Review #3 – Kontroversi Islam Awal karya Mun’im Sirry

Sharing is caring!

WARNING WARNING WARNING!!!!!!

Mengandung zat-zat yang mungkin menggoyahkan iman. Reviewer dan penulis buku tidak bertanggungjawab apabila Anda murtad 🙂

Buku yang berjudul Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis ini secara sederhana dapat dipandang sebagai sebuah karya akademis yang secara khusus mendiskusikan sejarah kelahiran Islam dan kondisinya di masa awal berkembang.

Saya memandang buku ini pantas diperlakukan sebagai rujukan dasar untuk melihat sejarah Islam awal secara akademis dan saya tidak segan untuk merekomendasikannya kepada siapa saja yang tertarik mengenal (ulang) sejarah Islam.

Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis

Tentu saja banyak dari kita yang sudah akrab dengan sejarah Islam. Cerita paling umum (setidaknya di Indonesia) tentang kemunculan Islam kira-kira bunyinya seperti ini:

Nabi lahir di Mekkah pada ‘tahun gajah’ bertepatan dengan 570 masehi. Menerima wahyu pada usia 40 tahun. Berdakwah selama 13 tahun di Mekkah (jaman pagan). Karena penolakan, pindah ke Madinah (sebelumnya disebut yatsrib). Setelah sukses di Madinah, baru kembali lagi ke Mekkah. Beberapa tahun setelah nabi wafat, tepatnya 632 masehi, Quran dikodifikasi dan ekspansi militer mulai dilancarkan Khulafa’ Rasyidun. Meskipun terdapat pergolakan, kemunculan sekte dan aliran baru, ajaran Islam yang dibawa Muhammad tidak pernah berubah hingga hari ini.

Di kalangan akademisi Islam, kitab-kitab sirah dan sejarah Islam yang ditulis ulama terdahulu seperti Ibnu Ishaq (wafat 767 M) atau Tabari (wafat 923 M) menjadi rujukan utama dan satu-satunya untuk mengetahui sejarah Islam awal. Keyakinan ini juga diadopsi oleh banyak sarjana barat salah satunya Ernest Renan (1851). Renan mengatakan bahwa Islam lahir di bawah cahaya sejarah yang terang benderang (1851:1065). Maksudnya, sejarah kemunculan Islam demikian jelas dan lugas diketahui orang banyak, tidak ada kekaburan.

Fred Donner membagi pendekatan kesarjanaan Islam modern terhadap sumber tradisional ke dalam 4 (empat) aliran, yakni (1) Deskriptif (sepenuhnya menerima); (2) Kritik Sumber (mengkritisi dengan perbandingan sumber atau tringulation of sources); (3) Kritik Tradisi (mengkritisi dengan menelusuri konteks, bagaimana pesan ditransmisikan dari generasi ke generasi), dan (4) Skeptis (tidak menerima sama sekali). Pandangan umum yang dijelaskan di atas tergolong pada aliran pertama (deskriptif) yang di dalam buku ini disebut sebagai mazhab tradisionalis. Sementara yang kritis masuk dalam mazhab revisionis.

Secara sederhana, mazhab tradisionalis dan revisionis dapat dipahami sebagai tesis dan falsifikasi. Pemikir tradisionalis menerima sumber-sumber sirah umum sebagai sebuah rujukan otentik dan mengelaborasi berbagai penjelasan dengan merujuk pada sumber tersebut. Sementara pemikir revisionis adalah mereka yang mengkritik kepasrahan itu, “apakah benar sumber tersebut dapat diterima sebagai sumber yang reliable? Darimana kita tahu bahwa sumber tersebut valid?” begitu kira-kira pertanyaan besarnya.

Untuk memahami mengapa pertanyaan besar tersebut menjadi relevan, kita bisa mengambil contoh dari penulis kitab sirah tertua, Ibnu Ishaq. Di dalam proses menulis kitab sirah, Ibnu Ishaq menyeleksi data-data lisan dari umat secara subjektif. Tidak ada metode pengujian validitas yang jelas. Satu-satunya yang berotoritas atas data adalah ia sendiri sebagai penulis. Sehingga menjadi sangat wajar apabila sumber ini kemudian dipertanyakan.

Buku ini menyuguhkan dua permasalahan utama dari sumber-sumber yang diterima secara taken for granted oleh pemikir tradisionalis. Pertama, sumber tersebut ditulis jauh setelah peristiwa dinyatakan terjadi (lebih dari 1 abad). Kedua, ditemukan banyak kontradiksi dalam menjelaskan satu peristiwa. Saya akan mengutip salah satu contoh yang disajikan penulis.

Ilustrasi – Tanah Arab

Tabari meriwayatkan bahwa Umar ibn Khattab bertanya pada mantan Jendral Persia, Hurmuzan, tentang kota mana yang seharusnya menjadi target penaklukan: Apakah Fars, Azarbaijan, atau Isfahan? Hurmuzan menyarankan Isfahan, karena posisinya sentral. Sementara sejarawan yang lebih awal, Baladuri, mengatakan yang diserang dalam perang tersebut adalah Nihawand (Hamadan), bukan Isfahan.

Ada sejumlah contoh lainnya yang dapat Anda baca di dalam buku ini. Argumen yang biasa dipakai penganut tradisionalis untuk memutus perkara kontradiksi ini adalah keberadaan sanad. Akan tetapi, apabila ditelaah lebih jauh, pembelaan terhadap sanad hanya akan berujung pada circular reasoning (logika yang berputar-putar):

Kitab sirah ini benar karena ditulis lebih dahulu – Kita tahu ia ditulis lebih dahulu karena ada sanad – Sanad ini benar karena kitab Sirah menuliskan demikian

Kedua permasalahan ini yang menjadi dasar bagi pemikir revisionis untuk membangun kritik mereka. Kekritisan semacam ini tidak hanya berkembang dalam studi Islam. Pada tahun 1985 (dalam “The Jesus Seminar”), 150 sejarawan berkumpul untuk menelaah dan mendiskusikan otentisitas pernyataan Yesus dalam injil. Hasilnya mencengangkan: 82% diantaranya dinyatakan tidak berasal dari Yesus.

Penulis juga memberikan rujukan berbagai buku yang mendiskusikan ini, antara lain The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus (1993), Life of Jesus (1834), The Historian and the Believer: The Morality of Historical Knowledge and Christian Belief (1966), The Elusive Messiah: A Philosophical Overview of the Quest for the Historical Jesus (1999).

Membaca dan Memikirkan Ulang Sejarah Islam

Buku ini menguliti secara tajam dan dalam berbagai aspek kesejarahan Islam dengan perbandingan mazhab tradisionalis dan revisionis. Saya sendiri membuat 4 (empat) kategori konten yang dibahas dalam kerangka perbandingan tersebut: (1) Narasi Sejarah, (2) Kronologi, (3) Kanonisasi, dan (4) Struktur Kebahasaan.

Pertama. Narasi sejarah mempersoalkan versi cerita yang ada terkait judul besar sejarah yang sama. Misalnya saja, mengenai kemunculan Islam itu sendiri.

Penulis menyajikan secara komperhensif beragam teori yang menjelaskan mengenai kemunculan Islam.

Penjelasan Tradisional:

Islam lahir di tengah masyarakat musyrik di bagian Barat Arabia (Hijaz). Situasinya digambarkan sebagai jaman jahiliyah yang berarti “kebodohan”. Namun, ada sebagian kaum Muslim, seperti Sayid Qutub, menggunakan jahiliyah sebagai istilah yang berarti “tidak islami”. Sumber-sumber Muslim umumnya menyebutkan bahwa Muhammad diutus pada orang-orang penyembah berhala (watsaniyun) yang tidak bermoral (suka perang, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan seterusnya).

Doktrin ini berguna untuk menepis tudingan Islam terpengaruh ajaran monoteis lain, seperti Yahudi dan Kristen. Ia digambarkan lahir di daerah terasing yang jauh dari peradaban (Bizantium dan Sasanian Persia). Ketika terdapat komunitas monoteis, mereka digambarkan menyelewengkan wahyu Allah dan Muhammad datang untuk mengembalikannya ke keadaan yang lurus sebagaimana disampaikan oleh Ibrahim.

Kakek Muhammad digambarkan sebagai keturunan Ibrahim dari silsilah Ismail. Ibrahim dan Ismail digambarkan sebagai sosok yang membangun Ka’bah untuk menegaskan bahwa Islam bukanlah suatu ajaran baru, melainkan sudah ada sejak Ibrahim dan kedatangan Muhammad adalah semata-mata untuk mengembalikan Islam sebagaimana mestinya.

Di Madinah, Muhammad digambarkan membuat perjanjian (Piagam Madinah) agar dapat hidup berdampingan secara damai dengan komunitas lain (umat Kristen, suku-suku Yahudi, suku Aws, dan suku Khazraj, hlm.83).

Dari pembangunan narasi kemunculan Islam versi tradisional ini, dapat terlihat tiga motif: (1) Islam muncul di tengah masyarakat Arab primitif yang terisolasi dari pengaruh luar, (2) Islam terpisah sama sekali dari ‘agama tauhid’ lain (Yahudi dan Kristen), dan (3) Islam adalah wujud finalitas dan penyempurnaan (hlm. 86-7).

Ilustrasi – Madinah

Penjelasan revisionis radikal (Patricia Crone dan Michael Cook):

Pemikir teori ini mendekati sejarah Islam lewat seutuhnya sumber-sumber di luar tradisi Islam dan menemukan kesimpulan baru.

Islam berawal dari gerakan Yahudi mesianis, bukan di Mekkah, melainkan di sebuah daerah di sebelah utara Hijaz. Mereka menganut iman monoteistik yang terdiri atas orang-orang Yahudi di Palestina dan Arab. Dalam literatur berbahasa Suryani yang ditulis orang-orang Kristen Suriah, ajaran yang dibawa Muhammad disebut sebagai Hajarisme (keturunan Hajar, ibunda Ismail) dengan tujuan menguasai Yerusalem dan merestorasi Haikal Sulaiman.

Hajarisme ini kemudian melakukan hijrah dari Arab ke Palestina dan berkembang di sana. Termasuk melewati fase kompleks pembuatan agama baru yang kemudian dikenal sebagai Islam.

Ini kesimpulan yang bisa kita dapatkan apabila kita mendekati sejarah Islam lewat seutuhnya sumber-sumber di luar Islam.

Penjelasan revisionis lainnya (Moshe Sharon):

Islam adalah hasil pecahan konflik internal umat beriman awal. Islam awal di sini adalah mereka yang berkonflik sepeninggal Muhammad. Jadi, Islam yang kita kenal hari ini sudah melalui sebuah kompetisi internal berkepanjangan.

Sehingga, adalah sebuah pengabaian luar biasa apabila kita sebut Islam lahir JRENGGG secara tiba-tiba langsung jadi seperti sekarang ini! Melainkan melalui proses evolusi puluhan tahun sepeninggal Muhammad. Perang dan penaklukan wilayah punya andil besar dalam perebutan narasi Islam itu sendiri.

Penjelasan revisionis berikutnya (Fred Donner):

Islam awalnya adalah komunitas kaum beriman. Terdapat pergeseran yang penting untuk ditelaah dari