukurlah, yang mengangkat tangan bertambah…. Menjadi 8 orang 🙂

Dosen saya berkomentar, “Waduh gimana ini kalo anak Politik yang belajar teori-teori Politik dengan baik dan sudah jelas literasi Politiknya tinggi, malah gak mau masuk ke dalam politik praktis? Sementara lembaga-lembaga politik negara diisi orang-orang yang entah studi apa, tidak memahami teori-teori politik, membuat kebijakan secara serampangan, dan kalian sama sekali tidak terpanggil memperbaiki ini?”

Jleb.

Semua hening. Terdiam. Mungkin merasa bersalah atau menganggap omongan dosen ini lelucon belaka. Selang beberapa detik, terdengar suara samar-samar dari barisan belakang, “apa sih yang bisa diperbaiki dari negara yang udah hancur kayak gini?” “Hahaha iya negara demokrasi dengan 80% rakyat bodoh, kalopun berpendidikan cuman modal hafal” “buruhnya juga banyakan unskilled, jelas gak kompetitif” “berpolitik di negara kayak gini mah sebuah kesia-siaan yang hakiki”

Sejujurnya saya paham betul bagaimana pikiran-pikiran semacam itu dapat menyeruak. Justru karena kita belajar Ilmu Politik kita bisa berpikir seperti itu. Dalam momen seperti ini, saya rasa tepatlah kutipan yang mengatakan bahwa, “it’s better not to know

Terkadang, pengetahuan yang lebih banyak membuat kita lebih pesimis, karena kita merasa tidak ada ruang lagi untuk harapan, apalagi mukjizat. Melihat realita ini, tentu dibutuhkan kebesaran hati dan keberanian mengejar yang nyaris mustahil untuk anak bangsa mau mendeklarasikan keinginannya berpolitik dan memenuhi panggilan moral untuk berkontribusi memperbaiki kerusakan yang ada, tak peduli seberapapun parahnya.

Adalah Tsamara Amany, sosok perempuan yang melakukan itu. Dalam usianya yang masih sangat muda, duduk di bangku kuliah S1 tahun ke-3, ia sudah dengan mantap menyatakan diri mau berpolitik, bahkan kini resmi berkarya sebagai Ketua DPP Eksternal Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Jika sebelumnya saya mengulas sebuah memoar iman milik Ali Amjad Rizvi, buku bertajuk Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian yang akan saya ulas kali ini adalah sebuah memoar politik milik Tsamara Amany yang memuat seluruh gagasan, pandangan, dan visi politiknya, juga aktivisme dan keterlibatannya dalam politik praktis.

Jadi, curhat perempuan itu gak melulu soal cowok, make up, sepatu, atau tas aja seperti apa yang menjadi stereotipe pada umumnya, tapi juga soal gagasan kebangsaan, masa depan Indonesia, dan peran anak muda dalam membangun negeri.

1493220199-IMG_20170426_181358
Tsamara Amany berdiri di sebelah sebuah karangan bunga kiriman Ahok di hari ia bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Mengamati, Menilai, Hingga Menapaki

Buku ini terdiri atas artikel-artikel Tsamara tentang perpolitikan Indonesia. Awalnya, ia mengamati kiprah Joko Widodo dalam perhelatan Pilpres 2014 hingga melenggang menjadi RI 1. Ia mengagumi sosok Jokowi yang dipandangnya datang dari rakyat. Jokowi membuka harapan bagi siapa saja yang tidak datang dari keluarga elit namun punya kemauan memajukan bangsa untuk bisa menjadi Presiden Indonesia.

Sebagai penulis Kompasiana yang aktif menuangkan opini tentang Jokowi dan kinerja rezimnya, Tsamara diundang makan siang di Istana. Di situ, ia bisa berbincang secara personal dengan Jokowi yang kemudian ia pandang sebagai “sosok pemimpin yang rendah hati” dan “mau mendengarkan rakyat”. Kesan ini adalah kesan yang sama yang saya dengar dari warga penghuni Rusun Jatinegara Barat, korban penggusuran Kampung Pulo.

“Pak Jokowi tuh baik, Mbak. Mau mendengarkan kita orang miskin. Dia datang ke kita, ngobrol baik-baik dengan sabar. Dia nganggep kita ini orang, Mbak,” kata ibu penjual minuman di kantin Rusun yang sedang membandingkan Jokowi dengan Ahok.

Tsamara dalam acara makan siang bersama Joko Widodo.

Dari tulisan-tulisan Tsamara, sosok Jokowi memang secara konsisten memberikan kesan kesabaran, kerendahan hati, kemauan mendengarkan, dan kelembutan. Hal ini pula yang membuat Tsamara mengkritiknya ketika ia tidak tegas dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satu kasus yang diangkat adalah mengenai pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto.

Kasus lainnya yang juga menunjukkan kurangnya sikap tegas dari Jokowi adalah ketika bendera ISIS dikibarkan dalam parade tauhid kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 2015. Aneh sekali ketika ada bendera yang mencemooh kedaulatan bangsa dikibarkan dalam rangka memperingati kemerdekaan dibiarkan begitu saja oleh sang kepala negara, bahkan satu pernyataanpun tidak keluar dari mulut Jokowi mengenai hal ini.

Di sini, tampak Tsamara mulai memberikan penilaian, bukan sekedar mengamati fenomena. Momen penting pasca kemenangan Jokowi yang juga tak luput dipotret oleh Tsamara adalah dinamika koalisi. Dalam minggu-minggu pertama pasca berakhirnya Pilpres, kita sama-sama tau betapa kuat ketegangan antar partai dan elemen-elemen kekuasaan dalam sistem, termasuk munculnya DPR tandingan.

Tsamara memotret bagaimana akhirnya Jokowi berhasil membangun koalisi gemuk yang bukan hanya menyangkut stabilitas politik dalam pemerintahan, namun juga posisi otonomi Jokowi yang lebih berimbang terhadap PDIP (parpol pengusungnya) setelah mendapat dukungan dari Golkar.

Selanjutnya, ia mulai perlahan melemparkan batu-batu pijakannya dalam politik dan menapakinya. Pada tahun 2015, Tsamara berdiri sebagai salah seorang saksi dalam uji materi UU Pilkada di Mahkamah Konstitusi mewakili Komunitas Pendukung Ahok (KOMPAK) untuk meringankan syarat calon Kepala Daerah independen.

Tsamara sebagai saksi sidang meringankan calon independen.

Setelah itu, Tsamara terlibat dalam program magang Kantor Gubernur DKI Jakarta. Di sana, ia semakin mantap membangun komitmennya untuk menjadi pelaku politik, termasuk untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta suatu saat nanti–sebagaimana tertulis dalam bio Twitter-nya.

Ia sudah memilih untuk berlayar dalam kapal Partai Solidaritas Indonesia untuk mengarungi samudera politik Indonesia yang penuh dengan badai dan ketidakpastian. Di sana, Tsamara mau melawan intoleransi dan korupsi bersama dengan jutaan anak muda lainnya.

Kisah-kisah di Lapangan

Bagi orang yang tidak pernah terlibat langsung di lapangan, saya dan teman-teman akademisi Ilmu Politik tidak akan mampu menceritakan hal-hal teknis sebaik Tsamara.

Ia menceritakan soal Ahok batal maju secara independen dengan cara sederhana, yakni melalui kisah Jim Garrison, seorang jaksa di New Orleans, AS (1961-1973). Dalam sebuah persidangan pembunuhan John F. Kennedy, ia membawa fakta-fakta yang jarang didengar publik sebelumnya untuk membongkar kolusi antara CIA, FIB, dan sejumlah figur penting.

Meskipun akhirnya kalah, tetapi setidaknya ia sudah mencatatkan perjuangannya membela kebenaran dalam sejarah Amerika. Setidaknya, semua orang dapat mengenang, bahwa pernah ada seorang jaksa yang berdiri dengan teguh melawan kejahatan, meskipun hanya seorang diri, demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Tsamara menyebut kisah Ahok sama seperti Garrison. Meskipun Ahok tidak jadi mencalonkan diri dalam Pilkada DKI lewat jalur independen, namun setidaknya ia pernah menyuarakan kepentingan publik yang sudah muak dan kehilangan kepercayaan pada parpol.

Tsamara bersama Ahok di Kantor Gubernur DKI Jakarta.

“Ahok sudah mengubah posisi parpol yang tadinya menjadi raja, kini justru rakyatlah yang menjadi raja. Jika tidak mengikuti kehendak rakyat, maka parpol itulah yg akan tersingkir,” tulis Tsamara.

Saya rasa pandangan ini tidak sepenuhnya keliru jika bukan seratus persen benar. Kita melihat dalam Pilkada DKI, akhirnya semua parpol mencalonkan sosok hantu belau yang dicomot tanpa proses kaderisasi.

Karena rakyat tidak percaya lagi dengan orang-orang parpol, maka harus dimunculkan figur-figur yang secara pribadi sudah dikenal khalayak dan dipercaya. Akhirnya, muncul sosok Anies Baswedan dari bidang pendidikan, Sandiaga Uno dari bidang kewirausahaan, Agus Yudhoyono dari militer, dan Sylviana Murni dari birokrasi dan administrasi negara.

Kisah lainnya adalah seputar Djarot Hidayat. Sang Wakil Gubernur–yang kini sudah menggantikan posisi Ahok setelah vonis pidana kasus penistaan dijatuhkan atasnya–yang jarang disorot media ini diceritakan dengan apik.

Si Politisi Koboi itu memiliki gaya memimpin yang mirip dengan Jokowi. Ia hobi blusukan alias bertemu orang banyak. Ia selalu meluangkan waktu setiap hari untuk ngobrol para pejabat di bawahnya serta seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lembaga yang ia pimpin, sehingga kerja bersama seorang Djarot akan terasa seperti bersama teman bahkan keluarga.

Tsamara bersama Djarot.

Selain kisah Djarot, Tsamara juga mengangkat kisah Edy Junaedi, Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP). Lembaga yang dibawahinya bekerja untuk mempermudah urusan perijinan dan meningkatkan efisiensi alur birokrasi.

Sosok Edy muncul dari hasil seleksi yang melibatkan lebih dari 30 kandidat. Ia menjadi satu-satunya yang lolos standar minimum tes tertulis. Setelah melewati tahap wawancara, ia semakin diyakini punya kapabilitas mumpuni untuk menduduki posisi tersebut.

Bagian lain dari sepak terjang lapangan yang juga penting adalah menyoal penghapusan jabatan wali kota di Jakarta yang dianggap kurang efisien. Saya rasa untuk kasus ini, mungkin mahasiswa Ilmu Politik sekalipun tidak pernah dengan tabah mengikuti, apalagi paham hehehe.

Fungsi wali kota digambarkan sebagai kewenangan yang tanggung. Ia hanya dapat mengusulkan, sedangkan yang lebih otoritatif adalah sudin (suku dinas). Yang menjadi dilema adalah jika kewenangannya diperluas, maka gubernur yang menjadi tidak jelas esensi keberadaannya karena hanya akan menjadi koordinator para wali kota saja.

Pengalaman Tsamara selama magang di Kantor Gubernur DKI Jakarta betul-betul diartikulasikan dengan baik dalam narasi-narasi empirisnya seputar dinamika politik praktis.

Tsamara yang Mengagumi Soekarno dan Ahok

Tulisan-tulisan Tsamara tentang Ahok memang banyak ditaburi bunga-bunga. Harus saya akui, saya pribadi tidak akan sanggup menulis seperti itu. Banyak hal di luar substansi yang tidak perlu-perlu amat namun tetap ia tuliskan.

Ia menulis seperti seorang pujangga yang sedang jatuh cinta. Ia memakai bahasa yang romantis dan banyak menyematkan ekspresi perasaan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Toh di banyak tempat, ia juga menyematkan data dan teori. Meskipun saya tidak dapat memungkiri adanya aroma teori konspirasi di beberapa bagian yang tidak disokong data.

Salah satunya ketika ia mengatakan, “Pilkada Jakarta adalah pintu masuk ekstremisme, langkah selanjutnya menguasai Indonesia”. Ini klaim maha serius yang membutuhkan pembuktian maha serius pula.

Tsamara menjelaskan mengapa menulis dengan hati, baik tentang Ahok maupun Soekarno, sosok politisi yang juga menjadi role model baginya.

Tsamara bersama Ahok.

“Soekarno dan Ahok punya banyak kesamaan. Yang paling berarti buat saya adalah mereka sama-sama mencintai Indonesia,” tulis Tsamara.

Selain seputar cinta untuk Indonesia, Tsamara memandang Ahok dan Soekarno juga sama-sama tegas dan galak. Ia mengangkat kisah heroik Soekarno ketika menyerukan “Ganyang Malaysia!” atau “Go to hell with your aid!”.

Ahok juga seperti itu. Ia akan mencaci dan memaki siapapun yang dianggap tidak berpihak pada rakyat, terutama terkait dengan korupsi.

Dari cara pandangnya ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Tsamara adalah sosok nasionalis yang juga menyukai politisi-politisi nasionalis.

Masih menyoal Soekarno, Tsamara menunjukkan sikap oposisi tegas terhadap Soeharto–yang telah menjatuhkan Soekarno dengan tidak hormat. Ia pun menulis secara ringkas mengenai fitnah terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sampai sekarang masih menghantui rakyat.

Orde Baru telah membuat konstruksi kebenarannya sendiri yang merugikan nama PKI dan komunisme. Di mata Tsamara, Soeharto adalah otak di balik semua kekacauan ini. Sangat wajar ketika ia marah besar saat wacana pemberian gelar pahlawan pada Soeharto menyeruak.

Ia pun mengkritik pembelaan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) yang mengatakan bahwa bapaknya telah menunjukkan penghormatan pada Soekarno dengan menjadikan namanya sebagai nama bandara internasional (Soekarno-Hatta).

“Ini menggelitik sekali,” tulis Tsamara. Setuju banget sih hahahahahaha emang lucu.

Setelah menggusurnya dari tahta, mengasingkannya, dan membiarkan ia terlantar di masa tuanya, Soeharto berlagak sopan membuatkan bandara dengan namanya.

Lalu, Titiek dengan sekonyong-konyong menyebut ini penghormatan. Tidak ada kata lain yang lebih baik untuk menggambarkan fenomena ini selain “menggelitik”.

Menjadi Nasionalis Islami

Tsamara, sebagai seorang Muslimah, menghadapi tantangan benturan antara Islam dan ide-ide keindonesiaan.

Tsamara mengatakan bahwa, “Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan syariat Islam” dan “menjalankan syariat Islam dengan semangat Pancasila di dada adalah satu-satunya cara agar Indonesia dipandang sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang bebas dari konflik antar agama ataupun antar mazhab”.

Semangat nasionalisme seperti ini tentu saja baik untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Menurut saya, Pancasila memang dicanangkan Soekarno sebagai ideologi kerupuk. Bagi orang Indonesia, kerupuk itu pas dipadukan dengan makanan apapun, dari mulai nasi goreng, gado-gado, ketoprak, sate, sampai Indomie goreng soto. Semua cocok.

Nah, begitulah Pancasila. Agar kompatibel dengan keragaman tak terbatas yang ada dalam masyarakat Indonesia, ia dibuat sefleksibel mungkin. Ia bisa cocok dengan komunisme, islamisme, liberalisme, dan isme-isme lainnya, tergantung siapa yang berkuasa untuk menafsirkannya.

Sementara soal syariat Islam ini, Tsamara terlalu bermain aman. Ia tidak mengejawantahkan masalah yang ada. Mengapa ada elemen sipil yang mendikotomikan Pancasila dan syariat Islam? Mengapa Aceh perlu otonomi khusus untuk menerapkan syariat Islam?

Nyatanya, menjembatani ideologi Islam dan Pancasila tidak bisa hanya dengan mengatakan, “kita bisa menjalankan syariat Islam dengan semangat Pancasila di dada”. Apabila kita membuat pengandaian, syariat Islam yang dijalankan dengan semangat Pancasila mungkin akan berwujud seperti Brunei. Sekat antar agama menjadi tegas.

Dengan begitu, apakah kita masih menjadi Indonesia seperti yang kita kenal hari ini? Dan ini baru satu kemungkinan. Kalo dibuat ala Rizieq Shihab? Kita belum bisa melihat contohnya.

Tsamara dalam peresmian Majid Raya KH Hasyim Asy’ari, Jakarta.

Pancasila tidak punya butir yang menjelaskan bagaimana menengahi konflik di antara perbedaan mazhab. Satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah membuat pemisahan tegas.

Pasal “Ketuhanan yang Maha Esa” sendiri kerap kali dijadikan tombak bagi aliran-aliran tertutup untuk mengkafirkan dan menuduh kelompok mazhab lain sebagai “penyembah Tuhan yang berbeda”. Ia gagal dan tidak akan pernah berhasil meleburkan perbedaan kecuali dijadikan sepaket dengan bhineka tunggal ika.

Pemaknaan bhineka tunggal ika juga bisa menjadi perdebatan tak berujung berikutnya. Apanya yang “tunggal”?

Golongan Islam keras selalu pakai dikotonomi pluralisme dan toleransi. “Toleransi boleh, pluralisme jangan,” begitu pandangan mereka.

Kita cukup satu tanah, satu bahasa, satu kewarganegaraan, dan satu wilayah hukum. Tapi, kita beda derajat kebenaran.

Saya yang benar, Anda salah. Ketika saya punya otoritas untuk mengatur iman Anda, saya akan atur, agar Anda kembali ke jalan yang benar. Saya hentikan kegiatan ibadah Ahmadiyah dan Syiah, karena mereka salah, saya yang benar.

Dalam konteks ini, Tsamara tampaknya tidak (atau belum) berani menjabarkan pandangannya lebih jauh. Saya yakin Tsamara tahu persis pusaran konflik gagasan keislaman dengan keindonesiaan. Mungkin suatu saat nanti, dia akan menjabarkannya.

Kisah paling menarik dalam pembahasan Islam di buku ini adalah soal Asyura (hari ke-10 Muharram). Dalam pandangan Tsamara, kematian al-Husain, cucu Nabi pantas diperingati dan dikenangkan oleh semua umat Islam, bukan hanya Syiah.

Al-Husain mati karena menolak baiat kepada Yazid, putera mahkota Mu’awiyah–seorang pemimpin kejam yang membunuh Al-Hasan, kakak Husain. Mu’awiyah menjadi penguasa pasca meninggalnya Ali bin Abi Thalib.

Husain mengalami penyiksaan yang luar biasa tragis sebelum akhirnya dipenggal. Peristiwa ini terjadi di Karbala. Sesudah dipenggal, tubuhnya diinjak sampai hancur. Barulah kepalanya diserahkan pada Yazid dan wajahnya ditusuk-tusuk di hadapan banyak orang.

Tragedi Karbala tentu saja seutuhnya pantas untuk dikenangkan oleh seluruh umat Islam dan hal ini bukan berarti menjadi Syiah. “Ini adalah pemikiran yang sangat bodoh… Sampai kapanpun, Husain adalah cucu nabi dan darah yang tertumpah adalah darah nabi,” tulis Tsamara.

Komunisme Tidak Pernah Mati, Tsam!

Dari sekian banyak hal yang dituliskan Tsamara dengan ringkas, padat, dan menginspirasi, saya dikecewakan oleh satu tulisan yang berjudul “Hantu Komunis”.

Tsamara asyik menjelaskan bahwa gejala paranoid terhadap kebangkitan komunisme itu tidak berdasar, karena PKI sudah lama mati dan tak bisa bangkit lagi. Kuburannya pun dijaga TAP MPRS No.25 Tahun 1966.

Penjaga kuburan melarang kegiatan berbau komunisme dan polisi boleh menangkap siapapun yang terlibat di dalamnya. Mengunjungi makamnya pun tidak boleh. Tsamara memakai aturan gila buah tangan Orde Baru ini sebagai argumen untuk menunjukkan bahwa ketakutan pada komunisme itu sama sekali tidak masuk akal.

Sayang sekali. Padahal, seharusnya ia bisa memakai ruang wacana ini untuk melawan hukum tersebut. Bukankah reformasi itu mengantar kita pada demokrasi? Demokrasi macam apa yang melarang partai tertentu untuk hidup? Parahnya lagi, demokrasi macam apa yang melarang sebuah ide untuk berkembang?

Bagaimana jika saya membubarkan PDIP dengan paksa lalu membuatkan hukum secara khusus untuk mencegahnya tumbuh lagi? Saya larang juga ide-ide Soekarnois untuk berkembang, bahkan untuk diperbincangkan pun tidak saya ijinkan!

Jelas ada yang salah dengan regulasi ini dan ia harus dicabut bukan dipertahankan, apalagi dipakai untuk melandasi sebuah argumen. Lebih jauh lagi, Tsamara sebetulnya punya kesempatan emas untuk meluruskan pandangan masyarakat soal PKI dan komunisme.

Membaca tulisan Tsamara, saya malah jadi bingung. Ketika menyebut “komunisme”, dia sedang bicara PKI atau gagasan komunisme? Menyamakan PKI dengan komunisme sama saja mengatakan ISIS adalah Islam itu sendiri.

Yang paling menyakitkan buat saya adalah ketika Tsamara mengatakan, “komunis sama seperti hantu. Ia hadir dalam imajinasi dan rasa takut banyak orang, tapi ia tak nyata. Ia telah lama mati dan terkubur sedalam-dalamnya” (hlm.202).

Sebagai pengagum liberalisme, saya tersentak ketika mendengar sahabat karibnya disebut sebagai hantu. Komunisme jelas bukan hantu dan imajinasi belaka! Dia nyata dan tidak akan pernah mati.

Dia boleh terkubur, namun suaranya akan menggema lebih keras dari dalam kuburnya itu! Karena ketika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka kau adalah kawanku! Hanya ada satu kata, LAWAAAAAAAAAAAAN!

Sorry sorry, kebawa suasana.

Komunisme adalah gagasan tentang kebersamaan, kehidupan dalam kelompok, maju bersama tanpa meninggalkan satupun di belakang. Ia percaya kesetaraan yang nyata, tidak boleh satu orang bisa membeli pulau sementara yang lainnya membeli satu potong ayam pun tak mampu.

Ia mempertanyakan semua yang terasa tidak adil. Ia berdiri bersama mereka yang paling tertindas, yang ia sebut “teralienasi”. Buruh atau proletar adalah orang-orang yang terasing dari hasil kerja tangannya.

Buruh pembuat sepatu Nike tidak pernah satu hari pun dalam hidupnya mengalami rasanya mengenakan sepatu itu. Begitu juga dengan buruh pembuat tas Gucci, baju Zara, dan barang-barang konsumsi middle-high lainnya.

Komunisme mencurigai alat-alat penciptaan kesadaran palsu yang dipakai para penguasa. Entah itu sekolah, kurikulum, sejarah umum, ulama, bahkan agama itu sendiri. Kita tidak bisa memungkiri bahwa agama kerap dijadikan alat politik.

Ia berupaya mengeluarkan rakyat dari kesadaran palsu itu. Dari sekian banyak ide-ide maha mulia komunisme, propaganda sampah mengkerdilkannya menjadi sebatas “agama adalah candu”, “ateis”, dan “anti-Islam”.

MEMALUKAN! 19 tahun reformasi tidak cukup untuk membersihkan otak rakyat dari propaganda busuk ini.

Kalau masih terbesit dalam benak Anda, “Komunisme adalah penghancur bangsa yang harus dilawan”, maka buang saja Pancasila! Buang itu pasal 33 UUD 1945!

Semoga di lain kesempatan, Tsamara berkenan merevisi pandangannya itu dan ikut ambil bagian dalam perjuangan membersihkan rakyat dari racun-racun Orde Baru.

QUIZ

Seperti biasa, saya akan bagi-bagi buku gratis untuk 5 orang pemenang! Yuk, ikutan quiz-nya…

5 buku GRATIS untuk 5 orang pemenang menantimuuuuuuu 🙂

Caranya:

  1. Subscribe website ini dengan mendaftarkan email dan memverifikasinya.
  2. Like atau dislike (sesuai pendapat Anda) video wawancara saya dengan Tsamara di Geo Live.
  3. Tuliskan di kolom komentar artikel ini, inspirasi (pesan moral/wawasan/pengetahuan) apa yang mau Anda cari di dalam buku ini? (Sertakan nama, asal kota, dan alamat email aktif yang Anda pakai untuk subscribe website ini)

Pemenang akan dipilih berdasarkan beberapa aspek, antara lain (1) curiosity yang paling menantang dan (2) latar belakang empiris (pengalaman) yang menyentuh tentang kenapa Anda mau mencari inspirasi itu.

Periode Quiz: 12 Mei 2017-19 Mei 2017 (23.59 WIB).

Sharing is caring!

21 thoughts on “Review #2 – Curhat Perempuan ala Tsamara Amany”

  1. Saya selalu melihat politik sebagai permainan uang, dan manipulasi psikis massa terselubung, namun tahun 2014 saya mulai merasa ada secercah harapan, di mana ternyata ada segelintir tokoh yang saya nilai baik dan secara teknis capable, dapat berkolaborasi dan berhasil menggolkan Presiden Jokowi. Teori saya sedang ada pertarungan sengit antara kubu Jokowi dan oposisi yang mau menjatuhkan Presiden kita dengan segala cara, termasuk melalui revisi UU MD3, hak angket, dan penggiringan opini besar-besaran melalui hoax dan isu-isu miring (PKI,SARA,antek asing/cina). Tapi ya itu semua hanya teori, dan ketikapun benar, hanyalah satu sisi perpolitikan. Saya lagi berharap bisa melihat dunia politik dari kacamata para anak mudanya dan pelaku-pelakunya di garis depan. I hope to see different perspectives, or better yet, the fine thread that connects the dots, from what is going on beneath, and what effectively transpired on the fields, on day to day basis.

  2. Alasan saya ingin memperoleh buku ini sebenarnya didasari hal yang personal:
    Pertama, karena penulisnya, Tsamara, setidaknya menurut pandangan saya, adalah seorang perempuan yang cantik. Kedua, saya tidak mempunyai informasi yang memadai tentang Tsamara. Informasi yang saya punya dan jelas bagi saya sekarang ini adalah: di negeri ini ada seorang perempuan, bernama Tsamara, yang cantik, dan, katakanlah, satu generasi dengan saya, dimana dia bukan saja meminati perpolitikan tetapi hendak menjadi seorang politikus. Saya tertarik pada fakta ini. Saya tertartik pada Tsamara secara personal dan ambisinya. Melalui bukunya, tentu saja, saya bisa memperoleh informasi lainnya dari Tsamara, terutama soal pemikirannya.
    ***
    Mengingat kebanyakan politikus di negeri ini, sejauh yang saya perhatikan, memiliki rupa tidak tampan atau cantik; tetapi, karena satu atau lain hal, seperti “modal” (1) relasi kekuasaan, (2) kekayaan dan (3) kecakapan berpolitik, berhasil membuat mereka berkarier di dunia politik. Saya tidak tahu apakah Tsamara memiliki ketiga modal itu, terutama (1) dan (2). Saya penasaran apakah Tsamara akan dapat memiliki bargain politik di masa perpolitikan yang akan datang, entah karena (1), (2), (3), atau (4) cantik.

    M. Imanudin
    Yogyakarta

  3. Hai Cania !
    Ini adalah pertama kali aku ikut kuis mu, dan aku sangat berharap pada kuis ini hehe.

    Aku anak SMA yang lahir dan besar di keluarga yang beberapa kali menjabat di pemerintahan. Latar belakang keluargaku yang demikian mengajak aku untuk mengenal politik lebih dini. Sejak kecil aku yang melihat ayah ku bekecimpung di dunia politik, menjadi tertarik untuk ambil bagian disana pula suatu saat nanti. Aku ingin menjadi DPR, saat aku masih kelas 1 SD. Namun, melihat teman-teman SD ku yang bercita-cita menjadi dokter, polisi, guru, pilot, astronot, aku membuang jauh-jauh keinginanku itu. Aku mengubur mimpi menjadi anggota DPR sejak duduk di bangku Sekolah Dasar karena tidak ada teman-teman ku yang punya cita-cita di dunia politik. Hingga SMP, saat ditanya apa cita-cita ku, aku pasti menjawab profesi yang berubah-ubah. Karena jujur saja aku malu untuk mengakui kalau aku ingin terjun di dunia politik, melihat banyak politikus yang menjabat di negeri ini malah menyalah gunakan hak nya. Mungkin ini yang menyebabkan banyak anak muda tidak mau terjun di dunia politik. Alasannya, banyak tikus. Politik itu kejam.
    Karena alasan itu pula aku memendam mimpiku, meskipun ketertarikan ku terhadap dunia politik terus berlanjut. Aku bahkan sampai membolos 2 hari untuk menonton acara berita di TV. Nakal ya? *sebenarnya karena aku bosan dengan suasana sekolah hehe*
    Sampai aku SMA, saat perkenalan aku mengatakan kalau cita-cita ku adalah menjadi teknisi. Selalu berubah. Aku lupa itu profesi keberapa yang aku sebut sebagai cita-cita. Aku malu dan bangga saat belajar PPKn tentang politik dan pemerintahan. Aku bangga karena aku cukup tau banyak dibanding teman-teman ku. Tapi aku malu karena teman-teman ku bilang itu bukan urusan kami, itu urusan orang tua dan pemerintah.
    Aku memberontak dalam hati.
    Itu bukan urusan orang tua dan pemerintah. Itu urusan kita, generasi muda. Kalau anak muda tidak mau berpolitik dengan alasan politik itu banyak korupsinya, lalu siapa yang akan merubah doktrin itu? Kita ngga bisa demo dan nuntut ini itu dengan bebas dan berhasil (dituruti). Seenggaknya kita harus terjun kesana dan ikut menata apa yang seharusnya ditata kan?
    Anak-anak muda harus berpolitik, harus bisa merubah negerinya sendiri. Aku pernah baca, Kim Nam,ayah Ahok mengatakan, “Orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan lawan pejabat”. Kata-kata itu menunjukkan bahwa pejabat sangat penting perannya dalam kehidupan orang kaya, dan menurun ke orang miskin. Aku ingin, setelah aku baca buku ini, aku menjadi lebih percaya diri untuk menjadi seorang politikus dan mengungkapkan pada dunia kalau aku ingin jadi anggota DPR. Aku juga ingin mengajak teman-teman generasi bangsa untuk terjun ke dunia politik dan merubah negeri. Kak Tsamara bukti nyatanya. Aku ingin menjadi seperti dia. Sungguh. Aku ingin terjun di dunia politik juga suatu hari nanti

    Nama: Frischa Nur Azizah
    Alamat: Kabupaten Ponorogo
    email: frischahaha@gmail.com

  4. Well, setelah karangan bunga dari Ahok, lalu meluncurkan bukunya sendiri. Saya makin mengagumi Tsamara Amany.
    Bagi saya, Tsamara “agaknya” adalah role model yang baik untuk Pemuda dan Pemudi Pertiwi yang jengah dan putus harapan dalam melihat segala hal yang berkaitan dengan politik di negeri ini. Juga, tentang keberpihakannya dalam berpolitik adalah langkah yang berani di saat yang lain “mbunglon” atau menutup rapat-rapat keberpihakan politiknya.

    Adalah hal yang menarik jika bisa membaca gagasan Tsamara dalam bukunya ini.

    (M. Faridul Haq, Gresik)

  5. Keberpihakan adalah sesuatu yang sangat ingin saya hindari, dan membuat pembenaran atas diri sendiri bahwa kenetralan saya adalah keberpihakan saya terhadap diri sendiri.

    Tetapi setelah saya melihat bahwa di dunia ini kesemuanya sama sama di dalam panggung perpolitikan, karena setiap manusia pastilah menginginkan sesuatu. Dan juga pasti ada manusia lain dijalannya.

    Dari buku tsamara tersebut saya tidak melihat hasil hasil analisis apa saja yang tejah ditelaah oleh tsam, tapi dia sebagai individu dan keberpihakannya. Apakah itu juga pembenaran atas pengalaman pengalaman hidupnya, untuk membuat dunia yang lebih baik, atau apalah lainnya.

    Atau juga malah takut apabila suaranya tak terdengar jika meneriakkannya dari lapisan bawah tangga sosial.

    Tapi saya menganut paham lakukankah apa yang kalian inginkan, asal tidak berada di jalan tujuanku. Dan setelah saya pikir juga sendiri, ketidak berpihakan saya tidak saya rasakan memberikan sesuatu yang menyenangkan batin saya sendiri.

    Dan pada akhirnya bisa dikatakan saya ingin mengetahui apakah pemikiran tsam yang tertuang dalam buku itu yang mencerminkan dirinya sama dengan beberapa sempal sempa pemikiranku ?

    Apabila tidak, apa yang tetap ditulis disana ialah berarti, karena setiap orag memiliki arti di dunia ini. Mungkin mengenai kepalsuan kepalsuan yang dianggap ada dan dipelihara di negaera kita. Karena saya benci dibohongi oleh siapapun apalagi pihak itu merasa berada diatas saya dan tertawa-tawa. Maka dari itu saya belum bisa memberikan keberpihakan saya.

    Apa yang saya baca dari itu mungkin memberikan pandangan baru yang menambah jalan yang telah ada di depan saya untuk menuju ke tujuan yang saya idamkan.

  6. Sebelumnya maaf saya bukannya mendiskriminasi lawan jenis. Namun diera modern ini disaat byk perempuan hedon juga byk perempuan yg berjuang dlm bidangnya. Pemuda ini (tsamara) sudah bisa dikatakan layak utk ditiru krna perjuangannya dlm politik. Perlunya pemuda2 seperti ini khususnya bgi perempuan. Krna pelatah bilang negara yg baik itu dilihat juga dri perempuannya sendri. Tak perlu gengsi dlm hal apapun mau itu laki maupun perempuan yg menjadi minoritas.
    Yg saya tak sangka dan baru tau ternyata dri jurusan ilmu politik yg memilih tuk masuk parpol atau dunia politik hanya sekian saja. Bagaimana tidak yg lain pdhal sdh memahami politik dgn kompleks.
    Saya kira. Kita perlu meneladani2 org2 macam ini. Berfikir kritis, rasional, logis dan tentunya nasionalis. Terus berjuang ka tsamara !!! 🙂

  7. Tak pernah berhenti berusaha dan berjuang utk kebaikan negri kita tercinta terima kasih Tsamara, trima kasih sudah memberi spirit bagi anak muda Indonesia. smg akan muncul generasi muda Tsamara2 lainnya. Salut🙏

  8. Dulu saya apatis dan benci politik, terutama di Indonesia. Saya merasa sudah tidak ada harapan lagi bagi bangsa ini.Tetapi, sejak munculnya nama-nama seperti Pak Jokowi, Pak Ahok, dan Bu Risma, saya mulai tertarik lagi mengikuti perkembangan politik dalam negeri karena saya merasa mereka bekerja dengan hati untuk kepentingan masyarakat.
    Dan dari situlah saya mengenal nama Tsamara Amany. Dialah yang kemudian memberikan terang dalam hati dan semangat bahwa generasi muda Indonesia-lah yang bisa memperbaiki kondisi politik di Indonesia. Tentunya kita tidak akan bisa mendapatkan tokoh yang sempurna; paling tidak prinsip anti korupsi dan anti intoleransi-nya lah yang membuat saya merasa memiliki teman.
    Oleh karena itu, saya sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam buah pikiran dari Tsamara. Tambahan, saya pun senang membaca tulisan Cania ini. Kita sebagai manusia selalu perlu belajar dan saling membangun. Sungguh asyik melihat debat, sanggahan, pujian, dan dukungan buah pemikiran orang-orang cerdas yang mau belajar demi kemajuan diri dan bangsa.
    Saya sangat mengharapkan untuk bisa belajar lebih dalam mengenai serba-serbi politik Indonesia, mengenal pandangan politik seorang Tsamara, dan memperkuat hak politik saya sebagai WNI.

    Meiliana
    Pasuruan
    meiliana1289@gmail.com

  9. Aku sangat tertarik dengan dunia politik, walaupun aku masih pelajar SMP. Aku pengin banget baca buku Kak Tsamara buat dijadiin motivasi, pelajaran, terus aku juga pengen tau bagaimana cerita Kak Tsamara khususnya dalam dunia politik, karena aku awalnya mengenal Kak Tsamara dari sosmed, terutama cuitannya di twitter yg membuat aku makin penasaran dengan sosoknya. Aku berharap setelah membaca buku Kak Tsamara ini, dapat menambah wawasanku saat ini dan di masa depan. Hehe .

    Nama : Jein Nafa
    Asal Kota : Bandung
    Email : jeinnafaa@gmail.com

  10. Saya ingin meninjau lebih jauh soal alasan lebih detail mengapa Tsamara Amany menyebut kisah Ahok sama seperti Jim Garrison. Seperti yang Cania Citta Irlanie tulis, mereka (Ahok dan Garrison) sama-sama dinilai Tsamara sebagai martir, yang berjuang seorang diri, berani melawan tirani mayoritas.

    Dalam banyak aspek, saya sendiri menilai Ahok demikian. Tapi dalam konteks Ahok maju dalam Pilkada DKI Jakarta berjalur independen, yang Tsamara jadikan alas, diperbandingkan dengan kisah Garrison yang berjuang seorang diri sebagai jaksa demi tegaknya kebenaran dan keadilan di persidangan, apanya yang sama?

    Bukankah Ahok membatalkan perjuangannya di jalur independen itu? Sementara Garrison, tetap melanjutkannya berjuang sendiri, bukan? Ya, meski dirinya harus menelan pil pahit berupa kekalahan.
    Niat Ahok untuk itu memang ada. Tetapi apakah hanya gara-gara Ahok punya niat yang demikian lalu dirinya pantas disetarakan dengan sosok Garrison? Saya pikir ini satu kekeliruan yang sangat besar. Dengan kata lain, andai Ahok tetap memilih jalur independen dalam pencalonannya di Pilkada DKI, kalah atau pun menang, di situ baru bisa dianggap setara. Tapi kan nyatanya tidak. Ahok kalah dalam konteks perjuangan bersama, bukan dengan seorang diri.

    Lantas, dalam konteks itu, di mana fakta Ahok yang katanya menyuarakan kepentingan publik karena sudah muak dan kehilangan kepercayaan pada partai politik? Mana kenyataan itu yang Tsamara klaim bahwa Ahok sudah mengubah posisi partai politik yang tadinya menjadi raja atas rakyat? Hmmm…geleng-geleng kepala saya.

    Tapi entahlah. Saya yakin Tsamara punya alasan lain mengapa Ahok diposisikan setara dengan sosok martir bernama Garrison itu. Itu sebabnya mengapa saya sangat terobsesi untuk membaca utuh buku berjudul “Curhat Perempuan” itu.

    Setelah ini, saya harap Cania bisa membaginya satu untuk saya. Bukan untuk saya baca lalu disimpan saja di rak buku, tetapi saya akan amalkan apa-apa yang patut diamalkan di dalamnya, sembari akan mengkritik apa-apa yang patut saya kritisi nanti, termasuk soal penyetaraan Ahok dan Garrison. Selanjutnya, karena saya juga punya cita-cita besar jadi Presiden RI (entah kapan itu bisa terealisasi), maka “Curhat Perempuan” dari seorang politisi muda bernama Tsamara Amany menjadi wajib jadi bahan bacaan utama saya. Setidaknya itu memberi tambahan wawasan dan pengalaman politik saya.

    Ditunggu bukunya, Can. Terimakasih.

    Nama: Maman Suratman
    Asal Kota: Yogyakarta
    Email: mank_putra_mjn@yahoo.co.id

  11. Tulisan Tsamara selalu memesona sekaligus menggelitik. She’ll be an important person that change this country one day – no, now.

    Saya sbg mahasiswa mengenal sosok Tsmara ketika membaca salah satu artikelnya yg berjudul “Pak Anies, Saya Menyesal”. kebetulan hal tersebut juga saya alami sbg pemuda yg dulunya mengagumi pak Anies dan sekarang malah kecewa terkait sikapnya dalam pilkada DKI.

    Setidaknya saya belajar dari Tsamara tentang bagaimana dia bisa konsisten mendukung orang baik, dan berani mengambil sebuah keberpihakan dalam politik.
    Pemikiran dan kritiknya tentang realitas politik selama ini cukup membuka mata saya dan tertarik untuk mendalaminya lebih jauh.

    Mendengar kabar bahwa Tsamara telah membuat buku berjudul “Curhat Perempuan” saya ikut senang dan bangga, gak sabar pengen segera membaca buku tersebut namun belum kesampaian. karena Buat saya, pilihan-pilihan isu dalam bukunya sangat mendasar dan sangat penting. Tokoh-tokoh yang di pilih, misalnya, Soekarno, Ahok, Jokowi, terus ada isu-isu yang tetap merupakan masalah bagi kita, seperti PKI dan segala macam. Itu pilihan isu sangat mendasar untuk menentukan arah Indonesia ke mana.

    Selain itu, Saya juga ingin tahu banyak tentang latar belakang Tsamara bagaimana ketika menjadi mahasiswa di Paramadina saat ini, bagaimana ide-ide politik dan visi politik Tsamara kedepannya sehingga ia memilih bergabung PSI.

    Aku berharap makin banyak pemuda yg terus semangat & pantang menyerah membela kebenaran di negeri ini. Setidaknya Tsamara telah menjadi role model bagi kami anak muda masa depan bangsa ini khususnya kaum perempuan agar berani terjun politik untuk membersihkan kebusukan di sistem pemerintahan kita. Terima kasih kak Tsamara, Damn this girl is sharp, both mind and tongue hehe. 😊

    Terima ksih juga kak cittairlanie, yang sudah mereview buku ini secara Lengkap dan objektif, lengkap dgn kritik dan pujian secara berimbang. Kalian berdua Top, Sukses terus ya kak.

    Gustian Ri’pi
    Malang
    gustian.pkl@gmail.com

  12. Keren sih ada anak milenial “bau kencur” (seumuran sm gw) berani terjun ke dunia politik ditambah lagi dengan CV yg mentereng.
    Cuma gw penasaran aja gitu dasar apa sih yg bikin Tsamara ini mendukung Ahok yg merupakan kebalikan dr Jokowi, apalagi membandingkan Ahok dengan Soekarno.
    Ahok bukan Jokowi karena Ahok menggunakan cara2 represif untuk relokasi (kalo gw sih menggusur) warga, apalagi ketika Ahok ngancem demonstran anarkis supaya ditembaki dan dibakar hidup2. (yg malah bikin Ahok keliatan kayak Soeharto daripada Soekarno)
    Ahok (makin) gak mirip Soekarno ketika dia nunduk2 dihadapan para pengembang demi dana pembangunan fisik Jakarta.
    jadi apakah pengalaman magang di kantor gubernur yg Tsamara alamin bikin dia berpikir kayak gitu?

    Danny H.
    Jakarta
    dannythedog12@gmail.com

  13. Saya ingin mengetahui bagaimana lika liku Kak Tsamara terlibat dalam perpolitikan, Seperti yg telah kita ketahui bahwa “politik itu hal kotor” adalah stigma yg telah melekat di mata masyarakat. Apakah dengan berpolitik Kak Tsamara akan tetap pada hal2 baik dan bersih, atau malah dia sendiri secara tidak langsung dan tidak sadar atau malah dengan sengaja menujuh ke arah yg kurang baik. Untuk itu saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Kak Tsamara dan dunia perpolitikannya lewat buku ini, lewat pandangannya. Saya ingin menilai bagaimana Kak Tsamara menyampaikan pemikirannya lewat buku ini sekaligus saya ingin melihat politik dari sudut pandang Kak Tsamara

    Unsa Qoyimah, Yogyakarta.
    untsaqoyimah@gmail.com

  14. Dalam video yang saya lihat di Geo Live, Cania memberikan perbandingan soal keberpihakan politik. Di Indonesia, keberpihakan politik merupakan sesuatu yang tidak biasa dinyatakan secara terbuka (untuk tidak mengatakan tabu). Saat ada orang-orang yang mengekspresikan keberpihakan politiknya, lalu orang mulai menilai bahwa orang-orang itu dibayar menjadi “buzzer”. Orang juga mulai tidak mampu memisahkan keberpihakan politik dengan wilayah pribadi. Mereka yang menunjukkan keberpihakan politik terhadap yang tidak saya dukung berarti musuh dan layak dibenci atau di-“bully”.

    Bagaimana hal itu bisa dijelaskan? Mengapa keberpihakan politik di Indonesia merupakan sesuatu yang relatif tertutup? Entahlah, bisa jadi kultur manusia Indonesia yang tidak ekspresif berpengaruh juga. Bandingkan dengan kultur manusia Amerika yang lebih ekspresif. Bahkan dalam aspek bahasa, misalnya, tidak sedikit yang berpendapat ekspresi-ekspresi kebahasaan mereka hiperbolis. Soal keberpihakan politik, Cania menyebutkan bahwa di lain tempat keberpihakan politik merupakan sesuatu yang biasa, termasuk orang-orang muda yang menyatakan keberpihakan politiknya.

    Nah, saya juga menemukan data menarik. United Nations Inter-Agency Network on Youth Development (UN IANYD) pernah menyelenggarakan survei pada Agustus 2012 pada sekitar 13.000 orang muda dari 186 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mengungkapkan tantangan terbesar untuk orang-orang muda adalah minimnya kesempatan untuk ambil bagian secara aktif dalam proses pengambilan kebijakan. Jadi, apa yang menjadi perhatian Tsamara adalah sesuatu yang memang menjadi tantangan global. Maka, soal keberpihakan politik, khususnya orang-orang muda, di satu sisi, ada pengaruh-pengaruh kultural, di sisi lain ada tantangan global yang harus dihadapi.

    Dalam konteks itu saya rasa buku Tsamara menjadi penting. Pusaran rasa ingin tahu saya ada pada pertanyaan bagaimana seorang muda, yang ada di negeri yang pengaruh-pengaruh kulturalnya masih kuat, dan menghadapi tantangan global pula, berpikir dan memilih sesuatu. Menarik, karena akan menjadi inspirasi bagi orang-orang muda lainnya. Apakah inspirasi itu akan berbicara banyak untuk saya? Saya tidak tahu.

    Saya seorang calon imam Katolik. Masuk seminari sejak lulus SMP. Katakanlah puber saja belum selesai. Sejak itu, praktis saya tidak memiliki akses berpolitik praktis. Dapat dipahami, Gereja Katolik memang tidak melibatkan diri pada politik praktis. Lalu apa perjuangan politik saya? Pada level praktis, ya saya berusaha menjadi warga negara yang baik saja. Kalau ada Pilkada atau Pilpres, saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah untuk memilih. Kalau seminari mengadakan upacara bendera, biasanya setahun sekali, yakni saat 17 Agustus, saya berusaha mengikutinya dengan baik, kendati kadangkala lupa cara hormat yang benar seperti apa dan ikut tertawa paling keras kalau ada kesalahan-kesalahan lucu yang petugas upacara alami. Pada level yang lebih strategis, perjuangan politik saya sebagai calon imam tentu menyelaraskan perjuangan politik Gereja Katolik, yakni menciptakan kesejahteraan bersama. Bentuknya bisa macam-macam: pembinaan orang muda supaya tidak anti-politik, perhatian pada umat yang terpinggirkan, dsb.

    Begitulah. Senang saya bisa ikut sharing di sini. Kalau mau diberi buku, data saya tuliskan di bawah. Kalau tidak, tidak masalah. Nanti bisa saya beli kalau ada sisa dari uang untuk beli sabun mandi, hehe.

    U. Vigo Milandi, Tegal, vigomilandi@gmail.com.

  15. Saya,anak baru lulus sma.yang awalnya ‘takut’ dengan dunia perpolitikan.keras,segala cara,subyektif,ya pokoknya buruk sekali.tetapi justru karena ketakutan saya akan politik,membuat saya bertekat untuk masuk dalam dunia perpolitikan indonesia.tujuannya hanya satu.menyelamatkan negeri ini dari permainan2 politik kotor di indonesia.yah saya punya mimpi untuk menjadikan indonesia lebih baik.saya masih sangat dini perihal perpolitikan.saya berharap dengan membaca buku ini,wawasan/data saya mengenai perkembangan di indonesia,khususnya politik menjadi lebih banyak.bukan untuk saya saja,tetapi untuk orang lain.
    Terimakasih 🙂

    Asna Azizia,Surabaya
    asnaazizia@yahoo.com

  16. Sudah sejak lama saya kurang menyukai dunia politik karena buat saya sendiri, dunia politik itu selalu kotor, tapi daru review dari Mba Cania, dan dari buku Mba Tsamara saya berharap mendapatkan pandangan lain mengenai politik dari seseorang yang telah benar-benar terjun ke dunia politik dan masih dalam kondisi “waras” bukan memakai topeng untuk kepentingan pribadi.
    Selain itu saya pun, mempunyai mimpi suatu saat nanti, negara kita tercinta ini mempunyai politisi yang cukup bersih untuk menjalankan pemerintahan. Melalui buku ini, mungkin saya semakin bisa mengetahui politik yang baik, mengetahui sisi positif dari politik, serta mungkin dapat semakin memotivasi saya untuk bisa membangun Indonesia.

    (Lolita Noviana, Bandung, lolitanovianaa@yahoo.com)

  17. Akhir-akhir ini, saya sering merasa putus asa terhadap kondisi perpolitikan Indonesia, persis seperti yang Mba Cania paparkan di awal post ini. Ya apalagi saya, remaja perempuan yang baru saja lulus SMA, berasal dari keluarga yang sangat relijius dan konservatif sehingga rasanya sulit sekali untuk menunjukkan keberpihakan politik tanpa dicap sebagai ‘anak durhaka’ atau dicemooh, “Anak kecil gausah sok ngerti politik” dsb.
    Namun, setelah membaca review buku karya Mba Tsamara dan interviewnya dengan Mba Cania, saya semakin sadar bahwa memang keadaan politik Indonesia tergantung akan sikap anak muda. Saya berharap dengan membaca buku karya Mba Tsamara, wawasan saya akan dunia politik Indonesia bisa menjadi luas, dan nantinya lebih menginspirasi juga dapat memberikan keberanian kepada saya untuk bisa menunjukkan keberpihakan politik dan ikut serta memperbaiki keadaan politik Indonesia di masa yang akan datang.
    Terima kasih 🙏
    (Silmi Kamilah, Tangerang, silmikamilah7@gmail.com)

  18. Tsamara membuka harapan bagi saya, anak ingusan yang baru lulus sma, untuk terus memperjuangkan Indonesia ditengah berbagai kondisi yang menghimpit apalagi saya adalah kaum terlampau minoritas, yang semasa sma tertarik dalam hal politik dan perilaku manusianya tapi tak berani keluar untuk menyuarakan keadilan. Sangat menarik untuk mempelajari dan mempelajari lebih lagi keberanian seorang Tsamara.

  19. Perempuan dan filsafat selalu berjumpa dalam dialektika yang menarik. Ada paradoks di dalamnya, atau bisa ditemui ironi, pertentangan batin yang tak pernah (susah) untuk dituntaskan, namun juga ada kompromi, kritik serta perjuangan nilai. Saya kenal Tsamara hanya melalui cuitan di Twitter saat ia bicara tentang politik, perempuan, keresahan persoalan sehari-hari, juga pasti tentang Real Madrid. Cuitan terbatas untuk di dalami, maka saya bersyukur saat TSamara berkarya melalui tulisan. Serta tentu penasaran, pergulatan apa yang ia mau bagikan bagi masyarakat Indonesia, atau khususnya bagi perempuan Indonesia. Semoga saya menjumpai percikan makna di dalamnya, yang membumi, tak elitis, setidaknya itu harapan saya.

    Namaste…

  20. Sangat luar biasa dapat mengetahui anak seumuran saya (’96) yang terjun ke dunia politik dan bertemu langsung dengan orang-orang besar di negeri ini.
    Selain itu juga kemampuan yang diatas rata-rata dalam memahami percaturan politik dalam negeri sampai hal-hal yang tabu, hal-hal yang orang lain belum tentu tahu, hal-hal yang membuat orang takut menyebut namanya, dianggap sebagai hantu bernama PKI. Namun gadis ini menangkal kesemua hal itu dengan analisis-analisis tajam serta kritisnya. Salut! Terus Berkarya!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *