Apa Kata Quran Soal Penistaan Agama?

Sharing is caring!

Selama ini, kita sibuk membuat persepsi-persepsi kita sendiri tentang apa yang dimaksud dengan penistaan agama, tentang apa hukuman yang pantas untuk penista agama, dan tentang apakah Ahok telah menista Islam atau tidak. Saya membaca tulisan yang sangat bagus dari Qasim Rashid, seorang Muslim yang bekerja sebagai pengacara dan penulis, di Independent yang membahas penistaan agama dari kacamata Quran.

Artikel Rashid berjudul This is What the Quran Actually Says About Blasphemy (12/5)Di sini, saya telah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia agar dapat diakses oleh lebih banyak orang Indonesia. Selamat membaca, semoga menginspirasi!

Dalam sebuah film komedi asal Inggris, Monty Python’s Life of Brian (1979), seorang pria paruh baya dituntut dan dijatuhi hukuman karena melakukan penistaan. Kejahatannya? Mengucapkan nama Yehuwa (Jehovah). Dia menegaskan dia tidak bersalah, tapi kerumunan orang yang dipenuhi amarah sudah siap siaga untuk melemparinya dengan batu.

Tampaknya, kehidupan nyata tidak jauh berbeda dengan dunia fiksi. Pekan lalu, Irlandia menyelidiki Stephen Fry, seorang kritikus agama yang blak-blakan, karena diduga melanggar hukum penistaan tahun 2009. Minggu ini, di Amerika Serikat, seorang perempuan dihukum karena menertawakan Jaksa Agung dan menjalani hukuman setahun di penjara.

Secara historis, hukum penistaan pertama kali dipakai di Eropa Kristen (Eropa di bawah kekuasaan gereja) sebagai sarana untuk mencegah perbedaan pendapat dan menegakkan otoritas gereja. Hukum ini kemudian diekspor ke negara-negara mayoritas Muslim melalui imperialisme Inggris. Saat ini, hampir setiap negara berpenduduk mayoritas Muslim yang memiliki undang-undang penistaan dapat menelusurinya kembali ke undang-undang buatan Inggris yang telah dipakai sejak berabad-abad sebelumnya.

Belakangan, kasus penistaan menjadi semakin populer sebagai sarana untuk menganiaya kelompok minoritas di negara-negara seperti Pakistan, Arab Saudi, dan Indonesia. Di Pakistan, Muslim Ahmadi (Ahmadiyah) terkemuka, Tahir Mehdi, akhirnya dibebaskan setelah hampir dua tahun dipenjara karena tuduhan penistaan setelah menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Sementara seorang Ahmadiyah lainnya, Shukoor Ahmad (81 tahun), menjalani hukuman penjara delapan tahun karena tuduhan penistaan yang sama.

Di Arab Saudi, Raif Badawi masih dipenjara atas tuduhan penistaan setelah menyatakan dirinya sebagai seorang ateis. Dan pekan ini, di Indonesia, pengadilan menghukum Gubernur DKI Jakarta, Ahok, dengan pasal penistaan agama: Gubernur ini, seorang Kristen, menghadapi hukuman penjara dua tahun. Kejahatan Ahok? Dia mengkritisi klaim dari para ulama yang mengatakan bahwa Quran mewajibkan umat Islam untuk memilih seorang Muslim daripada seorang non-Muslim dalam Pemilu.

Dengan menghukum Gubernur Ahok atas tuduhan penistaan, Indonesia telah mempermalukan dirinya sendiri, melanggar Hak Asasi Manusia, dan mengabaikan ajaran Islam. Sebenarnya, meski berkali-kali menyatakan penistaan sebagai sesuatu yang salah, Quran tidak pernah menyebutkan satupun hukuman duniawi.

Kendati demikian, Gubernur Ahok benar bahwa Quran tidak mewajibkan umat Islam untuk memilih seorang Muslim daripada seorang non-Muslim. Sebaliknya, Quran 4: 58-59 berbunyi, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan orang-orang yang berkuasa di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dengan demikian, Quran memerintahkan umat Islam untuk menilai dengan berdasar pada keadilan, bukan latar belakang agama. Quran sebetulnya bisa saja menuliskan bahwa umat beriman seharusnya hanya mematuhi orang-orang berwenang yang beragama Islam, namun kenyataannya perintah semacam itu tidak ada.

Nah, inilah yang menjadi ironi. Gubernur Kristen yang dituduh menista itu telah mengutip Quran dengan benar, sementara ulama Muslim yang menghukumnya itulah yang salah. Jadi, jika para ulama itu benar-benar mau menegakkan undang-undang penistaan secara kaffah, maka mereka seharusnya menahan diri mereka sendiri dan membebaskan Gubernur Ahok.

Tentu saja mereka tidak akan melakukannya, karena hukum penistaan tidak pernah tercipta untuk melindungi Tuhan, melainkan untuk melindungi ego rapuh para ulama korup. Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia dan telah lama berdiri sebagai mercusuar harapan bagi kemajuan peradaban Islam di dunia. Namun, hukuman atas Gubernur Ahok, bersamaan dengan kekerasan tak berujung yang menimpa jemaat Ahmadiyah di Indonesia, mengancam masa depan demokrasi yang sedang berkembang ini.

Solusinya tertanam dalam kebangkitan Islam yang sejati dengan bersandar pada model kesuksesan dan reformasi umat Islam yang telah terbukti. Kepemimpinan Muslim harus lebih bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak kelompok agama dan kepercayaan minoritas di negara-negara mayoritas Muslim. Betapa tragisnya seorang Kristen harus dipenjara karena perbedaan pendapat yang damai, sementara Nabi Muhammad malah menulis dalam sebuah surat bahwa “orang Kristen adalah rakyatku dan aku menentang segala perbuatan tidak menyenangkan terhadap mereka”.

Pada tahun 2009, Yang Mulia Khalifah Islam Mirza Masroor Ahmad menyampaikan sebuah pidato penting di Frankfurt, Jerman, di mana dia memohon kebebasan beragama. Di bagian akhir pidatonya itu, ia mengatakan, “Para pengikut agama manapun harus dapat menjalankan tradisi keagamaan mereka secara bebas; Jika pemerintah malah mengintervensi kehidupan keberagamaan, di dunia yang beradab ini, maka hancurlah klaim mereka sebagai negara sekuler dan mereka telah gagal menegakkan hak orang lain.”

Jadi, bagaimana adegan penistaan dalam komedi Monty Python itu berakhir? Nah, itu berakhir ketika hakim yang memutus terdakwa dengan hukuman mati akhirnya dirajam sampai mati setelah secara tidak sengaja mengucapkan kata Yehuwa. Ada pelajaran dalam hal ini untuk semua otoritas yang menghukum perbedaan pendapat yang damai: dengan berbuat demikian, Anda akhirnya menghancurkan diri Anda sendiri.

*****

Soooo what do you think? Saya pribadi sudah menuliskan pandangan saya mengenai penistaan agama di Geotimes. Sekarang, giliran Anda yang menuliskan pendapat di kolom komentar. Selamat berdiskusi.

Sharing is caring!

4 thoughts on “Apa Kata Quran Soal Penistaan Agama?”

  1. 1. Kenapa Al-Maidah:51 yg disebut Ahok tidak dibahas? Hmm…
    2. Ahok berkata “ditakut2in masuk neraka”, kalau tanpa konteks, itu bukan hanya penistaan Islam, tapi konsep agama itu sendiri. Ini yg banyak diabaikan org2

  2. Ada dua hal yang hendak saya sampaikan. Kesatu, ini adalah masalah penafsiran. Penafsiran sendiri harus mempertautkan dimensi retrospektif (menjejak di masa silam / konteks) dan prospektif (kemungkinan di masa depan). Penafsiran ada ilmunya. Dalam konteks Al-Qur’an, ada tafsir Al-Qur’an. Prof. Dr. Quraish Shihab adalah satu di antara sekian penafsir Al-Qur’an di Tanah Air. Jadi, jika orang kurang mumpuni dalam menafsir Al-Qur’an, maka aculah pihak otoritatif dalam penafsiran Al-Qur’an, diantaranya aculah pendapat Prof. Dr. Quraish Shihab. Sebab, jika tidak tahu mesti mencari tahu, sedangkan jika berbeda pendapat (berbeda pengetahuan) mesti diskusi (musyawarah). Kedua, saya menyayangkan Ahok yang merambah wacana terutama mempersoalkan ajaran agama orang lain. Padahal sebagai pejabat publik, posisinya sudah resisten, apalagi ketika ia merambah wacana tersebut yang terkenal sensitif. Jadi, kita memang mesti adil (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Untuk itu, kita perlu tahu apa sesuatu itu dan dimana tempatnya.

  3. Hanya mengkoreksi, mungkin kalimat yang lebih tepat adalah ‘Indonesia adalah negara dengan mayoritas umat muslim terbesar di dunia’ bukan ‘negara Muslim terbesar di dunia’ (para. 12). Terima kasih 🙂

    1. “Indonesia is the world’s largest Muslim nation” ini kalimat aslinya. Saya rasa yang harus dikoreksi adalah “negara”, karena “nation” berarti bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *