5 Tips Menulis Ringan, Berisi, dan Berkelas

Sharing is caring!

Jujur, saya juga masih belajar sebagai penulis dan masih pemula banget. Tapi, entah kenapa, sudah banyak orang meminta tips menulis pada saya, baik itu mahasiswa, pelajar, maupun dosen. Memang kadang menulis itu butuh lebih dari pengetahuan dan ilmu. Banyak orang punya ide lebih bagus tapi tulisannya tidak menarik, akhirnya idenya tidak sampai pada publik.

Nah, di sini saya mau mencoba berbagi tips menulis hasil pengalaman saya menulis selama 3 tahun terakhir. Awalnya hanya di media Line@ yang dikelola secara amatiran oleh sekelompok anak muda, akhirnya merambah ke sejumlah media online, yakni Qureta dan Geotimes. Tips ini sudah hasil dari pembelajaran dan penempaan menahun, jadi banyak insight dari pembaca yang juga saya masukkan di sini.

1. Tulis Apa yang Kamu Pahami, Pahami Apa yang Kamu Tulis

Ini tips untuk kamu yang ingin menjadi penulis berkelas bukan penulis gadungan yang hanya cari eksis. Penulis berkelas harus mampu menyebarkan gagasan secara bertanggungjawab. Maka, sebelum kamu berharap pembacamu memahami isi tulisanmu, kamu sendiri harus sudah memahaminya lebih dari siapapun.

Jangan memaksakan diri membicarakan hal yang belum betul-betul kamu pahami. Kalau memang kamu hendak mengikuti isu, setidaknya kamu baca, cari tahu, riset kecil-kecilan, sebelum akhirnya menuliskan pendapatmu. Kalau kamu mentok banget gak bisa memahaminya juga, bersabarlah. Lakukan riset lebih dalam sampai kamu paham, baru kamu tulis!

Darimana saya tahu penulis itu tidak paham apa yang dia tulis? Sederhana sekali… Dari penempatan istilah, analogi atau narasi penjelas, serta yang terpenting, data. Contoh paling gampang:

Argumen para pendukung negara sekuler lebih ke arah ideologis ketimbang logis.

Istilah ideologis jelas tidak berseberangan dengan logis. Ideologis berarti bersumber pada sebuah ide atau nilai yang dipercaya menuju pada kondisi ideal. sedangkan logis berarti sesuai dengan kaidah-kaidah logika. Argumen seseorang bisa mengandung keduanya secara bersamaan.

Jadi, sangat tidak pas apabila kedua istilah ini ditempatkan beroposisi.

Kebiasaan memakai istilah rumit yang tidak dipahami menjangkiti banyak orang dan saya harap setelah membaca tips ini, kamu tidak lagi melestarikan budaya ini. Saya pernah diminta me-review esai pelajar untuk sebuah lomba, banyak pelajar memakai istilah “liberal” atau “komunis” pada konteks yang sangat ngaco dan super out of this world. Mungkin ketularan FPI atau Felix Siauw.

Sumber: BBC News

 

Sumber: Akun Twitter Felix Siauw

Nah, kalau kamu sudah memahami apa yang kamu tulis, membuatnya menjadi ringan akan mudah. Kamu tinggal memberikan penjelasan paling sederhana yang bisa berupa contoh konkret (empiris) atau analogi yang sesuai. Coba baca tulisan sejarawan yang saya kagumi, Mun’im Sirry, di sini. Lihat bagaimana dia menjelaskan data numismatik dengan sangat sederhana dan siapapun, seawam apapun, pasti bisa memahami maksudnya.

2. Biasakan Membuat Kerangka Tulisan KALO BELOM JAGO MENGONTROL PIKIRAN

Kerangka tulisan secara sederhana cukup diisi dengan 2 hal: Pokok pikiran dan gagasan penjelas. Yang saya maksud dengan “pokok pikiran” di sini adalah “gagasan utama” yang dalam artikel opini berupa “thesis statement” (posisi argumen yang didukung atau dibantah). Sementara “gagasan penjelas” adalah berbagai variabel elaborasi atas gagasan utama (bisa berupa data angka, grafik, contoh kasus, analogi, dan lain sebagainya).

Dari kedua hal itu sajalah, kamu boleh membuat kesimpulan. Banyak penulis sepanjang tulisannya membicarakan X tiba-tiba di bagian kesimpulan membawa Y. Dehhhh pusing pala barbie. Hal seperti ini lumrah terjadi ketika kita belum sanggup mengontrol pikiran kita. Saat kita menulis bagian tengah, kita lupa apa yang kita bahas di awal… saat kita sedang menulis bagian akhir, kita lupa apa yang kita bicarakan di tengah.

Akhirnya, kesimpulan kita jaka sembung makan ikan gembung hehehehe gak nyuambuuuung, mblung 🙂

Penulis muda, karena masih sangat berapi-api, memang rentan melakukan kesalahan semacam ini. Kalo bisa semua hal yang dia ketahui di alam semesta ini dimasukkan dalam sebuah artikel, akhirnya tulisan dia lari sana-sini, tidak ada benang merahnya.

Saya kasih contoh lagi:

Penulis memulai tulisannya dengan masalah banjir sudah menjadi permasalahan menahun bagi masyarakat Jakarta. Lalu, ia menjelaskan bagaimana banjir sangat merugikan bagi masyarakat, banyak warga tidak bisa berangkat bekerja, bahkan sejumlah perusahaan terpaksa libur dan menjadi tidak produktif. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa penyebab utamanya adalah saluran air terhambat sampah yang menumpuk, ditambah banyak daerah pemukiman yang tidak punya lubang menuju saluran air sama sekali, habis dibuat jalan. Lalu di bagian kesimpulan, ia menyatakan bahwa oleh karena itu salah satu solusi yang bisa dipakai adalah relokasi warga bantaran sungai.

Ketika kita membaca dalam bentuk ringkas seperti ini, tentu saja kita bisa dengan mudah menemukan kesalahannya di mana. Tapi, bayangkan ketika kerangka ini sudah berbentuk artikel 1.500 kata. Tentu saja si penulis tidak dapat langsung menyadari betapa semrawut tulisannya. Untuk itu, membuat kerangka tulisan sangatlah penting!

Kecuali kita sudah mahir mengelola pikiran, sehingga dapat selalu sadar akan apa yang menjadi pokok bahasan kita di setiap paragraf dan benang merah dari keseluruhan tulisan kita.

3. Hati-hati dengan Cacat Logika (Logical Fallacy)

Dari sederet jenis cacat logika yang bisa kamu baca di sini, saya akan coba jelaskan 3 saja dengan contoh kasus, yakni argumentum ad verecundiamignoratio elenchi, dan post hoc ergo propter hoc.

Pertama, argumentum ad verecundiam atau appeal to authority. Seringkali penulis baru dengan segudang judul buku beserta penulis di kepalanya, fokus pada menyebutkan isi daftar pustakanya bukan memberikan penjelasan kenapa argumen yang ia bawa itu valid. Ingat lho, penjelasan ini membutuhkan sebuah mekanisme pembuktian, bukan hanya penyampaian kesimpulan.

Kesalahan logika appeal to authority adalah ketika penulis menganggap sebuah argumen pasti benar karena datang dari institusi/tokoh/figur otoritatif (besar/berkuasa/diakui dunia). Misalnya, penulis menganggap argumen yang menyebutkan bahwa homoseksual bukan penyakit adalah benar karena sudah ditulis dalam DSM 5 yang adalah sebuah sumber maha otoritatif dalam penentuan daftar penyakit jiwa.

Seharusnya, ketika penulis hendak membawa argumen ini, penulis harus mampu menjelaskan pembuktian mengapa homoseksual valid untuk dianggap bukan penyakit? Maka itu kembali ke poin 1, penulis harus betul-betul memahami apa yang ia tulis. Kalau tidak, tentu saja cacat logika semacam ini pasti akan selalu terjadi.

Kedua, ignoratio elenchi atau irrelevant conclusion (missing the point; tidak menjawab permasalahan/pertanyaan). Misalnya dalam perdebatan hak angket KPK, muncul argumen bahwa “DPR tidak perlu meminta hak angket karena seharusnya DPR lebih fokus berbenah diri daripada ngerecokin lembaga lain”. Nah, ini adalah jelas argumen yang missing the point, karena kita sedang memperdebatkan hak angket yang mana memang tujuannya adalah agar DPR bisa mengawasi kinerja KPK.

Nah, seharusnya kan argumen yang muncul adalah seputar (1) keberfungsian hak angket, (2) mekanisme teknis pelaksanaan hak angket, (3) struktur relasi kuasa DPR-KPK dalam rangka menjalankan fungsi checks and balances, dan lain sebagainya. Bukan malah menggeser isunya menjadi “DPR harus berbenah diri”.

Ketiga, post hoc ergo propter hoc atau after this, therefore because of this. Dalam membuat argumen, kita selalu dituntut untuk menjawab pertanyaan “mengapa”. Maka dari itu, kita pasti membuat sebuah relasi kausal (hubungan sebab-akibat) entah itu sebagai gagasan utama maupun narasi penjelas. Kesalahan logika ini terjadi ketika kamu mengatakan X yang terjadi setelah Y pasti disebabkan oleh Y.

Contoh gampangnya, kamu bilang temanmu menjadi homoseksual karena ketularan teman kosnya yang kebetulan gay. Kamu menyimpulkan begini karena temanmu mengaku menyukai sesama jenis persis setelah pindah ke kos barunya di mana ia ketemu teman kosnya yang gay itu.

Padahal kronologi kejadian SAMA SEKALI tidak bekerja sebagai relasi sebab-akibat. Apakah jika setelah hujan kamu berhenti merokok berarti kamu berhenti merokok karena hujan? Tidak akan ada satu orangpun yang dengan konyolnya berpikir demikian.

4. Biasakan Kasih Informasi Baru

Beranilah mengambil angle atau sudut pandang yang belum pernah atau sangat jarang dipakai orang, supaya pembaca tidak mendapatkan informasi basi yang itu-itu melulu. Misalnya kamu mau membuat artikel opini mendukung Ridwan Kamil (RK) menjadi Gubernur Jabar dalam Pilgub 2018 mendatang. Kamu baca dulu opini yang sudah berkembang, kira-kira yang dukung dia itu argumennya apa.

Nah, ketika semua orang yang pro-RK sudah banyaaaaaak sekali menceritakan mengenai pembangunan taman ini dan itu, pembangunan spot wisata disini dan sana, ya sudah atuhlah jangan bicara pembangunan lagi. Cari sudut pandang lain yang belum diangkat. Sehingga pembaca tidak jenuh dan dapat inspirasi.

Kecuali isu yang memang sudah menahun dan masyarakat masih tidak berubah juga, seperti persoalan sampah plastik (ya mau kasih argumen apalagi selain kerusakan lingkungan dan ekosistem yang semakin parah?) atau UU Penodaan Agama (yang sejak jaman Gus Dur sampai sekarang memang tidak dihapus juga.. dan sudah tidak ada lagi argumen baru yang bisa dipakai selain kemanusiaan itu sendiri).

Nah untuk isu menahun, kamu bisa membawa argumen yang sama dengan menunjukkan contoh baru, membawa kasus-kasus aktual untuk menggambarkan betapa masalah tersebut sudah semakin parah dan harus segera kita tangani bersama.

Selain argumen, kamu juga bisa memberikan kesan informatif dengan menyelipkan sedikit ulasan analisis dari sumber-sumber terbaru (entah itu buku, film, jurnal ilmiah, atau artikel opini lain). Kesan kebaruan ini diperlukan, sekali lagi, agar orang merasa tulisanmu itu berguna dan gak hanya menjadi suara repetitif seperti radio rusak.

5. Data adalah KUNCI

Jangan pernah bicara tanpa data, jangan pernah belajar berargumen dari debat publik politisi di masa Pemilu. It’s totally SICK. Kamu harus membiasakan diri mencari data dulu sebelum menulis, pastikan datanya dapat kamu akses, dan dapat kamu jelaskan dengan mudah (maka kamu perlu cek lagi poin 1, pastikan kamu betul-betul memahami data yang kamu pakai).

Kamu mau bilang Indonesia sedang di ambang kehancuran. Maka, kamu harus kasih data. Tapi, kamu juga harus memastikan kamu memahami maksud datanya. Banyak orang bicara pendidikan kita hancur dengan membawa data jumlah koruptor yang terus meningkat. Lho? Padahal koruptor aja gelarnya setinggi langit hehehe.

Dengan pembacaan data yang ngaco, kita akan bermuara pada rekomendasi solusi yang ngaco kuadrat. Saya kasih contoh lain:

Orang korupsi karena lemah agama. Solusinya, kita tingkatkan pendidikan agama, kita perbanyak waktu pelajaran agama di sekolah, agar generasi di masa depan tidak korupsi lagi.

Faktanya, lembaga negara yang mengurusi agama sekalipun melakukan korupsi, dalam jumlah besar pula. Jadi, penguatan agama secara formal (salah satunya pendidikan di sekolah) sudah bisa dipastikan tidak akan bisa melepaskan masyarakat dari budaya korupsi yang sudah mendarah daging.

Semakin tinggi tingkat kerumitan topik yang kita bahas, maka semakin tinggi juga kompleksitas datanya, dan semakin berat pula tantangan untuk kita dalam menjelaskannya ke pembaca. Misalnya saja konflik Israel-Palestina. Tanpa pemahaman matang terhadap data sejarah, politik, ekonomi, dan hukum yang menaungi permasalahan tersebut, kemungkinan besar kita akan sampai pada kesimpulan dan rekomendasi solusi yang jauh panggang dari api alias ngelantur.

Ya, untuk sekarang segitu dulu tips dari saya. Pertanyaan lebih lanjut bisa banget dikirimkan ke email saya: cittairlanie@gmail.com

Kalo mau minta masukan terkait artikel yang dibuat, bisa langsung lampirkan artikelnya sekalian yaa via email 🙂

Terima kasih sudah membaca artikel ini dan semoga bermanfaat!

Sharing is caring!

2 thoughts on “5 Tips Menulis Ringan, Berisi, dan Berkelas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *