Review #3 – Kontroversi Islam Awal karya Mun’im Sirry

Sharing is caring!

WARNING WARNING WARNING!!!!!!

Mengandung zat-zat yang mungkin menggoyahkan iman. Reviewer dan penulis buku tidak bertanggungjawab apabila Anda murtad 🙂

Buku yang berjudul Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis ini secara sederhana dapat dipandang sebagai sebuah karya akademis yang secara khusus mendiskusikan sejarah kelahiran Islam dan kondisinya di masa awal berkembang.

Saya memandang buku ini pantas diperlakukan sebagai rujukan dasar untuk melihat sejarah Islam awal secara akademis dan saya tidak segan untuk merekomendasikannya kepada siapa saja yang tertarik mengenal (ulang) sejarah Islam.

Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis

Tentu saja banyak dari kita yang sudah akrab dengan sejarah Islam. Cerita paling umum (setidaknya di Indonesia) tentang kemunculan Islam kira-kira bunyinya seperti ini:

Nabi lahir di Mekkah pada ‘tahun gajah’ bertepatan dengan 570 masehi. Menerima wahyu pada usia 40 tahun. Berdakwah selama 13 tahun di Mekkah (jaman pagan). Karena penolakan, pindah ke Madinah (sebelumnya disebut yatsrib). Setelah sukses di Madinah, baru kembali lagi ke Mekkah. Beberapa tahun setelah nabi wafat, tepatnya 632 masehi, Quran dikodifikasi dan ekspansi militer mulai dilancarkan Khulafa’ Rasyidun. Meskipun terdapat pergolakan, kemunculan sekte dan aliran baru, ajaran Islam yang dibawa Muhammad tidak pernah berubah hingga hari ini.

Di kalangan akademisi Islam, kitab-kitab sirah dan sejarah Islam yang ditulis ulama terdahulu seperti Ibnu Ishaq (wafat 767 M) atau Tabari (wafat 923 M) menjadi rujukan utama dan satu-satunya untuk mengetahui sejarah Islam awal. Keyakinan ini juga diadopsi oleh banyak sarjana barat salah satunya Ernest Renan (1851). Renan mengatakan bahwa Islam lahir di bawah cahaya sejarah yang terang benderang (1851:1065). Maksudnya, sejarah kemunculan Islam demikian jelas dan lugas diketahui orang banyak, tidak ada kekaburan.

Fred Donner membagi pendekatan kesarjanaan Islam modern terhadap sumber tradisional ke dalam 4 (empat) aliran, yakni (1) Deskriptif (sepenuhnya menerima); (2) Kritik Sumber (mengkritisi dengan perbandingan sumber atau tringulation of sources); (3) Kritik Tradisi (mengkritisi dengan menelusuri konteks, bagaimana pesan ditransmisikan dari generasi ke generasi), dan (4) Skeptis (tidak menerima sama sekali). Pandangan umum yang dijelaskan di atas tergolong pada aliran pertama (deskriptif) yang di dalam buku ini disebut sebagai mazhab tradisionalis. Sementara yang kritis masuk dalam mazhab revisionis.

Secara sederhana, mazhab tradisionalis dan revisionis dapat dipahami sebagai tesis dan falsifikasi. Pemikir tradisionalis menerima sumber-sumber sirah umum sebagai sebuah rujukan otentik dan mengelaborasi berbagai penjelasan dengan merujuk pada sumber tersebut. Sementara pemikir revisionis adalah mereka yang mengkritik kepasrahan itu, “apakah benar sumber tersebut dapat diterima sebagai sumber yang reliable? Darimana kita tahu bahwa sumber tersebut valid?” begitu kira-kira pertanyaan besarnya.

Untuk memahami mengapa pertanyaan besar tersebut menjadi relevan, kita bisa mengambil contoh dari penulis kitab sirah tertua, Ibnu Ishaq. Di dalam proses menulis kitab sirah, Ibnu Ishaq menyeleksi data-data lisan dari umat secara subjektif. Tidak ada metode pengujian validitas yang jelas. Satu-satunya yang berotoritas atas data adalah ia sendiri sebagai penulis. Sehingga menjadi sangat wajar apabila sumber ini kemudian dipertanyakan.

Buku ini menyuguhkan dua permasalahan utama dari sumber-sumber yang diterima secara taken for granted oleh pemikir tradisionalis. Pertama, sumber tersebut ditulis jauh setelah peristiwa dinyatakan terjadi (lebih dari 1 abad). Kedua, ditemukan banyak kontradiksi dalam menjelaskan satu peristiwa. Saya akan mengutip salah satu contoh yang disajikan penulis.

Ilustrasi – Tanah Arab

Tabari meriwayatkan bahwa Umar ibn Khattab bertanya pada mantan Jendral Persia, Hurmuzan, tentang kota mana yang seharusnya menjadi target penaklukan: Apakah Fars, Azarbaijan, atau Isfahan? Hurmuzan menyarankan Isfahan, karena posisinya sentral. Sementara sejarawan yang lebih awal, Baladuri, mengatakan yang diserang dalam perang tersebut adalah Nihawand (Hamadan), bukan Isfahan.

Ada sejumlah contoh lainnya yang dapat Anda baca di dalam buku ini. Argumen yang biasa dipakai penganut tradisionalis untuk memutus perkara kontradiksi ini adalah keberadaan sanad. Akan tetapi, apabila ditelaah lebih jauh, pembelaan terhadap sanad hanya akan berujung pada circular reasoning (logika yang berputar-putar):

Kitab sirah ini benar karena ditulis lebih dahulu – Kita tahu ia ditulis lebih dahulu karena ada sanad – Sanad ini benar karena kitab Sirah menuliskan demikian

Kedua permasalahan ini yang menjadi dasar bagi pemikir revisionis untuk membangun kritik mereka. Kekritisan semacam ini tidak hanya berkembang dalam studi Islam. Pada tahun 1985 (dalam “The Jesus Seminar”), 150 sejarawan berkumpul untuk menelaah dan mendiskusikan otentisitas pernyataan Yesus dalam injil. Hasilnya mencengangkan: 82% diantaranya dinyatakan tidak berasal dari Yesus.

Penulis juga memberikan rujukan berbagai buku yang mendiskusikan ini, antara lain The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus (1993), Life of Jesus (1834), The Historian and the Believer: The Morality of Historical Knowledge and Christian Belief (1966), The Elusive Messiah: A Philosophical Overview of the Quest for the Historical Jesus (1999).

Membaca dan Memikirkan Ulang Sejarah Islam

Buku ini menguliti secara tajam dan dalam berbagai aspek kesejarahan Islam dengan perbandingan mazhab tradisionalis dan revisionis. Saya sendiri membuat 4 (empat) kategori konten yang dibahas dalam kerangka perbandingan tersebut: (1) Narasi Sejarah, (2) Kronologi, (3) Kanonisasi, dan (4) Struktur Kebahasaan.

Pertama. Narasi sejarah mempersoalkan versi cerita yang ada terkait judul besar sejarah yang sama. Misalnya saja, mengenai kemunculan Islam itu sendiri.

Penulis menyajikan secara komperhensif beragam teori yang menjelaskan mengenai kemunculan Islam.

Penjelasan Tradisional:

Islam lahir di tengah masyarakat musyrik di bagian Barat Arabia (Hijaz). Situasinya digambarkan sebagai jaman jahiliyah yang berarti “kebodohan”. Namun, ada sebagian kaum Muslim, seperti Sayid Qutub, menggunakan jahiliyah sebagai istilah yang berarti “tidak islami”. Sumber-sumber Muslim umumnya menyebutkan bahwa Muhammad diutus pada orang-orang penyembah berhala (watsaniyun) yang tidak bermoral (suka perang, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan seterusnya).

Doktrin ini berguna untuk menepis tudingan Islam terpengaruh ajaran monoteis lain, seperti Yahudi dan Kristen. Ia digambarkan lahir di daerah terasing yang jauh dari peradaban (Bizantium dan Sasanian Persia). Ketika terdapat komunitas monoteis, mereka digambarkan menyelewengkan wahyu Allah dan Muhammad datang untuk mengembalikannya ke keadaan yang lurus sebagaimana disampaikan oleh Ibrahim.

Kakek Muhammad digambarkan sebagai keturunan Ibrahim dari silsilah Ismail. Ibrahim dan Ismail digambarkan sebagai sosok yang membangun Ka’bah untuk menegaskan bahwa Islam bukanlah suatu ajaran baru, melainkan sudah ada sejak Ibrahim dan kedatangan Muhammad adalah semata-mata untuk mengembalikan Islam sebagaimana mestinya.

Di Madinah, Muhammad digambarkan membuat perjanjian (Piagam Madinah) agar dapat hidup berdampingan secara damai dengan komunitas lain (umat Kristen, suku-suku Yahudi, suku Aws, dan suku Khazraj, hlm.83).

Dari pembangunan narasi kemunculan Islam versi tradisional ini, dapat terlihat tiga motif: (1) Islam muncul di tengah masyarakat Arab primitif yang terisolasi dari pengaruh luar, (2) Islam terpisah sama sekali dari ‘agama tauhid’ lain (Yahudi dan Kristen), dan (3) Islam adalah wujud finalitas dan penyempurnaan (hlm. 86-7).

Ilustrasi – Madinah

Penjelasan revisionis radikal (Patricia Crone dan Michael Cook):

Pemikir teori ini mendekati sejarah Islam lewat seutuhnya sumber-sumber di luar tradisi Islam dan menemukan kesimpulan baru.

Islam berawal dari gerakan Yahudi mesianis, bukan di Mekkah, melainkan di sebuah daerah di sebelah utara Hijaz. Mereka menganut iman monoteistik yang terdiri atas orang-orang Yahudi di Palestina dan Arab. Dalam literatur berbahasa Suryani yang ditulis orang-orang Kristen Suriah, ajaran yang dibawa Muhammad disebut sebagai Hajarisme (keturunan Hajar, ibunda Ismail) dengan tujuan menguasai Yerusalem dan merestorasi Haikal Sulaiman.

Hajarisme ini kemudian melakukan hijrah dari Arab ke Palestina dan berkembang di sana. Termasuk melewati fase kompleks pembuatan agama baru yang kemudian dikenal sebagai Islam.

Ini kesimpulan yang bisa kita dapatkan apabila kita mendekati sejarah Islam lewat seutuhnya sumber-sumber di luar Islam.

Penjelasan revisionis lainnya (Moshe Sharon):

Islam adalah hasil pecahan konflik internal umat beriman awal. Islam awal di sini adalah mereka yang berkonflik sepeninggal Muhammad. Jadi, Islam yang kita kenal hari ini sudah melalui sebuah kompetisi internal berkepanjangan.

Sehingga, adalah sebuah pengabaian luar biasa apabila kita sebut Islam lahir JRENGGG secara tiba-tiba langsung jadi seperti sekarang ini! Melainkan melalui proses evolusi puluhan tahun sepeninggal Muhammad. Perang dan penaklukan wilayah punya andil besar dalam perebutan narasi Islam itu sendiri.

Penjelasan revisionis berikutnya (Fred Donner):

Islam awalnya adalah komunitas kaum beriman. Terdapat pergeseran yang penting untuk ditelaah dari mukmin menjadi Muslim. Kata Muslim hanya muncul sebanyak 75 kali dalam Quran, sementara mukmin muncul hingga hampir 1000 kali. Hal ini menunjukkan tingkat konsentrasi Quran yang lebih tinggi dalam mengumpulkan orang-orang beriman ketimbang orang-orang Islam.

Mukmin diartikan sebagai orang yang mengimani Allah yang tunggal dan Hari Akhir (pengadilan terakhir bagi umat manusia), serta menekankan pentingnya amal salih (hlm. 121). Bahkan di piagam Madinah disebutkan bahwa Yahudi dari Banu Awf merupakan ummatan wahidah (satu golongan) dengan kaum mukmin (hlm. 122).

Di buku ini, masih terdapat sangat banyak contoh keragaman cara mendekati sejarah Islam yang dapat mengantar kita pada kesimpulan yang sama sekali berbeda. Kompleksitas rekonstruksi sejarah Islam yang tergambar di atas menunjukkan bahwa masalah ini sangat mungkin dibahas secara lebih kritis dan serius.

Kedua. Kronologi… bagaimana menjelaskan pergeseran ajaran Islam dari ayat Mekkah ke Madinah, ayat Puitik vs Prosaik. Lagi-lagi, satu-satunya pegangan kita adalah Asbab al-Nuzul (asal-usul peristiwa).

Yang mana di buku ini sudah habis diluluhlantakkan dengan berbagai falsifikasi. Seperti sanad, Asbab al-Nuzul juga berhadapan dengan masalah circular reasoning. Bagaimana kita tahu bahwa periwayatan tersebut valid? Sementara sumber yang dipakai untuk membelanya adalah sumber dari dalam komunitas itu sendiri, dari kitab-kitab komunitas Muslim itu sendiri.

Salah seorang pemikir revisionis, Andrew Rippin, bahkan berani mencetuskan sebuah ide yang cukup ekstrem. Ia berpendapat bahwa Asbab al-Nuzul sengaja dibuat karena merupakan sebuah common will untuk memberikan konteks sejarah sehingga terbukti bahwa Tuhan menurunkan kitab suci itu untuk manusia di bumi. Rippin juga mengatakan bahwa para Mufasir menyusun Asbab al-Nuzul sebagai sebuah produk dari elaborasi eksegesis (penafsiran) terhadap ayat Quran.

Dari pandangan Rippin ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa jika kronologi Quran yang menjadi pedoman umat dalam membaca ayat-ayat kontradiktif tidak mendapat pembelaan objektif yang lebih reliable, maka yang tersisa adalah pembelaan iman. Bahwa umat dapat mengarang apa saja demi membela imannya kepada sebuah agama dengan kitab sucinya. Saya rasa it’s fair to say bahwa refleksi ini berlaku untuk semua agama, bukan hanya Islam.

Ketiga. Kanonisasi, yakni proses penyusunan mushaf Quran.

Pandangan umum percaya Quran sudah ditulis sejak jaman Nabi (hidup dan berdakwah) namun baru dikumpulkan dalam satu mushaf beberapa tahun setelah wafatnya. Pendapat dominan percaya pengumpulan ini sudah rampung pada masa kekhalifahan Abu Bakar (Khalifah pertama). Agar Quran tidak terlupakan, dikarenakan banyaknya penghafal Quran yang tewas di medan perang, Umar ibn Khattab mengusulkan agar kumpulan isi Quran dibukukan.

Pada kenyataannya, prosesnya tidak semudah itu karena ketika dilakukan pengumpulan, banyak kelompok Muslim membaca Quran dengan bacaan yang berbeda-beda dan menimbulkan konflik. Usman ibn Affan (Khalifah ketiga) akhirnya membentuk komisi untuk menyatukan bacaan Quran (memilah yang dianggap benar dan memusnahkan yang salah). Proses panjang kanonisasi ini tentu saja menjadi ancaman besar terhadap validitasnya.

Untuk menguji mana yang benar, salah satu indikator yang diberlakukan adalah dengan menyertakan dua saksi. Lagi-lagi masalah circular reasoning yang muncul. Dua saksi itu darimana? Dari komunitas si penghafal itu sendiri kan? Lantas, bagaimana kita tahu bahwa mereka mengucapkan kebenaran? Ibaratnya kita menguji ketepatan nada sebuah alat musik lewat alat musik itu sendiri. Padahal kita butuh alat di luar dia untuk memastikan bahwa bunyi yang dihasilkan tepat, makanya ada garpu tala penunjuk nada A major.

Riwayat-riwayat yang muncul terkait penyusunan mushaf Quran ini pun saling berkontradiksi satu sama lain, bahkan untuk urusan paling mendasar, yakni saksi. Ada yang mengatakan bahwa dua saksi itu berarti dua orang, ada pula yang mengatakan bahwa dua saksi itu artinya “tulisan” dan “hafalan”. Penulis Quran pun tidak luput dari ragam versi cerita, ada yang mengatakan bahwa Zaid ibn Tsabit penulisnya, ada pula yang mengatakan Abu Bakar sendiri yang menuliskan sedangkan Zaid hanya mencermati hasilnya (menyunting).

Sumber-sumber tradisional seperti al-Itqan (Suyuti) dan al-Masahif (Sijistani) menyebutkan bahwa mushaf Usman tidak lengkap dan hal ini didukung oleh banyaknya pengikut yang protes karena ada surat yang lebih pendek dari apa yang biasa mereka dengar dari Nabi ataupun ayat yang biasa Nabi bacakan namun tidak ada.

Perlu diketahui, bahwa versi mushaf Quran yang kita baca hari ini adalah terbitan Kairo 1924 dan kebijakan penerbitan Kairo ini awalnya ditujukan untuk penyeragaman Quran di Mesir, karena di sekolah-sekolah ditemukan beragam versi Quran. Versi lainnya dihancurkan dan dibuang ke Sungai Nil. Ini persis dengan apa yang dilakukan Usman, yakni menghancurkan kodeks-kodeks Quran versi lain.

Ilustrasi – Quran dengan penulisan scriptio defectiva

Keempat. Struktur kebahasaan Quran yang mengalami transformasi dari scriptio defectiva menjadi scriptio plena serta penambahan huruf alif di sejumlah besar tempat.

Scriptio defectiva merujuk versi Quran dengan penulisan “Arab gundul” atau tanpa diakritik (titik atas dan bawah pada huruf Arab), sedangkan scriptio plena merujuk versi Quran yang sudah dibubuhi diakritik. Dampak dari ada tidaknya diakritik ini adalah keterbukaan ruang penafsiran. Dengan dibubuhi diakritik, pemaknaan terhadap sebuah kalimat menjadi lebih rigid dan pasti, tidak lentur seperti ketika tidak dibubuhi diakritik.

Begitu juga dengan penambahan alif di banyak tempat. Versi Quran yang lebih tua tidak punya alif di beberapa tempat tersebut. Hasilnya adalah pergeseran makna. Di dalam buku ini, dijabarkan banyak contoh perubahan ruang tafsir terkait pembubuhan diakritik dan pergeseran makna terkait penambahan alif. Sampai di sini, Anda bisa melihat betapa kompleksnya permasalahan inheren dari sejarah Islam itu sendiri.

Banyak orang berpikir mempertanyakan sejarah agama akan membuat iman kita goyah, sehingga sebaiknya kita menghindarinya. Pemikiran seperti ini ada pada agama apapun. Hal ini membuat pemikir revisionis kerap kali menaruh curiga yang lebih besar pada kesimpulan penelitian dari insider (umat di dalam agama yang diteliti). Fred Donner bahkan beranggapan bahwa telaah objektif terhadap aspek kesejarahan Islam tidak akan bisa dilakukan oleh seorang Muslim.

Membaca buku ini, yang nyatanya ditulis oleh seorang Muslim, Prof. Mun’im Sirry, membuat saya tidak sepakat dengan Donner. Prof. Mun’im menunjukkan integritas akademisi yang luar biasa dalam menyusun buku ini. Seperti yang sudah saya tuangkan di dalam review ini, Anda bisa melihat sendiri bagaimana elaborasi dan perbandingan antar sumber yang begitu kaya dijelaskan dengan lugas dan tidak tebang-pilih oleh beliau.

Prof. Mun’im menuliskan sebuah kutipan menarik di bukunya: Kebenaran yang didasarkan fakta sejarah akan membuahkan keimanan yang mantap.

Sebagai seorang Muslim, beliau justru melakukan penelitian secara serius dalam rangka memantapkan imannya. Buku ini mendorong kita untuk mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita terima dari para ulama, pendeta, tokoh agama, buku ajar agama di sekolah, orang tua, dan masyarakat umum tentang agama yang kita imani. Setelah membaca buku ini, saya semakin mantap berikhtiar untuk tidak pernah menerima cerita sejarah secara taken for granted.

QUIZ

3 BUKU UNTUK 3 PEMENANG MENANTIMUUUUU!

Dari semua kritik revisionis yang saya jabarkan secara singkat di dalam review ini, tentu saja Anda bisa membayangkan bahwa munculnya anggapan sejarah Muhammad itu fiktif adalah sesuatu yang wajar. Menurut Anda, [a] berapa peluang sejarah Islam yang dipercaya secara umum itu fiktif?

Salah seorang pemikir revisionis, Fred Donner, masih sangat skeptis dengan anggapan Patricia Crone, pemikir revisionis lainnya, yang menyatakan bahwa semua cerita tentang Muhammad yang diterima secara umum oleh umat Muslim di seluruh dunia adalah fiktif belaka.

Begini bunyi pertanyaan Donner terhadap anggapan tersebut, “ada kesepakatan diantara penulis Sirah di era dan asal tempat yang berbeda-beda, setidaknya dalam beberapa hal, jika tidak semua. Bagaimana mungkin orang berbeda-beda menciptakan fiksi dengan banyak kesamaan? Lebih jauh lagi, kalau itu hanya fiksi, atas kepentingan siapa atau apa fiksi itu dibuat?”

Untuk pertanyaan atas kepentingan apa, rasanya terlalu mudah dijawab. Tapi, coba pertimbangkan pertanyaan yang pertama, [b] bagaimana bisa ada kesepakatan dalam banyak hal jika memang itu fiksi?

Dalam kuis ini, Anda diminta menjawab pertanyaan [a] dan [b].

Cara mengikuti kuis:

  1. Subscribe email aktif Anda di blog ini
  2. Follow Instagram @Cittairlanie
  3. Tulis jawaban atas pertanyaan di kolom komentar. Sertakan nama, latar pendidikan/profesi, kota asal, username Instagram, & email aktifnya
  4. Periode kuis: 09-09-2017 s.d 20-09-2017 (23.59 WIB)
  5. Good luck 🙂

Sharing is caring!

24 thoughts on “Review #3 – Kontroversi Islam Awal karya Mun’im Sirry”

  1. Menarik pernyataan pada kalimat pembukanya yang “mengandung hal-hal yang mungkin saja menggoyahkan iman pembaca sehingga penulis dan reviewer tidak akan bertanggungjawab jika yang bersangkutan akan keluar dari keyakinannya yang sekarang”. Dari pernyataan tadi dapat direfleksikan bahwa buku Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis yang ditulis oleh Prof. Mun’im Sirry ini kemungkinan besar akan menarasikan sebuah narasi alternatif yang berbeda atau mungkin akan jauh berbeda dari narasi tunggal yang biasa kita dengar, sehingga dapat menimbulkan pergolakan pemikiran dalam setiap diri pembacanya setelah melihat data dan fakta sejarah yang penulis sajikan terhadap keimanan pembaca. Kalimat pemmbuka yang bagus.

    Memang dalam konteks masyarakat di Indonesia, mayoritas masih memandang sejarah dari sisi tradisionalis dengan rujukan-rujukannya adalah sebuah kemutlakan, sempurna, dan mengkritisinya dianggap sebagai pelecehan. Secara ideal, sebuah kebenaran jika memang itu sebuah kebenaran, maka tidak akan takut, selalu kokoh, serta andal terhadap pertanyaan-pertanyaan kritis dan detail terhadapnya. Sangat bersyukur jika banyak orang yang mulai mencoba memberikan pencerahan terhadap keimanan buta yang diterima melalui orang tua, guru, kyai, tokoh agama, buku sekolah, televisi, media sosial, dll dengan pendekatan fakta sejarah dan kritik terhadapnya seperti Prof. Mun’in Sirry dalam membedah serta menganalisa sejarah Islam.

    Karena ternyata udah jatuh masa berlaku kuis wkwkw, komentar terhadap review akan saya dekati dengan apa adanya karena saya tergolong sangat awam dalam hal keislaman maupun sejarahnya, namun tetap tidak menghilangkan kerasionalan dan kelogisan gagasan saya. Lagipula bukan hadiah yang memotivasi saya, melainkan rasa ingin mengomentari saja.

    Kisah awal mula Islam pada sumber-sumber muslim pasti didasarkan kepada Al-Qur’an, Hadits (perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi dengan diam dan mengiyakan sesuatu), dan biografi-biografi yang ditulis oleh muslim itu sendiri. Sejarah Islam dan Nabi yang ditulis oleh Ibnu Ishaq merupakan karya yang hampir seratus tahun lebih dari wafatnya Nabi Muhammad. Beliau hidup terlalu jauh dari zamannya Nabi Muhammad untuk bisa mendapatkan data yang sebenar-benarnya dan apa adanya. Sangat menarik bagi saya, karena membaca review ini menyadarkan saya bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad berasal dari sumber-sumber yang begitu terlambat. Benarkah sejarah Islam sebagaimana mestinya adalah seperti yang kita pahami saat ini? jika benar siapa yang mengatakannya? Lalu apakah pernyataan itu memang valid? Bagaimana cara pengklasifikasian dan pengumpulan datanya? Semua harus sesuai dengan prosedur berpikir yang benar. Bahkan saya pikir banyak kemungkinan lain seperti apakah saksi dalam proses pengambilan data benar-benar ada? jika memang ada, lalu bagaimana penulis sejarah dapat mengetahui bahwa saksi ini jujur atau berbohong? Bagaimana jika saksi ini hanya bersaksi palsu agar namanya tertulis dalam sejarah? Banyak sekali kemungkinan jika metode dalam penulisan sejarah tidak andal (dalam artian kokoh terhadap bermacam kritik dan sanggahan). Bagi saya sebagai seorang yang harus menilai secara objektif, maka hal tersebut jauh dari objektivitas, maka akan sangat wajar jika ada yang menyebut bahwa sejarah Islam yang kita ketahui sekarang cenderung berupa fiksi-fiksi tendensius dan menganggapnya tidak lebih dari sekedar terkaan belaka, hasilnya tidak lebih dari permainan tafsir dan hipotesa dimana tujuan penulisan bukalah untuk mengetahui hal-hal yang benar-benar terjadi, melainkan untuk membangun sebuah narasi yang ideal dari masa lalu berdasarkan apa yang seharusnya “penulis sejarah terkait” pikir terjadi.

    a) Dalam persentase bagi saya akan susah jika parameter dalam pengangkaannya tidak ada. Coba saya dekati dengan skala 1 sampai 5 dimana 1 tidak yakin, 2 kurang yakin, 3 yakin, 4 lumayan yakin, dan 5 sangat yakin bahwa sejarah Islam saat ini fiktif. Yang mana 1 merupakan representasi dari 0-20 persen, 2 merupakan representasi dari 21-40 persen, dan seterusnya. Maka peluang sejarah Islam yang dipercaya seperti mayoritas sekarang itu adalah kefiktifan bagi saya berada pada range 61-80 persen. Kenapa tidak saya katakan pada range 81-100 persen, karena pandangan saya masih terwarnai seperti apa yang Donner katakan, jadi masih ada kemungkinan benar.

    b) Banyaknya kesepakatan bagi saya adalah hal yang logis jika disebabkan oleh pengaruh penguasa dalam hal memperluas narasi tunggal melalui lembaga formal maupun non formal terkait sejarah Islam dan Nabi Muhammad, membentuk teks teks mutlak yang harus menjadi rujukan, lalu disebarkan lagi, disamping itu juga pemberangusan atau menghilangkan narasi yang bertentangan dengan narasi tunggal tadi, serta membentuk public figure seperti alim ulama dan pemimpin umat yang akan menjadi patokan umat akan kebenaran sehingga narasi awal yang awalnya dominan akan menjadi narasi tunggal yang diamini bersama.

    Muhammad Hafizhurrahman
    Teknik Sipil ITS
    Surabaya
    @muhammadhafizhurrahman
    mhafizhurrahman@gmail.com

  2. [a] Peluang sejarah Islam yang dipercaya secara umum itu fiktif mendekati nol, dalam arti peluang bahwa semua kisah yang ada sebenarnya murni karangan belaka itu nyaris tidak mungkin, mengingat adanya bukti ekspansi orang Arab, agama Islam dan al-Qur’an itu sendiri yang dapat dikonfirmasi oleh sumber-sumber luar (walau mereka tidak membuktikan adanya hubungan langsung dengan Nabi Muhammad. Namun demikian seperti naskah-naskah sejarah lain di zaman lalu, kisah-kisah yang tertulis belum tentu semuanya benar sesuai dengan kenyataannya, walau umumnya didasarkan pada tokoh-tokoh sejarah.

    Faktor utama adalah tidak adanya tradisi tulisan di mana hidup Nabi Muhammad dan para khalifah penggantinya. Al Qur’an sendiri tidak banyak memuat informasi sejarah yang dapat dipergunakan untuk merekonstruksi kejadian-kejadian yang terjadi saat itu. Semua tafsir membutuhkan analisa konteks yang berasal dari luar Al Qu’ran itu sendiri. Dan semua kisah diturunkan secara tradisi secara lisan, dan baru dituliskan dalam bentuk terstruktur sekitar seratus tahun kemudian, ketika hal ini tentunya dirasa perlu mengingat setelah beberapa generasi tentunya sudah banyak kisah yang beredar, yang saling bertentangan dan banyak yang diragukan kebenarannya. Oleh karena itu Ibn Ishaq misalnya merasa perlu melakukan penelitian sumber-sumber setiap kisahnya dengan isnad demi menyelamatkan kisah yang paling tepat. Namun di sini perlu dicatat bahwa Ibn Ishaq tidak bekerja dengan para saksi mata langsung, tapi setelah melalui banyak rantai orang pembawa informasi (yang tentunya cenderung untuk menyesuaikan cerita dengan kepercayaannya). Selain itu tentunya seleksi Ibn Ishaq memiliki faktor subjektivitasnya sendiri. Ketidaksempurnaan karya Ibn Ishaq ini juga dirasakan oleh para penulis selanjutnya, seperti Ibn Hisham yang menulis dalam pengantarnya bahwa dia mengabaikan beberapa hal yang ditulis oleh Ibn Ishaq, dan karya Ibn Hisham juga mengandung anotasi dan modifikasinya tersendiri.

    Kodifikasi hadits dilakukan beberapa generasi kemudian setelah itu, sekitar 200 tahun setelah kejadiannya, demikian pula kompilasi kitab sejarah yang dilakukan oleh al Tabari

    Faktor lain adalah bahwa kisah-kisah ini bukanlah kisah yang netral, tetapi yang terkait dengan ajaran agama tertentu. Dalam kisah sejarahnya sendiri kita dapat mengetahui bahwa segera terjadi perpecahan politik maupun aliran keagamaan yang memunculkan banyak kisah-kisah yang dibuat-buat atau didistorsi untuk mendukung posisi tertentu, yang membuat tugas seleksi hadits shahih dan tidak menjadi lebih sulit — dan tentunya subjektif pula dan menghasilkan banyak versi aliran berbeda-beda pula sampai saat ini.

    Kontestasi politik yang erat kaitannya dengan agama Islam juga ikut mempengaruhi kisah-kisah lisan mana yang bertahan, misalnya kisah-kisah yang terkait dengan Khalifah Ali seolah-olah berkompetisi dengan kisah-kisah khalifah Abu Bakr atau Umar demi memperkuat posisi dinasti masing-masing (Umayyah vs Abbasiyyah vs Fatimiyyah, dst.)

    Perlu ditambahkan pula bahwa sejarawan modern yang membaca kisah-kisah tersebut tentu secara otomatis mencoba menafsir kejadian-kejadian sesungguhnya, setidaknya dengan mengabaikan elemen-elemen supranatural yang terdapat di sana (dan umum terdapat juga dalam kisah-kisah kuno tokoh-tokoh besar seperti Julius Caesar).

    Akibatnya dapat disimpulkan bahwa distorsi-distorsi kisah pasti ada, namum pembuktiannya secara ilmiah tentu termasuk pekerjaan sulit mengingat minimnya data yang ada sekarang. Riset yang dilakukan oleh Dan Gibson yang mengusulkan bahwa kejadian awalnya berlokasi di Petra dan bukan di Mekkah (dengan mempelajari arah kiblat mesjid-mesjid tertua) tentunya perlu di dalami lebih lanjut. Pergantian lokasi ini tentu faktor penting, namun sebenarnya urusan lokasi bukan elemen penting dalam memaknai cerita yang ada.

    [b] Terjadi kesepakatan umum karena garis besar ceritanya mestinya benar. Namun di sisi lain tradisi lisan amat mudah terdistorsi tanpa ada bentuk tertulis. Banyak karya-karya tulisan awal yang dibuat di abad ke-8 pun sudah hilang naskahnya, termasih Sirah asli karya Ibn Ishaq yang harus direkonstruksi dari karya-karya lain. Dalam selang waktu sunyi yang cukup lama itu generasi yang mengetahui kebenarannya sudah terkubur, bahkan termasuk pula para khalifah Umayyah, dan karya-karya tulis yang kini dijadikan sumber sejarah sedikit banyak adalah versi yang menjadi kesepakatan umum di masa Abbasiyyah.

    Dalam lingkup sejarah bangsa-bangsa lain di dunia, kita bisa melihat bahwa memang mungkin potongan sejarah masa lalu dihapus dan digantikan sama sekali dengan kisah yang lain, kisah-kisah yang baru muncul kembali melalui penemuan-penemuan arkeologi di era modern ini.

    Budiman
    pekerja IT
    Bandung
    @tbudiman73
    tbudiman@gmail.com

  3. [a] berapa peluang sejarah Islam yang dipercaya secara umum itu fiktif?
    Menurut saya, dari metode penulisannya, besar kemungkinan tidak kurang dari 50% (setengahnya) dari sejarah tersebut adalah fiktif alias gubahan si pengarang menyesuaikan motivasi penulisannya pada masa ia ditulis. Atau setidaknya terjadi distorsi yang cukup berarti dari bentuk aslinya. Kita lihat salah satu sumber sejarah Islam yang diimani sekarang; hadis. Hadis baru mulai ditulis dan dibukukan nyaris 2 abad setelah Nabi wafat. Itu pun dengan metode ‘sanad’ secara lisan dengan mengandalkan ingatan. Sebagai contoh, Bukhari menyaring 600.000 riwayat menjadi 6-7 ribu yang kemudian disebut sebagai hadis sahih bagi kelompok sunni, hanya dalam 16 tahun untuk menetapkan kevalidan satu riwayat. Singkatnya, dia menyeleksi 100 riwayat setiap hari yang berasal dari beberapa generasi diatasnya. Apakah cara demikian valid untuk menyusun sebuah kitab kanon dan sejarah tanpa bukti-bukti tekstual, historis dan arkeologis lain yang mendukung. Saya pribadi agak skeptis untuk menerima sebuah cerita mengenai suatu kejadian yang ditulis beberapa abad setelah kejadian selesai tanpa bukti-bukti valid yang disebut di atas. Apalagi, seperti yang sudah disebut tulisan ini, kerangka utama penyusunan sejarah Islam itu sendiri adalah ‘circular reasoning’ yang pada akhirnya hanya keimanan yang bisa menerimanya.

    [b] bagaimana bisa ada kesepakatan dalam banyak hal jika memang itu fiksi?
    Sebab cerita yang sudah jadi kanon tersebut diadopsi oleh negara/penguasa dan dipaksakan diimani oleh masyarakat. Dan dalam sejarah peradaban Islam, dan banyak peradaban lainnya, sudah banyak insiden penghilangan orang atau narasi/wacana yang bertentangan dengan narasi/wacana yang diadosi penguasa. Tidak susah membuat cerita fiksi diyakini sebagai kebenaran. Tinggal diceritakan berulang-ulang, otak akan memercayainya. “Keep saying it, and eventually they will believe it,” kata Hitler.

    Willy Akhdes A
    Teknik Geologi Unpad
    Bandung
    @willyakhdes
    willyakhdes@gmail.com

  4. a. Menurut saya peluangnya kecil sejarah islam itu fiktif,
    Jika keaslian sejarah islam itu dipertanyakan karena validitas sumbernya dan cara penyusunannya yang dianggap subjektif berdasar penyusunnya, maka pertanyaannya apakah metode lain yang ada mampu memberi penjelasan yang lebih valid daripada penyusunan berdasar seperti metode sanad itu, yaitu cerita dari orang orang yang dianggap dipercaya dan yang menjelaskan penjelasan kurang lebih sama .
    Bukankah metode sanad itu mirip mirip dengan metode sains yang ketika melakukan penelitian itu di peer reviewed berbagai ilmuan, yaitu banyak ilmuan yang menyelidiki tentang hal yang sama, lalu hasil yang didapatkan oleh ilmuan-ilmuan tersebut ketika secara umum menunjukkan kesamaan itu dianggap kebenaran?
    Padahal tidak semua penelitian tersebut menunjukkan hal yang sama, kadang malah ada yang bertentangan, dan belum tentu yang bertentangan itu merupakan kesalahan. Tetapi karena hasil yang umum sudah mampu menjelaskan fenomena yang kita perlukan di alam jadi hasil yang bertentangan dengan hal umum kebanyakan diabaikan.

    Maka jika ukuran validitas kesukseksan dari sebuah penelitian ilmiah itu ketika model yang didapatkan mampu menjelaskan fenomena yang ada, apakah kesuksesan dari sebuah penelitian tentang sejarah tidak boleh dianggap sebagai penjelasan yang cukup mumpuni tentang kejadian yang pernah ada, cocok dengan sebagian besar berbagai bukti yang ada dan secara logis dapat diterima oleh sebagian besar kalangan itu sudah cukup? Tidakkah hal tersebut boleh dianggap valid atau tidak fiktif?

    b. karena saya anggap sejarah islam kemungkinan kecil fiktif jadi memang sebagian besar banyak kesamaan dalam penulisannya
    Saya heran kenapa anda mengajak diskusi tapi seolah jawaban a pasti di jawab dengan sejarah islam itu banyak yang fiktif. heran. kzl

    Cipta Widya Atmaja
    Pekerja swasta
    Ngawi
    @widyaatmaja93
    cipta.widya@gmail.com

  5. Saya sebenarnya kurang meyaqini bila Tuan Mun’im Sirry seorang muallaf. Islam jauh lebih menitikberatkan kepada timbulnya keyaqinan ketimbang melahirkan keraguan. Allah membenci keraguan dan menyintai orang2 yang yaqin. Apa saja, siapa saja dan bagaimanapun saja, bila hanya melahirkan keraguan kepada para pembacanya, berarti ia (Mun’m Sirry) tidak sepenuhnya berpihak kepada syariat Islam. Allah memberikan peringatan keras dalam hal ini karena selangkah lagi ia menuju murtad.
    Bila dalam penuturan sejarah Islam ada beberapa hal yang keliru, itu adalah wajar dan silakan mencari jawaban kekeliruan itu pada buku2 karangan pengarang2lainnya. Saya ingatkan Mun’im agar menjadikan Al Qur’an sebagai Hudaan, Kitab Petunjuk atau Pedoman. Allah itu Tuhan yang menciptakan alam semesta raya ini hanya dalam tempo 1/1000 detik !!! lewat pembuktian2 para Prof. Dr. Kafir di Barat. Tuhan yang sedemikian cepat tepat dan akurat dalam penciptaan, tidak mungkin melahirkan agama asalan dan usulan saja.
    Allah perintahkan pakai akal dalam kunyah cerna ayat2Nya (Yunus 100), bukan pakai otak sebagaimana kebanyakan para muslim tradisionalis. Allah juga memerintahkan agar pakai hujjah / alat bukti (Yusuf 108.) Karenanya jangan mengarang tanpa data otentik sejarah, itulah justru yang fiktiv! Dalam pandangan saya Tuan Mun’im belum sepenuhnya mau atau mampu memisahkan keilmiyahan dengan tradisi lama kejahiliyhannya. Ia perlu bukti2 konkrit lainnya yang di sebabkan informasi dari Al Qur’an. Misalnya tentang jasad atau mummy Pharaoh. Ir German yang memimpin expedisi itu, hampir2 saja putus asa dalam upaya pembuktian kata al qur’an itu. Ir Mesir yang menemaninya – bukan secara kebetulan lho! – bernama “Muhammad Abdel Rasool”. Dengan bimbingannya Mummy Meneptah ditemukan dalam peti mati yang acak2an tidak beraturan. Ir German tidak mempercayai penemuan ini. Ini berdasarkan pandangannya jika dibandingkan dengan mummy2 lainnya yang rapi, well prepared dan terlihat agung. Ir Mesir datang menjelaskan bahwa Firaun zaman Musa itu mati tenggelam di lautan sehingga ia tak sempat menyiapkan piramida untuk hari kematiannya. (Lihat Yunus 90, 91 dan 92).
    Belum lagi masalah perbintangan seperti, Copernicus, Galileo Galilei, dan Giordano Bruno, sebenarnya adalah murid2 dari Idhuddin Abdur Rahman Bin Ahmad, 2(dua) abad mendahului penemuan2 mereka. Sebuah ayat Al Qur’an yang mengilhami beliau yaitu Surah An Naml 88: ## DAN KAMU LIHAT GUNUNG-GUNUNG ITU, KAMU SANGKA DIA TETAP DI TEMPATNYA, PADAHAL IA BERJALAN SEBAGAI JALANNYA AWAN. (BEGITULAH) PERBUATAN ALLAH YANG MEMBUAT DENGAN KOKOH TIAP-TIAP SESUATU; SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.##
    Dengan ayat itu buyar dan bubarlah paham geocentris kepada Heliocentris. Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Pahamilah Al Qur’an terlebih dahulu. Al Qur’an memerintahkan untuk memikirkan kisah2 para Rasul yang disebutkan dalam Al Qur’an, bukan yang disebutkan dalam Bible atau Torah dan atau kitab2 yang lain.
    ## SESUNGGUHNYA PADA KISAH-KISAH MEREKA (para Rasul) ITU TERDAPAT PENGAJARAN BAGI ORANG-ORANG YANG MEMPUNYAI AKAL. AL QUR’AN ITU BUKANLAH CERITA YANG DIBUAT-BUAT, AKAN TETAPI MEMBENARKAN (KITAB-KITAB) YANG SEBELUMNYA DAN MENJELASKAN SEGALA SESUATU, DAN SEBAGAI PETUNJUK DAN RAHMAT BAGI KAUM YANG BERIMAN. (Yusuf 111.)##
    Ingat ! Baca sejarah otentik para Rasul dari Al Qur’an (jangan ambil dari kisah2 takhyul Israiliyat. Itulah “pengajaran” bagi Mu’im Sirry. Al Qur’an itu bukan cerita yang dibuat-buat (fiktiv). Al Qur’an itu “meluruskan” kebengkokan2 ceritera2 dalam Kitab2 Injil dan Taurat. Al Qur’an itu “menjelaskan segala sesuatu” (jadi, tidak ada suatu apapun yang tidak dijelaskan Al Qur’an.) Dan Al Qur’an itu adalah rahmat bagi orang2 yang beriman.
    Terakhir, pengarang muallaf yang terbaik dalam pandangan saya adalah Dr Maurice Bucaille, dalam bukunya BIBLE, QUR’AN DAN SAINS MODERN, yang dialih bahasakan oleh Prof Dr H.M. Rasyidi.-
    Kiranya Dr Mun’im Sirry berkenan membacanya dan memperhatikan muatan/isinya.
    Tertanda
    Alexander Idrus Zulkarnain
    https://www.facebook.com/alexander.i.zulkarnain

  6. a. Perkiraan saya sekitar 60%, terbesar karena awalnya lebih banyak transmissi tradisi lisan ditafsir, tafsir ditafsir, ditafsir lagi, dan begitu seterusnya dan tentunya tiap estafet turun mengotori dengan membawa serta konteks penafsir. Sekitar 20% wilayah abu-abu, karena turut melekat pada transmissi text kitab suci, tradisi ritual, juga kalangan terpelajar, tentunya faktor pengkultusannya turut menjaga wilayah ini. Dan 10%-nya relatif original dan tentunya lebih banyak tentang nilai-nilai universal.

    b. Seperti yang saya perkiraan pada point [a], terdapat 20% wilayah abu-abu yang terus menjadi bahan acuan dalam perkembangan penyebarannya bahkan turut mempengarui berbagai tradisi dan budaya tempat berkembangnya, dan memang terdapat usaha-usaha untuk menjaga serta mendalaminya dari kalangan terpelajar terutama dikarenakan tantangan atas konteks setempat/zaman.

  7. A. Saya menduga bahwa cerita sejarah Islam yang jamak dikenal orang itu 80% fiktif. Karena, saya pernah mendengar pendapat dari Dr. Haidar Bagir, bahwa sejarah Islam yang senyatanya adalah lahir secara politis. Agama ini diturunkan sebagai penentang kaum kapitalis Quraish yang pada zaman itu benar-benar jahat. Mereka telah berbuat zalim dengan kekuasaannya. Memanfaatkan ka’bah sebagai tempat suci untuk memungut pajak yang mahal.
    Sehingga, istilah kafir itu bukan perkara teologis. Tapi, politis. Agama Islam diturunkan sebagai agama perlawanan untuk para kapitalis jahat dari bangsa Quraisy. Entah mengapa, cerita sejarah Islam yang berkembang di masyarakat justru cerita yang kental sekali dengan cerita mukjizat dan sentimen teologis.
    B. Menurut saya, kesepakatan itu terjadi karena kepentingan segelintir orang yang memang ingin memanfaatkan ajaran agama Islam sebagai dalih. Ya, bisa jadi adalah para politikus yang ingin memanfaatkan agama ini di zaman itu. Seperti di awal, agama islam turun sebagai agama politis. Bisa jadi cerita memang disepakati untuk menghilangkan makna politis ajaran agama Islam. Dan akhirnya terbukti, cerita sejarah Islam yang sekarang bisa jadi alat politik yang paling ampuh untuk melanggengkan beberapa kepentingan. Istilah kafir misalnya, melulu disematkan pada mereka yang berbeda iman. Padahal, jika merujuk pada sejarahnya, nabi pernah menikahi seorang gadis kristen koptik, bernama Mariah Al-Qibtiyah. Ini bisa dijadikan asumsi bahwa penyematan label kafir karena berbeda iman itu keliru.
    Namun, sayangnya, ada kesepakatan-kesepakatan segelintir orang yang membuat anggapan ini menjadi absah.

    Rakhmad Hidayatulloh Permana
    Penulis lepas
    Subang
    @rakhmadpermana
    mercyrahmad@gmail.com

  8. a. Peluang sejarah islam yang dipercaya itu fiktif menurut gua sih 75%, kenapa? Sebenernya gua hampir 100% nganggep sejarah islam yg dipercaya orang2 tuh fiktif, tapi karna gua sendiri belom pernah mempelajari sejarah islam secara detail dan gua juga bukan dari keluarga muslim, jadi gua anggep kemungkinannya jadi 75%. Kenapa gua bisa yakin itu fiktif, karna gua berkaca sama agama yang dulu gua anut yaitu Katolik. Salah satu contoh sejarah katolik yang bahkan diakuin katolik sendiri itu fiktif adalah natal,tanggal 25 desember yang diakui sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Dimana tanggal tersebut berasal dari adaptasi dari kepercayaan yang dianut oleh kaum pagan dimasa itu yang merayakan hari lahirnya Matahari atau dewa Matahari.

    b. Kenapa bisa terjadi kesepakatan, menurut gua pribadi kesepakatan itu terjadi karna antara orang yang satu dengan yang lain punya kepercayaan yang sama. Disaat orang yang satu dengan yang lain merasa ada dalam satu circle yaitu kesamaan(dalam konteks ini agama) mereka akan saling membela dan membantu agar lebih banyak orang dapat percaya apa yang mereka percaya. Dan hanya sedikit orang yang bisa seperti penulis buku diatas yang bisa objektif dalam mengkaji agama, kebanyakan orang akan membuat dirinya dan apa yang dia percaya terlihat benar dengan cara apapun.

    Nama : Rabata Bayu
    Status : Mahasiswa
    Asal : Jakarta
    IG : @rabatabayy
    Email : rabatabayu@yahoo.com

  9. (a) saya tidak percaya dan bagi saya tidak mungkin bahwa sejarah umum tentang islam itu fiktif. Peluang untuk fiktif nya adalah 0 persen. Namun sy tidak menampikan bahwa bisa saja sejarah tentang islam itu dalam perjalanan nya mengalami distorsi dan bias. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal, pertama sejarah itu memiliki rentang waktu. Sejarah mengalami perjalanan panjang untuk bisa sampai ceritanya pada kita saat ini. Perjalanan panjang itu bisa saja mempengaruhi keontetikan fakta dalam sejarah. Kedua, bisa saja karena ada kepentingan penguasa yg menginginkan jalan cerita dari sejarah sesuai dgn kehendak nya. Penguasa mendistorsi sejarah karena ingin menunjukan prestasi nya atau bahkan menyembunyikan aib aib nya. Sejarah menjadi alat politik penguasa. Ketiga, para saksi sejarah sebagai menutur sejarah adalah manusia biasa. Semua kekeliruan dalam mempersepsi serangkaian fakta bisa saja terjadi. Atau bahkam antara satu saksi sejarah dgn saksi lainnya bisa saja memiliki persepsi yang berbeda untuk sebuah fakta yg sama.

    (b). Karena sejarah umum tentang islam itu memang bukan fiksi tetapi kenyataan yg terjadi maka jd mungkin adanya kesepakatan bersama. Mereka semua adalah saksi terhadap peristiwa yg terjadi.

    Maaf mba klo jawaban nya tidak nyambung.. Hehe

    Satria Abimanyu, Psikologi, Bandung, kuliahkita123@gmail.com

  10. a] berapa peluang sejarah Islam yang dipercaya secara umum itu fiktif?
    Saya pikir peluang sejarah islam yang dipercaya secara umum itu fiksi adalah less than 5 %. Hal ini dilandasi dengan perbedaan metode pendekatan sejarah versi barat dengan metode para revisionis ( dalam Buku Muhammad Husain Haekal – Sejarah Hidup Muhammad, beliau menggunakan kata orientalis). Saya mengakui bahwa pemikir islam masih bertahan metode Asbabun Nuzul (Dalam versi Fred Donner dinamakan Deskriptif). Metode kesarjanaan islam ini menurut saya cukup kentara pada bagian pembahasan Kronologi (bagian ke-2 pembahasan buku ini) yang berbicara tentang sanad, diksi arab gundul dengan arab bertajwid dll. Memang kesan subjektifitas terkait metode ini cukup kental, bahkan berpotensi menimbulkan circular reasoning, tetapi yang menjadi landasan saya adalah Asbabun Nuzul tidak hanya berbicara soal bagaimana situasi saat wahyu diturunkan dalam bentuk ayat, akan tetapi lebih jauh berbicara soal jiwa zaman yang berkembang dalam suatu peradaban. Para revisionis (kebanyakan) saya pikir juga masih bertahan dengan metode perunutan dan penuturan sejarah yang mereka klaim sebagai metode lintas zaman, tanpa menghargai jiwa zaman yang berkembang dalam suatu masa yang sedang mereka teliti. Saya juga mempercayai berdasarkan hasil studi dan pengalaman saya bahwa human error akan selalu melekat dalam suatu eksperimen. Namun berkaca dalam studi Muhammad Husain Haekal (beliau juga memakai metode penelitian versi revisionis dalam melakukan penelitian tentang sejarah Muhammad) bahwa kanonisasi yang dimulai dari zaman Abu Bakar r.a, hingga ditutup pada zaman Usman bin Affan r.a dengan membakar semua bahasa dalam versi lain tafsir Al-Quran selain Arab Quraisy, serta hal yang sama dilakukan oleh versi terbitan Kairo tahun 1924, dengan alasan yang sama dilakukan oleh Usman, membuat betapa berharganya suatu hasil penelitian dan kesimpulan eksperimen lewat metode Asbabun Nuzul demi menjaga orisinalitas Al-Quran sebagai pedoman. Kurang dari 5 % merupakan angka maksimal yang dapat saya berikan, demi menyatakan bahwa peluang fiksi suatu sejarah islam itu terjadi karena keterbatasan media dan sulitnya komunikasi, dan saya anggap itu masuk dalam kategori human error.

    [b] bagaimana bisa ada kesepakatan dalam banyak hal jika memang itu fiksi?
    Kesepakatan yang terjadi dalam konteks sejarah islam saya pikir juga dilandasi oleh jiwa zaman yang terus melahirkan semangat untuk mempertahankan suatu cerita yang nantinya berguna sebagai unsur dari sejarah islam itu sendiri. Konsepsi metode penelitian sejarah kaum revisionis biasanya bersifat awal dan akhir, suatu ajaran sejarah dapat diklaim sebagai kebenaran sejarah apabila belum ada penelitian yang membantahnya atau merevisinya. Namun metode para sarjana islam untuk menentukan ukuran sejarah islam yang benar, berangkat dari metode Asbabun Nuzul, melihat bahwa yang terbaik dalam melihat sejarah itu adalah orang2 yang mengalami zaman tersebut, dan menjadi tanggung jawab mereka untuk menuturkan sejarah seoriginal mungkin. Di satu sisi dapat dilihat bahwa inilah kelemahan metode Asbabun Nuzul, namun dilain sisi, kebenaran atau originalitas sejarah islam apabila dilihat sebagai dasar awal hukum fiqih yang dilanjutkan dengan ijtihad, menyebabkan metode inilah yang kesinambungan antar zaman. Maka wajar apabila banyak kesepakatan yang timbul dan terkesan seragam dalam banyak hal serta dapat diterima oleh akal dan hati dalam sejarah islam.

    Fathryan, ijazah terakhir SMU, mahasiswa akhir di Fakultas Hukum, asal Padang
    @fathsick
    Fathryanasnaldi@gmail.com

  11. A. Cukup yakin bahwa islam yang saat ini tersebar di masyarakat umum merupakan fiktif, cukup menarik apabila membaca bagian ke-3 dan ke-4 dimana kanonisasi yang kamu jelaskan membahas bagaimana isi dari kitab suci sendiri tidak jelas valid atau tidaknya karena seperti alat musik yang membutuhkan pembanding dari alat musik lainnya, begitupun sebuah kitab suci. Kemudian bagian stuktur kebahasaan yang mungkin banyak menyebabkan kekeliruan bagi pembacanya, bahkan pergeseran makna yang akan berakibat panjang apabila telah melalui tradisi dan zaman yang berbeda beda. Sehingga, mungkin cukup yakin bahwa islam yang saat ini berkemungkinan sangat kecil akan sama dengan ajaran Muhammad.

    B. Kesepakatan yang sama walaupun berasal dari zaman dan wilayah yang berbeda, sebenarnya baru terpikirkan setelah membaca tulisan itu, tapi bukankah setiap kaum ngin dianggap benar oleh kaum lainnya, mungkin ini alasan terkuat mengapa setiap naskah saling membenarkan satu sama lain, cukup skeptis dengan yang satu ini, what an interesting argument 🙂

    Izhar Auliya
    Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM
    Kota Bogor
    @izhar_auliya

  12. A. Peluang bahwa sejarah islam yg dipercaya secara umum adalah fiktif, dalam persentase menurut saya adalah 80%, dan segala kisah fiktif ini terpelihara dengan ancaman yg ada di dalam rukun iman, yaitu di anggap kafir jika tidak mengimani / mempercayai segala yg ada di rukun iman yang salah satu isinya adalah wajib mengimani / mempercayai alquran.

    B. kesepakan di buat karena latar belakang kepentingan yang sama.

    Toufik kurniawam
    Teknik informatika
    Batam
    @tofikurnia
    Fii.kurnia@gmail.com

  13. 1. Subscribe email aktif Anda di blog ini, done!
    2. Follow Instagram @Cittairlanie, please confirm!
    3. Tulis jawaban atas pertanyaan di kolom komentar. Sertakan nama, latar pendidikan/profesi, kota asal, username Instagram, & email aktifnya,
    3.a. 70-80% probably. the human did invented paper long before 632CE era, but i don’t think the arabs already getting used to it. so, cerita getok-tular, sedikit banyak pasti membuat perbedaan informasi dari titik awal hingga akhir. entah itu dengan penambahan mau pun pengurangan. redundansi, entropi, dan reduksi bisa saja terjadi dalam setiap jenjang fase perjalanan informasi. apa lagi dalam rentang ratusan tahun. jaman sekarang saja masih ada dan banyak kok manusia yang menyembah tuhan. padahal manusia sendiri yang menciptakan tuhan. lol
    3.b. bukan kesepakatan, tetapi dasar otak primitif manusia yang tidak mampu untuk mencerna logika dan turunannyalah yang membuat itu bisa terjadi. sesuatu (fenomena) yang tidak terjelaskan oleh fase perkembangan pikiran manusia pada jaman itu, akan diterima oleh manusia sebagai suatu kejaiban. maka dalam agama hindu ada banyak dewa. setiap fenomena (alam) ada dewanya. kalau thor dan kawankawannya sudah tidak dipercaya (tonton the American Gods), kapan giliran entitas dewa yang lain? apakah perlu dibuatkan game untuk mereduksi sakralitas entitas dewa² tersebut (seperti Fights of Gods versi Steam). karena unexplained phenomenon yang dianggap supranatural tersebut tidak dapat dijangkau oleh sebagian otak primitif manusia hingga saat ini, maka muncullah blind-faith. percaya begitu saja, tanpa perlu mencari tahu dengan baik.
    4. Periode kuis: 09-09-2017 s.d 20-09-2017 (23.59 WIB), done 09/10/2017 22:40!
    5. Good luck, for you too!!

  14. A. Kalau dari sejarah islam sendiri kemungkinan fiksinya sekitar 30% , kenapa saya menulis angka yang relatif kecil ?
    karena pada tahun 610an, arab merupakan salah satu tempat perdaganga, terhubung dengan laut merah dmana laut merah adalah penghubung antara afrika kemudian melewati darat untuk naik ke syria / persia .. Jadi berita tentang muhammad pasti sering terdengan dan tersebar oleh pedagang2 ..
    kemungkinan fiski sbesar 30% saya ambil dari ketika islam berkuasa, tentu akan ada propaganda yg di lakukan oleh penguasa..

    B. Propaganda yang di sebar lewat penaklukan2 wilayah2 oleh khilafah

    Nama: Greg Latupeirissa
    Latar pendidikan: SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun
    Profesi: pengangguran
    Kota asal: Bekasi
    IG: grreeegggg (kalau gk salah)

  15. (a) Peluangnya 0%, karena sejak disusunnya mushaf dizaman Sahabat sampai sekarang tidak ada perubahan dari segi isi Alquran, karena terjaganya kemurniannya & banyaknya perawi yg menjaga keontetikan Alquran.

    (b)Kesepakatan bisa terjadi, apabila muncul nabi2 palsu yang mengaku sebagai utusan Tuhan. dan berusaha merubah atau membuat ayat2 baru.

    Nama : Andi Taufan
    Pendidikan : Strata Satu
    Kota Asal : Mamuju, Sulawesi Barat
    Username : stere_ophan_ics
    email : provocative.proactive@gmail.com

  16. a. seberapa besar orang percaya bahwa sejarah islam itu fiktif menurut saya peluangnya masih sedikit mengingat kondisi orang islam di Indonesia masih sedikit mengerti tentang sejarah islam jadi lebih besar untuk tetap percaya akan sejarah islam itu memang benar :adanya dan lagi pembelajaran sejarah agama islam di Indonesia hampir sama mulai dari saya kecil sampai remaja saat ini min

    b. adanya kesepakatan kesepakatan tersebut menurut saya hal tersebut terjadi karena banyak sumber sejarah islam dari berbagai sumber yang dimana tiap sumbernya meyakini bahwa benar adanya sejarah itu benar ada dan karena banyak versi sumber mungkin diadakannya kesepakatan guna menyeragamkan sejarah agar dapat diterima umum
    maaf yaa min kalo banyak ngaconya saya juga baru belajar soalnya.hehe

    nama : Tunggal Ramdhani
    status : Mahasiswa
    asal : Boyolali
    IG : @sijitunggal
    email : ramdhanitunggal@gmail.com

  17. a. seberapa besar orang percaya bahwa sejarah islam itu fiktif menurut saya peluangnya masih sedikit mengingat kondisi orang islam di Indonesia masih sedikit mengerti tentang sejarah islam jadi lebih besar untuk tetap percaya akan sejarah islam itu memang benar adanya dan lagi pembelajaran sejarah agama islam di Indonesia hampir sama mulai dari saya kecil sampai remaja
    b. adanya kesepakatan kesepakatan tersebut menurut saya hal tersebut terjadi karena banyak sumber sejarah islam dari berbagai sumber yang dimana tiap sumbernya meyakini bahwa benar adanya sejarah itu benar ada dan karena banyak versi sumber mungkin diadakannya kesepakatan guna menyeragamkan sejarah agar dapat diterima umum
    maaf yaa min kalo banyak ngaconya saya juga baru belajar soalnya.hehe

    nama : Tunggal Ramdhani
    status : Mahasiswa
    asal : Boyolali
    IG : @sijitunggal
    email : ramdhanitunggal@gmail.com

  18. Nama : sakau
    Pendidikan : semester 7 s1 psikologi
    Kota asal : balikpapan
    Id ig : @shakhosea
    Email : Shak_kah_hoe@yahoo.com
    Jawaban
    A. Bagi saya kemungkinan nya 50%. Mengapa 50%? Karena 50% berarti setengah/ragu. Saya pribadi cukup meragukan mengenai agama-agama maupun nabi dan teman-temannya. Baik itu muhammad, isa (yesus), dan lainnya. Karena menurut saya, agama hanya sesuatu pedoman yang diciptakan manusia untuk menjadi lebih baik dengan menghindari kejahatan2 serta melakukan kebaikan (jaman dulu). Pada zaman nabi (semua nabi), kita (manusia sekarang) belum ada yang lahir dan melihat secara langsung mengenai mujizat dan cerita yang kita dengar. Aneh rasanya kalau kita percaya 100% dengan apa yang tidak kita lihat. Manusia secara alami memiliki sifat penasaran, curiga, serta lainnya. Jadi sangat wajar jika manusia mempertanyakan segalanya termasuk agama dan sejarahnya. Oleh karena itu agama disebut sebagai “kepercayaan” dimana kita hanya percaya meski tidak melihat san merasakan. Beda dengan perjuangan kemerdekaan, meskipun tidak melihat dan merasakan secara langsung, tapi kita mendengar dari banyak sumber terpercaya (veteran yang masih hidup, keluarga yang dulu merasakan,dsb). ya, untuk itu saya mengatakan bahwa kemungkinan 50% sejaeah agama adalah fiktif dan tidak benar.

    B. Untuk pertanyaan ini, jujur saya juga cukup bingung. Dimana jika sejarah agama adalah fiksi, bagaimana banyak orang bisa mengatakan hal yang serupa? Hanya memiliki perbedaan nama (panggilan) namun secara garis besar memiliki cerita yang sama. Jika dipikir, sangat sulit untuk membuat suatu kebohongan pada zaman itu (tampa media sosial) menjadi suatu yg di percaya semua orang. Namun, pada zaman itu, banyak hal yang terjadi yang tidak masuk dalam logika manusia, sama halnya seperti perdukunan. Tidak masuk akal manusia namun benar adanya. Tanpa berniat menyinggung, Mungkin, pada zaman itu nabi adalah orang yang di percaya karena memiliki kepintaran, pengetahuan, serta kekuatan yang tisak semua org miliki (sama seperti dukun) oleh karena itu banyak yang datang dan percaya dengan apa yang dikatakan. Jika manusia sudah percaya, maka manusia akan menyenarkan berita dan dengan bersikeras mempertahankan kepercayaannya. Mungkin itu yang mendasari sejarah agama. Dari mulut ke mulut manusia zaman itu bercerita mengenai kemampuan nabi, kehebatan yang nabi mampu lakukan dan sebagainya. Semakin lama semakin menyebar hingga sekarang. Untuk tujuan? Banyak hal. Mungkin, mempunyai pengikut, terkenal, atau lainnya. Tapi satu yang menurut saya menjadi tujuan utama, yaitu untuk membuat manusia zaman itu melakukan apa yang ia inginkan. Yang diinginkan bisa merupakan hal baik maupun buruk, tapi menurut cerita yang saya dengar, nabi semua baik. So, mungkin nabi ingin membuat manusia zaman itu mengikuti keinginan nya untuk berbuat baik.
    Mungkin bukan kesepakatan. Saat orang ingin terkenal, bagaimana cara untuk menjadi cepat terkenal? Dengan mengikuti orang terkenal juga. Dengan cara ini, hanya melanjutkan perbuatan yang sudah dilakukan nabi sebelumnya dan mengikuti alur cerita nabi sebelumnya, secara otomatis manusia akan berpikir bahwa ia adalah penerusnya dan manusia akan kembali mengikutinya.

    Semua jawaban yang saya tulis merupakan pemikiran saya dan saya tidak memiliki niatan untuk menghina, merendahkan, mengejek, atau menyinggung pihak ataupun agama manapun. Terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *